nellysapta

nellysapta
kering berseri (rimbo pengadang-lebong-bengkulu 2014)
Tampilkan postingan dengan label perjalanandinas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanandinas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juli 2016

Berwisata ke Lombok? Sekalianlah ke Kampung Sasak 'SADE'

Salah satu efek samping dari perjalanan dinas adalah saya bisa sekalian berkunjung ke lokasi wisata di daerah yang sedang didatangi. Yaa...kalo kebetulan ada waktu dan kesempatan aja. Gak memaksakan juga sih... Misalnya ketika ditugaskan menemani peserta daerah (Festival Hortikultura 2015) untuk jalan-jalan ke daerah wisata di sekitaran lombok, Kampung Sasak 'SADE' menjadi salah satu tujuan dalam daftarnya. Jadilah saya ikut-ikutan hehehe...

Katanya, kalo ke NTB tapi belum ke kampung ini, rasanya belum lengkap. Emang apa bagusnya? Tergantung darimana kita mau menikmatinya *dibikin ribet dah bahasanya xD* Sebenarnya kampung ini ya kayak kawasan pemukiman biasa yang ditinggali oleh orang asli sasak. Sebelum ke sini, saya diceritakan bahwa warga kampung sangat menjaga orisinalitas kampungnya, mempertahankan beberapa kebiasaan dan adat yang ada... selebihnya... ya 'biasa saja'. Ketika saya berkunjung kesana, ya saya hanya membuktikan cerita tersebut. Benar! ^^

Namanya juga bukan wisata hura-hura, tetapi wisata sejarah. Tentu kita harus menilik keistimewaannya dari sisi tersebut juga. sebelumnya, ini dia beberapa dokumentasi yang sempat saya ambil. Oia, kampung ini terletak di Desa Rimbitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Prov. NTB. Kalo dari bandara, keluar trus ke arah kiri ;B sekitar 10 km. Yang sedang galau bisalah dari bandara lari-lari nyampe Kampung Sasak haa.... *biar energinya kesalur gituhh*

sambutan dari perwakilan warga kampung sasak

Kain tenun yang dijual di Kampung Sasak

Hampir setiap rumah di kampung sasak berjualan kerajinan khas lombok, semisal kain tenun, selendang tenun, gelang, sandal, atau gantungan kunci. Untuk kain, karena proses tenun yang lumayan memakan waktu dan memerlukan skill serta ketelitian yang baik, maka harganya cukup tinggi. Satu kain tenun ukuran 1x2 m persegi dihargai dengan 250-300rb. Kalo mau mencoba, bisa saja menawar. IMHO, jangan keterlaluan tapi yaa... 

Salah seorang wanita di Kampung Sasak sedang menenun kain

Jadi teringat ketika ke perkampungan Baduy di Banten... Umumnya wanita di Kampung Sasak juga diajari menenun. Kegiatan tersebut akan berguna untuk membantu menopang keuangan keluarga mereka. Alat tenun yang digunakan juga masih sederhana. *liatnya kayak gampang banget, pas nyobain...beuh..*

Ngobrol dikit sama nenek yang sedang memintal benang, ikutan nyobain juga ^^

Sebagian besar warga Kampung Sasak beragama Islam. Masjid kampungnya bagus lhoo.. Saya juga bertemu dengan anak-anak yang sedang belajar mengaji. Hiks, memori sewaktu kecil terkuak sudah...sayangnya waktu kecil saya bandel, belajar sih belajar tapi iseng ma temen jalan terus *aaaak





Foto-foto masjid di Kampung Sasak, sempat pose juga *teteup*

Ciri khas bangunan di Kampung Sasak adalah atap dan penataan ruangan. Atapnya terbuat dari jerami padi yang dikeringkan. Bentuknya khas, ntar deh, lihat aja foto terakhir hehe... Bentuk atap yang khas itu uga sering menjadi motif batik Lombok. 

Selain masjid, sepertinya lantai di rumah warga tetap beralaskan tanah. Tapi kinclong nian. Pssttt... Mereka ngepel bukan dengan air atau kelapa, tapi dengan kotoran sapi! Itu adalah salah satu kebiasaan dari duluuuuu... tapi rumahnya gak bau kotoran. Hmm... Saya gak nanya lebih jauh sih, jadi gak bisa cerita banyak tentang hal itu. Yang jelas, secara berkala mereka mengepel rumahnya dengan kotoran sapi.






Contoh isi rumah warga di Kampung Sasak

Hmm.. apalagi ya.. Ceritanya sampai situ aja... saya bagi beberapa pengalaman pandangan mata lagi deh yaa... 





Yang tersisa adalah, kita sering perlu mengambil hikmah dari pengalaman masalalu orang-orang terdahulu, hal-hal baik kita pertahankan, sedang yang buruk ayolah kita usahakan untuk ditinggalkan. Toh pembangunan itu kan menuju hidup yang lebih baik, bukan hanya untuk kita tapi juga generasi kita. Move on itu gampang-gampang susah tergantung bagaimana kita menghayati dan menguatkan diri untuk menjalankan rencana yang lebih benderang. Hei..hei.. ini ngapa jadi kemana-mana nyimpulinnya? haha..kebiasaan out box wkwk.

Nah, bagi yang suka wisata sejarah dan sudah berencana mau ke Lombok, bisa sekalian datang Kampung Sasak 'SADE' ini ya ^^

Gak sempat foto bareng, yahh..dapat yang rada maksa gini haha...

Senin, 07 Desember 2015

sekedarenung

perjalanan yang tidak berjeda
lagi-lagi-lagi
meninggalkan kesayangan
berpisah sejenak
untuk bertemu kembali setelah usai menyelesaikan urusan
yang sebenarnya mudah
tapi ternyata labirin

pagi buta atau jelang malam
disambangi
mau saja

penatnya tuh di sini
:tengkuk

bahagianya tuh ada saja
kesalnya juga ada : tapi tidak perlu dirisaukan panjangpanjang
ceritanya lebar
jadi tau beberapa hal
tidak banyak
karena sebagian besar hanya keluh

manusia manusia...
syukurnya jangan dihentikan
senyumnya jangan dihilangkan
hikmahnya jangan dicampakkan
kerjanya jangan malasmalasan

kelam
puing. nguing.
berpadu riuh
tapi merupa irama yang asa teduh

-argojati 17:15/19:58-

Selasa, 15 September 2015

Sawunggalih Pagi, Terasa Cepat

Ya. Sawunggalih pagi. Kereta yang saya dan rekan pilih untuk mengantarkan kami sampai ke Purwokerto. Menurut saya, kereta ini cukup nyaman untuk kelas bisnis. Jalannya juga terasa cepat. Waktu tempuh menurut jadwal, adalah dari pukul 08:15 hingga 13:27 waktu indonesia barat, 5 jam lebih.

Tadinya saya kira kereta ini bergandegan dengan kelas ekonomi. Ternyata tidak. He he.

Harap maklum agak ndeso, jarang nyicipi berbagai jenis kereta. Oleh karena beberapa kali bertugas di daerah yang lebih enak dijangkau kereta aja, jadi memilih kereta. Kesempatan, jadi bisa merasakan beberapa jenis kereta. He he.

Tiket dan bawaan

Isi kereta hampir sama dengan kelas bisnis umumnya. Kursi panjang yang bisa diubah posisi. Tidak ada televisi. Kalo di kelas bisnis Cirebon Ekspress ada.

Sy duduk di kursi 5C, tapi ternyata terlalu dekat dengan AC. Ya, AC yang digunakan bukan AC sentral. Model AC rumahan aja gitu.. Karena kedinginan dan ada gak enak khawatir masul angin *lagi lagi ndeso bianget ki rek* jadilah setelah pemeriksaan tiket, kami bergerilya mencari tempat duduk yang relatif aman dari terpaan angin AC langsung. Eits.. Tenang aja. Sudah diizinkan kondekturnya kok: boleh pindah ke tempat duduk yang kosong di gerbong manapun, asal dilakukan setelah pemeriksaan tiket. Saya sampe hapal nama petugasnya: Ragil. 

Sawunggalih pagi ini berakhir di stasiun Kutoarjo. Pos pemberhentiannya antara lain di Cirebon, Purwokerto, Kroya, ....., ..... 

Sesampainya ke Purwokerto, kami akan melanjutkan perjalanan ke Banyumas. Sebenarnya ya sama saja sih, toh Purwokerto adalah lokasi administratif Banyumas :))

Sip deh, semoga host fruit survei lalat buah dan verifikasi laboratorium pengamatan hama penyakit bisa dijalankan dengan baik. Agar lebih menyenangkan, tugas begini memang harus disertai dengan menyetel kondisi hati seakan sedang bertualang ha ha. 

Sukses untuk kita semua!

Senin, 31 Agustus 2015

(Trip DL) Argo Muria ke Pekalongan

Kali ini kembali melakukan perjalanan dinas menggunakan kereta. asik asik asik..

ARGO MURIA
kelas eksekutif menuju Pekalongan. Baiklah kita cicip heheu..
Saya berangkat pada tanggal 20 Austus 2015, dari stasiun Gambir. Ya iyalah, memang stasiun Gambir diperuntukkan bagi kereta kelas bisnis dan eksekutif. Kalo kelas ekonomi, pasti saya ke Stasiun Senen xD

Duduk di 12 B, gerbong 2.
Lumayan, posisi agak depan sehingga bisa cukup jelas menonton tv :b


TV kereta

Yah.. dia selfi 

Berbeda dengan Cirebon Ekspress, menurut saya kereta Argo Muria agak kasar jalannya. Asa mual. Laju kereta tidak begitu mulus. Padahal harga lebih mahal heuu...

Colokan listrik stand by digunakan untuk mencharge HP sepanjang perjalanan, kaki ditopang dengan nyaman. Sambil baca majalah REL ;b
Isi kereta, bersih. Toilet bersih. Sip deh :)

Kaki siapa itu? #salahfokus

Majalah REL, majalah kereta *apasih*

Siangnya, saya tiba di stasiun pekalongan. Hm...bersih dan cukup luas. Ada ruang menyusuinya juga lho... sayang saya tidak mengambil gambarnya dengan fokus. 

Ruang menyusui di bagian ujung kiri

Arah Jakarta (dah mau pulang aja...kerja dulu woiiihhh)


Sekian ulasan gak lengkap sama sekali ini. Cuma ingin menyimpan foto-foto itu aja, biar gak menuhin memeori HP xD

Minggu, 15 Juni 2014

Budidaya Stroberi di Korea Selatan (1)


Stroberi yang merupakan tanaman asli Chili (Amerika Selatan) sudah sejak lama dikembangkan di Indonesia. Selain dikonsumsi segar, stroberi juga banyak dijadikan makanan olahan seperti sirup, selai, manisan atau bahan tambahan makanan lain. Varietas stroberi introduksi yang berkembang di Indonesia adalah Osogrande di Purbalingga, Selva di Karanganyar, Earlibrite (Holibert) di Garut, Ciwidey Bandung, Rosa Linda, Sweet Charlie, Aerut, dan Camarosa di Bedugul Bali, Dorit, Lokal Berastagi dan California di Berastagi, Chandler di Bondowoso PTPN XII, serta Lokal Batu di Batu (sumber: Balitjestro).

Karena memerlukan temperatur rendah, stroberi di Indonesia sebaiknya dibudidayakan di daerah dataran tinggi. Selain itu, stroberi dapat tumbuh dengan baik pada daerah dengan curah hujan 600-700 mm/tahun, lama penyinaran cahaya matahari antara 8–10 jam setiap hari, kelembapan udara 80-90%, dengan pH 5,4 – 7,0, dan ditanam pada tanah liat berpasir, subur, gembur, mengandung banyak bahan organik, tata air dan udara baik. 

Daerah sentra stroberi di Indonesia antara lain berada di Jawa Barat (Sukabumi, Cianjur, Cipanas dan Lembang), Jawa Timur (Batu) dan Bali (Bedugul). Namun, seiring dengan semakin meningkatnya permintaan pasar, usaha stroberi secara komersial telah diusahakan di beberapa daerah lain, seperti Banyuwangi, Magelang, dan Purbalingga (Balitjestro, 2013). 

Saat bertugas di Korea Selatan pada November 2012 lalu, salah satu pertanaman yang sempat saya kunjungi adalah stroberi. Dalam hal manajemen budidaya hingga pasca panen, ada beberapa hal menarik yang bisa disharing untuk petani stroberi di Indonesia.
Di Korea Selatan bagian utara, tepatnya di kawasan Goyang, stroberi ditanam dalam screen house/plastic house. Luas pertanaman mencapai 16.528,9 m2 (±104.000 batang stroberi). Pertanaman ini dikelola oleh 6 (enam) petani yang tergabung dalam suatu asosiasi mandiri yang mendapat dukungan dari pemerintah setempat, yaitu Goyang Strawberry Agricultural Association. Total petani yang tergabung dalam asosiasi ini adalah 20 orang.
 
Benih yang digunakan dalam pertanaman stroberi tersebut berasal dari sumber benih yang sudah diregistrasi pemerintah. Air yang digunakan juga benar-benar merupakan air bersih. Petani menanam stroberi pada media cocopeat yang dikombinasikan dengan pupuk padat maupun cair. 
 

Mengingat Goyang merupakan daerah subtropis, maka pertanaman stroberi dilengkapi dengan peralatan penunjang yang cukup canggih. Petani Korea dilengkapi beberapa alat pada lokasi tertentu di dalam screen house/plastic house seperti pengatur suhu (kipas),  power supply untuk menyiram tanaman, dan suatu alat pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Dengan demikian, setelah proses penanaman berlangsung, selama pemeliharaan tanaman, petani cukup melakukan kontrol utama dari alat yang ada. Misalnya, pengaturan suhu lewat termometer ruangan, kipas, ataupun sistem buka-tutup ventilasi ruangan; atau penyiraman otomatis yang sudah diatur melalui selang-selang air pada tempat penanaman. Tetapi, proses sanitasi pertanaman tetap dilakukan secara manual.

Petani stroberi di Goyang menggunakan pupuk alam (berbentuk padat) yang langsung dicampur dengan media cocopeat dan pupuk cair dengan takaran dan jenis sesuai dengan rekomendasi pemerintah setempat. Pemberian pupuk cair melalui selang yang sudah tersedia di masing-masing rak penanaman.

Untuk pengelolaan OPT, petani hanya menggunakan suatu alat untuk pengasapan dengan Belerang. Tujuannya adalah untuk mencegah timbulnya hama, terutama tungau dan penyakit stroberi. Pengasapan dilakukan setiap hari selama 1 (satu) jam pada waktu malam hari dan screen house/plastic house dikondisikan tertutup. Selama bertanam stroberi dan melakukan pengasapan tersebut, petani mengaku belum pernah mengalami kendala berarti selama produksi. Stroberi yang dihasilkan cukup mulus dan tidak banyak mengalami masalah OPT. Dengan kata lain, pencegahan OPT stroberi dilakukan sejak awal tanam, dimana metode penanaman dan sanitasi lahan benar-benar dikelola dengan baik. Hal ini secara atidak langsung menekan potensi OPT.

Kualitas stroberi ditentukan oleh rasa (manis-agak asam-asam), kemulusan kulit dan luka mekanis akibat benturan atau hama-penyakit. Untuk proses pemanenan, petani memetik, melakukan sortasi dan grading serta langsung memasukkan dalam media packing (berupa plastic box dan kardus kertas). Stroberi yang sudah dipacking tidak disimpan di Cold Storage, tetapi langsung dikirim ke lokasi konsumen atau diekspor melalui bandara Incheon (waktu tempuh ke bandara adalah 40 menit). Hal ini menjadi satu poin yang membantu petani karena buah tidak tersimpan dalam waktu lama (baik itu karena faktor jarak tempuh maupun halangan lain) dan lebih efektif dalam manajemen kerja. Pengiriman stroberi dilakukan menggunakan alat angkut berpendingin.

 
Di Indonesia, budidaya stroberi lebih banyak diintegrasikan dengan bidang pariwisata atau lebih dikenal dengan wisata agro stroberi. Pada lahan wisata agro, biasanya stroberi dengan sistem 1 tanaman dalam 1 polybag. Secara umum, budidaya stroberi dilakukan oleh petani pada bedengan-bedengan yang dilindungi mulsa plastik dengan tujuan untuk mengontrol suhu tanah, mengurangi serangan OPT ataupun buah busuk.

Berbeda dengan di Korea Selatan, belum banyak petani yang membudidayakan stroberi dalam screen house/plastic house karena biaya yang dibutuhkan cukup besar. Memang, terdapat beberapa kelebihan dari penggunaan screen house/plastic house untuk budidaya stroberi, diantaranya dapat meningkatkan produksi dan kualitas karena sedikitnya serangan hama dan penyakit. Disamping itu, tidak banyak mendapat gangguan dari faktor alam (misalnya hujan) dan efisiensi penggunaan pupuk. Tetapi, di Indonesia, pengembangan budidaya stroberi di lahan terbuka masih cukup aman dengan syarat memperhatikan kondisi kesesuaian agroklimat, sanitasi lahan, dan pengelolaan pertanaman yang terpadu.

Stroberi produksi Indonesia cukup mampu bersaing di pasar lokal maupun luar negeri. Lagipula, petani dapat menyesuaikan pilihan varietas yang ditanam dengan selera pasar yang dituju. Untuk pasar luar negeri, misalnya Amerika, umumnya lebih menyukai stroberi berukuran besar, sedangkan untuk pasar lokal dapat dibagi berdasarkan kepentingan pengolahan: pembuatan selai, sirop, penghias kue atau makanan segar. 

Belajar dari petani stroberi di Korea Selatan, kita diingatkan untuk memperbaiki koordinasi antara petani dengan pemerintah. Pemerintah membuat arahan standar operasional budidaya dan petani mengikuti arahan tersebut dengan baik, walaupun tentu saja dalam praktiknya terdapat evaluasi.


ditayangkan juga di sini.

MENYIMAK KASUS BUSUK BATANG BUAH NAGA DI KEPULAUAN RIAU 2012

Buah naga merupakan buah eksotik dari Amerika yang mulai banyak dikembangkan di negara-negara Asia seperti Vietnam, Malaysia, ThailandTaiwan, Philiphina, termasuk Indonesia. Perpaduan rasa buahnya yang manis-asam dengan tekstur yang lembut dan watery (banyak mengandung air) membuat buah ini semakin digemari, terutama untuk dibuat jus buah, sebagai campuran dalam es buah, ataupun sekedar pelepas dahaga. Pasar buah naga masih dikuasai oleh Vietnam dan Thailand. Namun, kedua negara itupun hanya mampu memenuhi ± 50% permintaan pasar dunia.

Budidaya buah naga terbilang mudah dan tidak memerlukan keahlian tertentu, tetapi tetap membutuhkan ketelatenan dan keseriusan. Buah naga dapat berkembang dengan kondisi tanah dan ketinggian lokasi apapun, namun tumbuhan ini cukup rakus akan unsur hara. Di Indonesia, sentra produksi buah naga diantaranya Riau (Siak, Kota Pekanbaru), Banten (Serang), Jawa Tengah (Karanganyar, Tegal), DI Yogyakarta (Bantul, Sleman) dan Jawa Timur (Lumajang, Malang, Banyuwangi, Ponorogo). Seiring berkembangnya pemasaran dan informasi mengenai pasar buah naga, banyak juga daerah yang turut mengembangkan budidaya buah naga, diantaranya di Kepulauan Riau.
 
Gambar 1. Kebun buah naga yang sehat, sesuai SOP GAP




Dalam berusaha tani buah naga, serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan salah satu kendala. Umumnya, OPT buah naga yaitu: kutu daun, kutu sisik, kutu dompolan, kumbang Protaetia impavida, semut merah, atau bekicot. Sedangkan yang banyak menjadi masalah bagi pertanaman buah naga yaitu penyakit busuk batang, bercak coklat, atau antraknosa. Selain itu, yang tidak kalah penting dan cukup mempengaruhi pertumbuhan buah naga adalah keberadaan gulma. Untuk itu, penting dilakukan sanitasi lahan secara rutin untuk membersihkan lahan dari gulma sekaligus memantau perkembangan OPT yang ada. 

Dilema Busuk Batang Buah Naga di Kepulauan Riau
Bibit buah naga yang dibudidayakan di Kepualaun Riau berasal dari Malaysia, yaitu jenis buah naga berdaging buah merah (Hylocereus polyrhizus)  var. Sabila Merah. Kemudian, petani memperbanyak sendiri.

Di Provinsi Kepulauan Riau, serangan OPT buah naga mulai merebak (outbreak) pada awal tahun 2012. Menurut laporan dari petani setempat, banyak tanaman yang mengalami penurunan produksi, terutama akibat terserang penyakit busuk batang dan antraknosa. Luas serangan penyakit di pertanaman buah naga, yaitu sekitar 28,5 ha di Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan dan 30 ha di Kecamatan Galang, Kota Batam. Berdasarkan hasil identifikasi Dr. Suryo Wiyono dari Klinik Tanaman IPB, patogen penyebab penyakit busuk batang buah naga di lokasi tersebut adalah Macrophoma spp.

Gejala Serangan
Tanaman yang terserang penyakit busuk batang menunjukkan gejala berupa bercak bertitik hitam pada ‘pelepah’ tanaman. Bagian yang berwarna hitam merupakan cendawan patogen kemudian lama kelamaan akan membusuk (biasanya basah) pada buah dan batang. Patogen ini (Macrophoma spp.) termasuk cendawan tular tanah (soil borne).
 
Gambar 2. Buah naga terlihat membusuk dengan titik kehitaman pada batangnya


Rekomendasi Pengendalian
Penetapan status OPT adalah hal yang sensitif dan penting sebelum melakukan pengendalian. Beberapa patogen sering menunjukkan gejala serangan yang sama. Oleh sebab itu, untuk meyakinkannya kita perlu melakukan identifikasi tanda penyakit (misalnya berupa hifa cendawan, sclerotium, eksudat bakteri) secara teliti. 

Rekomendasi pengendalian yang dapat dilakukan terhadap penyakit busuk batang di Kepulauan Riau:

  • Sanitasi bagian tanaman yang terserang. Alat untuk memotong harus dibersihkan dengan cairan Clorox (atau Bayclin 2%) sebelum dan sesudah digunakan. Bagian yang sudah dipotong tersebut harus benar-benar dimusnahkan dengan cara dibakar.
  • Pemupukan dengan menggunakan pupuk organik (terutama untuk meningkatkan kadar Ca dan K dalam tanah).
  • Pemberian mulsa organik, misalnya dengan jerami atau kompos plus Trichoderma, pada pangkal batang.
  • Isolasi tanaman, agar tidak terjadi penyebaran penyakit. Jika jumlah tanaman sakit di dalam suatu pertanaman lebih banyak daripada tanaman sehat, maka isolasi dilakukan terhadap tanaman yang masih sehat. Sedangkan jika sebaliknya (jumlah tanaman yang sakit lebih sedikit), maka yang diisolasi adalah tanaman sakit.
  • Bahan dan Alat
  • Cangkul
  • Arang sekam, yaitu sekam padi yang dibakar (tetapi tidak sampai menjadi abu)
  • Cara Pelaksanaan
  • Pilih tanaman yang akan diisolasi.
  • Lakukan penggalian lubang alur di sekeliling daerah perakaran sedalam ± 50 cm atau sesuai kondisi perakaran tanaman.
  • Masukkan arang sekam ke dalam lubang alur.
  • Meningkatkan kesuburan tanah sekaligus ketahanan tanaman dengan aplikasi Trichoderma sp. dengan cara sebagai berikut:
  • Dengan bahan dasar berupa biakan murni Trichoderma spp.


Caranya: 

  • Campurkan 1 petri biakan Trichoderma spp. (kerok lapisan atas yang terdapat biakan cendawan) ke dalam 1 liter air (campuran ini menjadi biang cairan semprot)
  • Ambil 250 ml biang dan masukkan ke dalam 10 liter air.  Campuran ini yang akan menjadi cairan semprot.
  • Direkomendasikan untuk menyemprotkan 500 liter cairan semprot ke           1 ha lahan pertanaman buah naga.
  • Dengan bahan dasar berupa biakan Trichoderma spp. di media serbuk gergaji
  • Campurkan 1 kg media Trichoderma spp. dengan 100 kg pupuk kandang. Aplikasikan sesuai rekomendasi.
  • Aplikasi Bubur California/Bubur Bordo bisa juga dilakukan selama kondisi memungkinkan. Jika tanaman sudah tumbuh besar dan populasi tinggi akan sulit dan tidak efisien. Hal tersebut berkaitan dengan struktur tanaman yang berduri dan licin.
  • Pengendalian dengan fungisida berbahan aktif mankozeb, zineb, atau probinep (yang berbau Cu/tembaga). Namun, perlu diperhatikan bahwa, sebelum melakukan penyemprotan dengan fungisida, tanaman terserang tetap harus dipangkas terlebih dahulu. Jika tidak, tindakan ini tidak efektif. Fungisida yang digunakan terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian.


Langkah-langkah di atas juga dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh cendawan tular tanah lain, seperti Fusarium sp.



Evaluasi bersama dari Outbreak Busuk Batang Buah Naga di Kepulauan Riau

Kejadian penyakit di Kepulauan Riau sekilas tampak seperti penyakit busuk batang biasa. Bahkan beberapa orang menyimpulkan penyakit tersebut disebabkan oleh Phytophthora spp. Kenyataannya, setelah diidentifikasi oleh pakar, penyakit busuk batang di Kabupaten Bintan dan Kota Batam, Kepulauan Riau disebabkan oleh cendawan Macrophoma sp. Ini menarik, mengingatkan kembali para insan yang bertugas di lingkup perlindungan tanaman untuk hati-hati dan teliti dalam menetapkan status OPT (misalnya mencakup jenis OPT, daerah sebar, kategori serangan).
Keberhasilan gerakan pengendalian OPT buah naga di Provinsi Kepulauan Riau adalah dengan melakukan gerakan secara terkoordinir dan serentak sehingga mengurangi potensi penyebaran penyakit ke tanaman atau daerah lain. Ini pun menjadi hal yang harus digarisbawahi oleh daerah lain yang mungkin mengalami kasus sejenis.



ditayangkan juga di http://ditlin.hortikultura.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=288:busuk-batang-buah-naga&catid=19:berita-terbaru

Senin, 02 Juni 2014

LALAT BUAH DI INDONESIA DAN STRATEGI PENGENDALIANNYA

Siapa yang tidak kenal dengan lalat buah? Sebagian besar masyarakat mengenal lalat yang dimaksud adalah lalat buah kecil-kecil (Drosophila melanogaster). Padahal yang berbahaya dan banyak menjadi masalah di pertanaman hortikultura, terutama untuk komoditas buah dan sayur adalah dari jenis Bactrocera spp. atau Dacus spp. dari Famili Tephritidae, subfamili Dacinae. Lalat Drosophila umumnya hadir ketika buah mulai lewat masa matang, sedangkan lalat Bactrocera / Dacus biasanya sudah laten berada di dalam buah sejak buah masih belum terlalu matang, bahkan masih berada di pertanaman.

Salah satu sifat khas lalat buah adalah hanya dapat bertelur di dalam buah. Telur tersebut kemudian menetas menjadi larva/ulat yang dikenal dengan sebutan belatung. Stadium inilah yang merupakan masa paling merusak dari lalat buah. Karena hidup di dalam buah, jelas keberadaan larva akan merusak daging buah yang merupakan sumber makanannya, sehingga dapat menyebabkan buah membusuk dan gugur. Konsumen buah sering kecewa ketika mendapati buah yang akan dimakannya ‘berulat’, padahal tampilan luarnya baik-baik saja. Hal ini ternyata juga berdampak buruk terhadap  daya saing komoditas hortikultura Indonesia di pasar internasional. Produk hortikultura dari Indonesia pun pernah ditolak negara tujuan ekspor karena terindikasi mengandung larva lalat buah. Dengan demikian, lalat buah dapat menyebabkan kerugian secara kualitas maupun kuantitas bagi produk buah atau sayur.

Serangan lalat buah, terutama dari jenis Bactrocera, dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar di pertanaman buah maupun sayuran, bisa mencapai 40-100%. Daerah sebarannya juga cukup luas, mencakup sebagian besar negara di dunia, dengan jenis/spesies yang berbeda-beda.

Gejala serangan lalat buah yaitu biasanya terdapat lubang kecil di bagian tengah kulitnya. Serangan lalat buah  ditemukan terutama pada buah yang hampir masak. Gejala awal ditandai dengan noda atau titik bekas tusukan ovipositor (alat peletak telur, terdapat di ujung abdomen) lalat betina saat meletakkan telur ke dalam buah. Selanjutnya, seiring perkembangan telur menjadi larva dan aktivitas di dalamnya, menyebabkan noda tersebut semakin meluas dan tampak membusuk.

Intensitas serangan dan populasi lalat buah akan meningkat pada iklim yang sesuai. Suhu rendah sekitar 26oC dan kelembapan tinggi sekitar 90% akan baik bagi lalat buah. Aktivitas lalat buah akan lebih baik pada saat curah hujan rendah daripada saat curah hujan tinggi.

Di Indonesia, lalat buah sebagai hama telah diketahui sejak tahun 1920 dan dilaporkan menyerang pertanaman mangga di Jawa. Pada tahun 1938, lalat buah juga dilaporkan menyerang cabai, kopi, pisang, jambu, cengkeh, belimbing dan sawo. Hasil monitoring lalat buah yang dilakukan pada tahun 1979/1980 menunjukkan bahwa lalat buah ditemukan hampir di semua wilayah di Indonesia.

Awalnya, Indonesia dan negara lain sering mengidentifikasi lalat buah yang banyak ditemukan di daerah Asia-Pasifik, yaitu Dacus spp. Tetapi, menurut klasifikasi terakhir yang dilakukan Prof. Dr. Dick Drew (entomolog asal Australia) pada tahun 1989, dinyatakan bahwa lalat buah yang banyak terdapat di Indonesia adalah dari jenis Bactrocera spp.

Berdasarkan hasil identifikasi oleh Prof. Dr. Dick Drew yang terbaru dalam  buku Fruit Flies of Indonesia: Their Identification, Pest Status and Pest Management pada November 2012 lalu, terdapat 122 spesies lalat buah di Indonesia. Namun, dari jumlah tersebut, hanya 11 spesies yang menjadi hama penting. Lalat buah yang menjadi hama penting di Indonesia, yaitu: Bactrocera albistrigata (de Meijere), Bactrocera carambolae (Drew & Hancock), Bactrocera frauenfeldi  (Schiner), Bactrocera latifrons (Hendel), Bactrocera musae (Tryon), Bactrocera occipitalis (Bezzi), Bactrocera papayae (Drew & Hancock), Bactrocera umbrosa (Fabricius), Bactrocera caudata (Fabricius), Bactrocera cucurbitae (Coquillett), dan Bactrocera tau (Walker).

Pengendalian lalat buah tergolong sulit karena larva penyebab kerusakan berada di dalam daging buah, sedangkan imago (lalat dewasa)nya bebas terbang. Telah banyak tindakan pengendalian yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan lalat buah, mulai dengan pengolahan tanah (membalikkan tanah sebelum ditanami); melakukan rotasi tanaman; sanitasi lahan; penggunaan teknologi jantan mandul, perangkap, zat penarik (atraktan), umpan protein, insektisida nabati/kimia sintetis; pengasapan; pembungkusan buah; pengumpulan dan pemusnahan buah gugur; dan sebagainya.

Dalam kaitan dengan tuntutan pasar global yang mulai menginginkan produk bebas residu pestisida dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap bahaya pestisida, serta menyesuaikan dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), pengendalian lalat buah diarahkan untuk dilakukan melalui pendekatan yang berdasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang bertanggung jawab. Namun, ternyata mengandalkan konsep PHT saja belum cukup untuk mengendalikan lalat buah. Evaluasi dalam tindakan pengendalian selama ini adalah bahwa pengendalian lalat buah sering terbatas pada daerah pertanaman (produksi) saja. Padahal, sifat lalat buah dewasa yang aktif bergerak (terbang) dan cukup peka dalam mendeteksi keberadaan buah memungkinkan lalat buah untuk menyebar ke daerah lain di luar pertanaman, misalnya pekarangan atau pemukiman warga, pertanaman lain di sekitar pertanaman budidaya yang utama, serta kebun terlantar. Dengan demikian, pengendalian lalat buah sebaiknya tidak hanya dilakukan di daerah pertanaman utama saja. Tetapi juga mencakup daerah lain di sekitar pertanaman utama. Konsep  ini dikenal dengan istilah pengelolaan lalat buah skala luas.

Pengertian skala luas diartikan sebagai suatu wilayah pengendalian minimal seluas 100 ha. Dalam materi Sekolah Lapang PHT juga dijelaskan bahwa semakin luas hamparan atau kawasan pertanaman yang dikelola secara benar, kondisi agroekosistem akan makin stabil. Disamping itu, jika manajemen PHT berjalan baik, maka akan semakin tampak pengaruhnya terhadap perkembangan OPT. Pengelolaan lalat buah skala luas mengadaptasi konsep tersebut dengan tidak hanya memfokuskan pengendalian pada pertanaman utama, tetapi juga di daerah sekelilingnya.

Dengan PHT konvensional yang selama ini dilakukan petani, lalat buah di pertanaman utama bisa saja dikendalikan, tetapi lalat buah dari daerah sekitarnya yang tidak dikendalikan akan datang dan berkembang kembali ke pertanaman utama. Dengan kata lain, populasi hama akan kembali seperti semula. Pengendalian terbatas atau hanya pada titik-titik tertentu di pertanaman utama tidak akan efektif karena kemampuan reproduksi, adaptasi dan daya rusak lalat buah yang tinggi. Vegetasi sekitar pertanaman utama merupakan hunian bagi lalat buah saat tidak terjadi musim buah yang sangat menunjang pertumbuhan dan perkembangannya karena dapat memberikan makanan serta media kehidupan yang sesuai, bebas dari suhu panas atau dingin, serta hujan lebat yang mengganggu aktivitas lalat buah.

Pada pelaksanaan PHT lalat buah yang disinergikan dengan konsep pengelolaan skala luas, lalat buah dikendalikan di semua daerah; baik itu yang menjadi daerah pertanaman utama maupun sekitarnya, sehingga potensi sumber inokulum lalat buah yang akan kembali menyerang pertanaman utama dapat diminimalisir. Hal inilah yang diharapkan akan menekan populasi total lalat buah.

Selain menerapkan manajemen PHT dan konsep pengelolaan lalat buah skala luas, hal penting lain yang perlu direncanakan dengan matang untuk menyukseskan pengendalian lalat buah adalah koordinasi dan kerjasama antara petugas pengendali OPT dengan petani dan masyarakat di area pengendalian. Aspek sosial ini memerlukan pengawasan berkala dari petugas setempat. Metode pendekatan yang dilakukan di masing-masing wilayah pengendalian bisa saja berbeda, bisa dimodifikasi dan harus mempertimbangkan kebiasaan dan pola interaksi masyarakat. Belajar dari pengalaman negara lain; semisal petani Barbados Cherry di Vietnam atau lalat buah jeruk di Australia; kebersamaan, komitmen dan disiplin petani/kelompok tani merupakan kunci utama keberhasilan penerapan pengelolaan dengan konsep skala luas.

Di Indonesia, pengelolaan lalat buah skala luas belum terlalu populer. Konsep ini mulai dicoba diterapkan di pertanaman mangga dan jeruk. Teknologi yang dilakukan menggunakan perpaduan antara perangkap lalat buah dengan zat atraktan serta penggunaan umpan protein yang disebar di pertanaman dan daerah sekitarnya. Perangkap lalat buah dipasang di pertanaman utama, kebun terlantar, termasuk pemukiman warga. Dengan demikian, masyarakat sekitar pertanaman yang bertani maupun tidak, secara tidak langsung dilibatkan dan juga mendapatkan penjelasan mengenai sifat dan bahaya lalat buah sehingga diharapkan tumbuh kesadaran bersama dari masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pengendalian lalat buah di daerahnya.