nellysapta

nellysapta
kering berseri (rimbo pengadang-lebong-bengkulu 2014)
Tampilkan postingan dengan label catatandiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatandiri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 September 2015

"Silakan Shalat, Jangan Gara-Gara Saya Kalian Jadi Gak Shalat"

Baru kali ini berkesempatan ikutan rapat kecil bersama Direktur Jenderal Hortikultura. Kebetulan saja, karena koordinator perencanaan direktorat saya sedang berhalangan hadir. Saya dan seorang rekan mewakili untuk mendengarkan arahan Bpk. Dirjen.

Tidak ada yang istimewa. Yaa..seperti rapat pembahasan suatu masalah pada umumnya. Apalagi, direktorat perlindungan tidak terlalu dibahas. FYI, tahun depan kami memprioritaskan produksi cabai dan bawang merah. Dst, skip :b

Satu hal yang ingin saya bagi di sini adalah, ketika adzan Dzuhur berkumandang, Bpk Dirjen mengatakan,"Ayo, bagi yang mau shalat silakan ya.. Jangan gara-gara saya kalian jadi gak shalat atau terlambat" Bagi saya ini pernyataan yang bagus sekali. Positif! Walaupun Bpk Dirjen sendiri tidak langsung seketika itu juga menghentikan rapat, tetapi beliau mempersilakan peserta rapat yang ingin shalat. Jarang sekali pejabat yang seperti ini. Poin plus-lah buat Bpk Spudnik yang baru beberapa bulan menjadi pejabat eselon I di kantor saya. 

Saya sangat mengapresiasi pernyataan Bpk Dirjen. Oleh karena itu, saya segera pamit memanfaatkan kesempatan itu untuk segera turun ke mushola kantor kami. Segera shalat dan kemudian kembali ke ruang rapat. Banyak lho kejadian: peserta rapat segan untuk keluar dari ruangan karena pimpinan rapatnya masih asyik membahas. Lantas baru bisa melaksanakan shalat di ujung waktu atau tergesa-gesa karena dikejar 'deadline'. And now, karena dipersilakan seperti ini, kenapa tidak dimanfaatkan? He he.

Next, semoga tetap seperti ini. Bukan sekedar basa-basi saya rasa. Lebih baik lagi jika misal rapat dipending dan semua peserta (yang muslim dan tidak ada udzur tentunya) bersama-sama menuju mushola/masjid untuk shalat berjama'ah. What a life! 

Harapan itu masih ada.

-nelly, direktorat jenderal hortikultura kementerian pertanian-

Senin, 31 Agustus 2015

Review Film : Little Big Master

Saya menonton film ini dalam perjalanan ke Jambi, 26 Agustus lalu. Lagi-lagi gak tau juga kenapa ujung-ujungnya milih film ini, mungkin sekilas karena sinopsisnya tentang "kepala sekolah dengan bayaran terendah". Ternyata, baru 20 menit berjalan, saya sudah menangis *huuu*

Ini trailernya *gak ada sedih-sedihnya tapi ini trailer... baru kerasa kalo ngikutin film dari awal. ciyus deh*


Ketebak nggak jalan ceritanya?

Little Big Master dirilis pada Maret 2015. Film yang dibintangi oleh Miriam Yeung (memerankan Hung) dan Louis Koo (memerankan Tung) ini mengisahkan tentang pendidikan, khususnya pada anak usia dini. 

Hung, awalnya bekerja sebagai kepala sekolah di suatu TK terkenal. Tetapi kemudian ia mengundurkan diri karena merasa tidak bisa mempertahankan idealismenya dalam mendidik anak-anak. Film dimulai dengan adegan seorang anak yang merasa tertekan karena tidak bisa mendapatkan nilai sempurna dan dia merasa ketakutan akan mengecewakan orang tuanya. Orang tua anak itu memang ternyata mengharapkan sang anak bisa menjadi anak yang pintar dan selalu mendapat posisi teratas di kelas. Hal itu berhubungan dengan ego mereka, yang menganggap sudah seharusnya anaknya pintar dan sempurna karena mereka berasal dari keluarga yang terpandang. Hung tidak sepakat dengan hal tersebut. Anak-anak yang dipaksa sempurna, kenyataannya sering berbuat konyol dan cenderung menyakiti diri sendiri ketika tidak mencapai target yang ditentukan orang tuanya. Semacam depresi.

Bersamaan dengan pengunduran diri Hung, ternyata suaminya Tung, juga mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai kurator di sebuah museum. Mereka saling bercerita mengenai hal itu ketika merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-10. Kemudian, mereka saling berjanji bahwa walau demikian, mereka tetap akan mewujudkan impian mereka untuk berkeliling dunia. So sweet...

Inti cerita film ini kemudian berlanjut pada Hung yang tergerak hatinya setelah melihat tayangan di televisi mengenai sekolah TK yang tidak terurus dan hanya menyisakan 5 siswi miskin. Hung kemudian menelusuri alamat dan melihat langsung kondisi sekolah tersebut. Tidak ada yang bersedia menjadi guru dan kepala sekolah di sana, apalagi desa setempat hanya mampu membayar kepala sekolah di sana dengan bayaran 4500Yen. Sangat kecil. Selain itu, sekolah tersebut diancam ditutup jika tidak ada yang bersedia menjadi kepala sekolah. Itulah yang mendorong Hung untuk memutuskan mengambil kesempatan menjadi kepala sekolah di desa tersebut, walaupun harus merangkap mengurusi semua hal, termasuk bersih-bersih.

foto dari sini

Mengharukan. Tetapi tidak melulu sedih.
Film yang disutradarai Adrian Kwang ini menyajikan nuansa kekeluargaan yang seharusnya memang diciptakan dalam kehidupa sekolah. Bagaimana membina hubungan guru dengan murid, serta sekolah dengan keluarga murid juga sangat terasa. Secara tidak langsung, film ini juga memberikan kritik sosial akan keberadaan sekolah umumnya saat ini yang kurang membangun komunikasi dengan keluarga atau keluarga yang membebankan harapan terlalu berat bagi anak. Padahal, itu juga termasuk bagian dari pendidikan. Apalagi bagi pendidikan di usia dini.

Anak-anak yang semula murung, lambat laun berubah ceria. Sebenarnya juga mereka bukan anak yang bodoh, melainkan memang memerlukan fasilitator yang bisa tulus melihat dan memberikan peluang belajar yang luas kepada mereka. Hung dan Tung juga berempati dengan keluarga siswanya. Hung tidak lelah meyakinkan keluarga anak didiknya bahwa pendidikan itu penting dan dapat menjadi jalan bagi mereka untuk keluar dari kemiskinan.

foto dari sini

Sayangnya, perjalanan hanya 1 jam kurang, jadi saya tidak bisa menyelesaikan menonton film ini dalam 1 kali perjalanan udara. Hehe.. Kapan-kapan disambung lagi deh *nontonnya* Saya yakin, jalan ceritanya tetap bagus dan jauh dari pesan terselubung negatif. *semoga*

foto dari sini


(Trip DL) Argo Muria ke Pekalongan

Kali ini kembali melakukan perjalanan dinas menggunakan kereta. asik asik asik..

ARGO MURIA
kelas eksekutif menuju Pekalongan. Baiklah kita cicip heheu..
Saya berangkat pada tanggal 20 Austus 2015, dari stasiun Gambir. Ya iyalah, memang stasiun Gambir diperuntukkan bagi kereta kelas bisnis dan eksekutif. Kalo kelas ekonomi, pasti saya ke Stasiun Senen xD

Duduk di 12 B, gerbong 2.
Lumayan, posisi agak depan sehingga bisa cukup jelas menonton tv :b


TV kereta

Yah.. dia selfi 

Berbeda dengan Cirebon Ekspress, menurut saya kereta Argo Muria agak kasar jalannya. Asa mual. Laju kereta tidak begitu mulus. Padahal harga lebih mahal heuu...

Colokan listrik stand by digunakan untuk mencharge HP sepanjang perjalanan, kaki ditopang dengan nyaman. Sambil baca majalah REL ;b
Isi kereta, bersih. Toilet bersih. Sip deh :)

Kaki siapa itu? #salahfokus

Majalah REL, majalah kereta *apasih*

Siangnya, saya tiba di stasiun pekalongan. Hm...bersih dan cukup luas. Ada ruang menyusuinya juga lho... sayang saya tidak mengambil gambarnya dengan fokus. 

Ruang menyusui di bagian ujung kiri

Arah Jakarta (dah mau pulang aja...kerja dulu woiiihhh)


Sekian ulasan gak lengkap sama sekali ini. Cuma ingin menyimpan foto-foto itu aja, biar gak menuhin memeori HP xD