nellysapta

nellysapta
kering berseri (rimbo pengadang-lebong-bengkulu 2014)
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juli 2016

Pertama Kali Naik Kuda

Siapa yang pernah berkuda, tunjuk tangan hayooo....!
Saya dong udah pernah, baru-baru ini wkwk... telat banget yak xD
Kapan? Pas nemenin Zhafran soale doi gak berani sendiri hehe.. *modus asli ini mah, padahal emaknya juga kepengen*
Rasanya? Jangan ditanya. Asa mau jatoh aja dah...Ternyata begitu ya... Goyang-goyang asa oleng siap jatuh kapan aja *norak*

"Pak, ni kok miring gini goyangnya, asa mau jatuh ni saya" 
"Tenang aja bu, emang gitu rasanya tapi gak bakal jatuh kok, yang rileks bu..rileks aja.."
wkwk... ndeso tenan koe nell.. Anakmu aja nyantai malah ketagihan pengen lagi pengen lagi

Yang belum pernah merasakan naik kuda, sebaiknya mencoba walaupun itu cuma untuk sekali seumur hidup wkwk #eh
Ketawa aja dari tadi. Girang apa stress nell?


Naik kuda pertama kali di Taman Matahari Cisarua, Mei 2016


Nggak, seriusan. Asik kok, walau yaa...wajar kalo pertama kali rada deg-degan, gak nyaman, kaku, dll. Kalo saya pribadi jadi membayangkan, "Wuih itu keren banget ya yang bisa berkuda sambil ngelakuin hal lain misal sambil manah, sambil atraksi, dll... lha ini ngatur keseimbangan aja susah(-susah gampang) apalagi sambil memanah..wohhhh...kereeen ternyata yaaaa.. konsentrasinya dobel-dobel"

Umumnya, biaya naik kuda di tempat wisata adalah 25rb per sekali jalan. Coba bisa lebih murah ya..hehehe.... *biar bisa berkali-kali gituuuu*


Yaaa....udahan...lagi..lagi..lagi....

Minggu, 20 Maret 2016

Anak Main? Oke!

Huff, anak-anak emang punya macam-macam gaya dan kebiasaan. Mungkin itu juga menjadi bagian dari cetakannya. Ada anak yang aktif, hiperaktif, atau pasif. Duo bocah lanang di rumah, kalo main apapun, rasa-rasanya belum pernah bertahan lama atau betah gitu. Misalnya mobil-mobilan, udah dimainin bentar bukannya dimainin sewajarnya tapi malah dibongkar-bongkar. Klo beli mainan berukuran kecil lainnya pun sama: akan berakhir tragis *haha*. Gak diarahkan? Uwow, main diarahkan tu rasanya gimanaa gitu, kalo dibilangin bahwa ini mobil-mobilan, biasanya mainnya gini, bla bla, itu mah iya. Tapi, kelanjutannya gimana kalo dah dipegang mereka, saya biarin aja. Kecuali kalo udah mulai merusak, lempar-lempar atau sejenisnya. Baru mulut mulai ngoceh maning heheu....

Jalan lain, saya memutuskan membelikan mainan yang ukurannya lumayan besar bagi mereka. Mobil-mobilan yang bisa dinaiki, sepeda, atau mainan lain yang berukuran lumayan. Nah, yang ini emang lumayan awet, walau ada beberapa bagian mainan tersebut yang juga dibongkar, tapi masih bisa tetap berfungsi. Alhamdulillah.

Tapi tapi... pengen juga lah tetep ngasi mainan yang melatih sensorik motorik mereka. Entah itu playdough, pasir, beras, air, puzzle, dll. Oke, usahakan memang sekali pakai atau bisa beberapa kali, tergantung kondisi. Lebih enaknya, bikin sendiri. Tapi untuk eksplorasi sensorik tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk main di luar saja. Terserah mau main pasir, berenang, main air di ember, dll. Kalo puzzle, semuanya berakhir tidak sempurna alias pada ilang *wkwk* Ya sudahlah..nanti juga ada waktunya.

Dari bangun hingga tidur, adaaa aja kegiatannya. Duo TsaZha selalu aktif. Di dalam atau di luar rumah. Jadi, emang harus banyak sabar juga kalo rumah selalu berantakan! *halah hhahalesaaaann.. xD* Harus berebsar hati juga menghadapi keaktifan dan keberisikan mereka. Kalo lagi diem, malah kasian. “ni anak kenapa tumben diem” wkwk... Emang wajar ya, mereka masih ingin mengenal segala sesuatunya. Baguslah. Jadi teringat wejangan bahwa sebenarnya anak yang cerdas itu bukan yang semata pintar menjawab pertanyaan, tapi malah justru anak-anak yang banyak bertanya *tentang apapun* itu sangat baik untuk mendukung perkembangan pemikirannya. Okeh deh...

Ni ada foto Zhafran lagi main nyusun balok-balok. Emang sih, sebenarnnya permainan math block ini cocoknya untuk anak usia 5+ tapi saya emang sengaja kasih untuk mereka mengenal bentuk, warna, menyusun, dll. Alternatif murahnya bisa juga memanfaatkan barang apapun sebenarnya. Ini mah dasar emaknya aja sok-sok pengen ikutan beli mainan gituan >.<



Simpulannya, saya ingin membiarkan mereka memainkan apapun yang ingin mereka mainkan. Mengenal apa yang ingin mereka ketahui. Selama itu tidak berbahaya, tugas saya sebagai orang tua adalah memfasilitasi, mendampingi, dan mengarahkan jika perlu. Mainan tidak perlu mahal. Jika ada yang bisa kita buat alternatif sejenis, manfaatkan saja. 

Oke kiddos, let's play more! ^^

Senin, 07 Desember 2015

sekedarenung

perjalanan yang tidak berjeda
lagi-lagi-lagi
meninggalkan kesayangan
berpisah sejenak
untuk bertemu kembali setelah usai menyelesaikan urusan
yang sebenarnya mudah
tapi ternyata labirin

pagi buta atau jelang malam
disambangi
mau saja

penatnya tuh di sini
:tengkuk

bahagianya tuh ada saja
kesalnya juga ada : tapi tidak perlu dirisaukan panjangpanjang
ceritanya lebar
jadi tau beberapa hal
tidak banyak
karena sebagian besar hanya keluh

manusia manusia...
syukurnya jangan dihentikan
senyumnya jangan dihilangkan
hikmahnya jangan dicampakkan
kerjanya jangan malasmalasan

kelam
puing. nguing.
berpadu riuh
tapi merupa irama yang asa teduh

-argojati 17:15/19:58-

Kamis, 19 November 2015

Keberanian, memang milik kalian, Palestina!

Ya Allah,
Betapa kami sangat terlena kehidupan dunia. Terlena kehidupan sementara di dunia, tepat di tempat kami berpijak saat ini, di bumi bagian Indonesia. Negeri yang konon katanya kaya raya, berlimpah sumber daya alam, penuh orang-orang ramah, punya banyak daerah wisata, dan...sudah bebas dari perang.

Oh ya?
Apakah kita tidak menyadari, bahwa justru saat ini kita sedang berhadapan dengan lawan perang yang sesungguhnya. Diri kita sendiri! Perang dengan pemikiran kita yang mudah terbawa giringan berita. Perang dengan kemalasan diri kita sendiri untuk tidak lalai belajar, belajar mengenai bekal akhirat dan dunia. Perang melawan rasa takut kita sendiri untuk keluar dari ruang nyaman. Perang melawan perasaan ingin melupakan rasa sakit dan penderitaan yang tidak ingin kita rasakan sebagaimana orang lain -atau katakanlah orang-orang yang bangsanya sedang ditimpa bencana perang fisik-. Ngeri? Ngeri bukan?

Saat ini, saudara-saudara muslim maupun masyarakat umum di Palestina, Syiria, Irak, Bangladesh, Burma, Rohingya, sudah jelas kita ketahui sedang disiksa penjajahnya. Belum lagi saudara kita yang lain dimanapun berada, yang juga mengalami kondisi menyedihkan: kelaparan, kegalauan ekonomi, ditelantarkan, kepayahan, dan sebagainya. Oke, tidak jauh-jauh...bagaimana dengan tetangga kita? Sudahkah kita senang kenyang, tapi mengabaikan tetangga yang kelaparan, kerepotan?

Saya,
Tertegun melihat orasi anak perempuan ini.

Tidak ada nada gentar dalam kalimatnya. Hanya satu: yakin. Begitu percaya diri. 

Jika seusia belia itu saja bisa mengerti kondisi bangsanya saat ini, bagaimana dengan kita yang sudah lebih dulu dilahirkan? Yang sudah dibentangkan banyak kesempatan untuk mencari tau dan membantu. Gentar. Ya gentar, tidak seperti mereka. Apa perlu kita langsung ke Palestina untuk merasakan diperangi, baru benar yakin tentang berita Palestina?

Itu baru satu kondisi. Jika mau, banyak video lain. Dan tentu saja itu bukan settingan. 

Ya Allah,
Sesungguhnya kamilah yang patut mengasihani diri kami sendiri. Atas semua ketidakacuhan pada saudara sesama muslim yang sedang disiksa dikepung sedemikian hingga dihadapkan pada kesedihan yang bertubi-tubi. Keimanan mereka sungguh teruji. Berbeda dengan kami, yang baru tidak dibayar semestinya saja sudah mencak-mencak merasa mendapat upah yang tidak layak padahal sudah bekerja dengan sangat baik (padahal itu uga penilaian subjektif). 

Sesungguhnya kamilah yang patut berbahagia dapat belajar dengan nyaman. Dapat mengaji dengan sepuasnya : guru ada, akses informasi mudah, alat pendukung ada, lingkungan segar dan sebagainya. Tapi nyatanya, justru kami yang kalah jauh dari mereka yang sedang dalam masa sulit. Kami sungguh benar-benar terlena. 

Palestina, keberanian memang milik kalian.



Duhai Allah, semoga muslim dimanapun berada, yang terpaksa harus merasakan dampak dikucilkan, diremehkan, dilecehkan atau sejenisnya, bisa bersabar atas semua yang terjadi dan tetap bisa menjaga akhlaknya. Hanya pada-Mu lah kami berdo'a dan memohon ampun. Engkaulah sebaik-baik penjaga dan penentu segalanya.

Rabu, 14 Oktober 2015

Terima dan Jaga Fitrah Anak

Pada syukuran di rumah baru rekan lingkaran cinta saya di KDW, kami berkesempatan mendengarkan pemaparan salah satu praktisi konseling anak dan remaja. Ibu Neneng namanya. Dalam usia yang masih tergolong muda dan produktif, 35 tahun, pengalaman beliau dalam menangani anak dan remaja sudah cukup luas. Walaupun mungkin kiprahnya tidak terlalu dikenal atau menjadi selebritis parenting di dunia maya.

Salah satu hal yang beliau sampaikan adalah mengenai fitrah anak.

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah sholallaahu 'alaihi wasallam telah bersabda:

مَا مِنْ مَوُلُودٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian?melihat darinya buntung (pada telinga?)

Bagaimana menurut kita, apakah yang disebut fitrah itu?
Sebagian besar kita mungkin menyatakan bahwa fitrah itu selayaknya : kertas putih. Anak yang baru lahir itu masih suci bagai kertas putih. Benar tidak?
Padahal manusia yang baru dilahirkan pun, sudah membawa bekal dari Allah. Bekal pengetahuan dan potensi dalam dirinya. Bagaimana kita menjelaskan, mengenai anak menangis ketika bar dilahirkan? Atau bagaimana si anak mengetahui cara menyusu? Bagaimana anak bisa merasa tidak nyaman? Bukankah hal itu menunjukkan bahwa mereka sebenarnya sudah dibekali pengetahuan dasar awal untuk hidup? Lantas mengapa banyak yang sepakat dengan pernyataan anak itu bagai kertas putih?

Yang bisa diibaratkan kertas putih itu adalah robot. Dia memang dari awal tidak tau apa-apa, dan siap diprogram sesuai kemauan programernya. Lha anak? Ternyata mereka kan punya kecenderungan, punya kesukaan, punya kebebasan untuk memilih yang ia sukai, dan sebagainya.

Fitrah anak, jika suatu waktu, ia merasa jengkel akan sesuatu hal atau kejadian yang dialaminya. Sikap kita sebagai orang tua yang pastinya lebih dulu lahir ke dunia ini adalah...menerimanya. Menerima kekesalan mereka dan membiarkan mereka sejenak melampiaskan kekesalannya. Sebaiknya, jangan langsung di-cut, diarahkan ke lain hal sesuai kemauan kita atau kepada sesuatu yang kita anggap benar. Biarkan dulu mereka mengeluarkan unegnya. Tentu kita temani juga dengan sikap °ya, kami sedang mendengarkanmu°.

Seringkali yang terjadi adalah, orang tua tidak membiarkan anak-anak untk melepas energi negatif yang sedang terjadi dalam dirinya. Sering, para orang tua memotong emosi mereka dan mulai banyak mrenasihati, seolah hal itu adalah solusi jitu untuk mengatasi masalah. Padahal, belum tau benar apa duduk masalahnya. Anak-anak mungkin saja menurut opada nasihat orang tuanya, tetapi jiwanya masih tetap kelam dan tidak mengerti akan sikap yang tepat jika kelak dihadapkan kembali pada masalah yang sama. Jiwanya tetap rapuh.

Alangkah baiknya, jika anak sudah mengeluarkan resah yang ia rasakan, barulah kita jaga fitrahnya. Fitrah kebaikan. Jangan lupa untuk mengusap mereka, anak-anak itu. Ketika emosi mereka mereda, barulah kita gali akar masalah sebenarnya. Kita posisikan diri sebagai fasilitator yang bukan menentukan jawaban. Tapi, 'mengejar' anak dengan pertanyaan retoris. Karena adakalanya, sering malah, anak-aak hanya perlu diarahkan pada solusi.

Tulisan ini masih abstrak sekali. Mungkin kita (saya) bisa langsung praktik ^^
Hal terpenting pula adalah, kita memang harus stok sabar dan tahan emosi sekuat mungkin. Pembentukan karakter dan akhlak yang baik itu bukan perkara mudah tidak juga sulit, bukan sebentar tapi bisa jadi juga tidak perlu lama-lama. Kita perlu terus mengembangkan metode yang pas, dengan pendekatan psikologi yang tepat; sesuai sasaran.

Ingat, bahwa anak telah membawa fitrah kebaikan dalam dirinya. Potensi baik atau buruk, itu harus tetap kita arahkan kepada akhlak mulia melalui pembiasaan sehari-haru, sejak dini. Sedini mungkin.

Senin, 31 Agustus 2015

Review Film : Little Big Master

Saya menonton film ini dalam perjalanan ke Jambi, 26 Agustus lalu. Lagi-lagi gak tau juga kenapa ujung-ujungnya milih film ini, mungkin sekilas karena sinopsisnya tentang "kepala sekolah dengan bayaran terendah". Ternyata, baru 20 menit berjalan, saya sudah menangis *huuu*

Ini trailernya *gak ada sedih-sedihnya tapi ini trailer... baru kerasa kalo ngikutin film dari awal. ciyus deh*


Ketebak nggak jalan ceritanya?

Little Big Master dirilis pada Maret 2015. Film yang dibintangi oleh Miriam Yeung (memerankan Hung) dan Louis Koo (memerankan Tung) ini mengisahkan tentang pendidikan, khususnya pada anak usia dini. 

Hung, awalnya bekerja sebagai kepala sekolah di suatu TK terkenal. Tetapi kemudian ia mengundurkan diri karena merasa tidak bisa mempertahankan idealismenya dalam mendidik anak-anak. Film dimulai dengan adegan seorang anak yang merasa tertekan karena tidak bisa mendapatkan nilai sempurna dan dia merasa ketakutan akan mengecewakan orang tuanya. Orang tua anak itu memang ternyata mengharapkan sang anak bisa menjadi anak yang pintar dan selalu mendapat posisi teratas di kelas. Hal itu berhubungan dengan ego mereka, yang menganggap sudah seharusnya anaknya pintar dan sempurna karena mereka berasal dari keluarga yang terpandang. Hung tidak sepakat dengan hal tersebut. Anak-anak yang dipaksa sempurna, kenyataannya sering berbuat konyol dan cenderung menyakiti diri sendiri ketika tidak mencapai target yang ditentukan orang tuanya. Semacam depresi.

Bersamaan dengan pengunduran diri Hung, ternyata suaminya Tung, juga mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai kurator di sebuah museum. Mereka saling bercerita mengenai hal itu ketika merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-10. Kemudian, mereka saling berjanji bahwa walau demikian, mereka tetap akan mewujudkan impian mereka untuk berkeliling dunia. So sweet...

Inti cerita film ini kemudian berlanjut pada Hung yang tergerak hatinya setelah melihat tayangan di televisi mengenai sekolah TK yang tidak terurus dan hanya menyisakan 5 siswi miskin. Hung kemudian menelusuri alamat dan melihat langsung kondisi sekolah tersebut. Tidak ada yang bersedia menjadi guru dan kepala sekolah di sana, apalagi desa setempat hanya mampu membayar kepala sekolah di sana dengan bayaran 4500Yen. Sangat kecil. Selain itu, sekolah tersebut diancam ditutup jika tidak ada yang bersedia menjadi kepala sekolah. Itulah yang mendorong Hung untuk memutuskan mengambil kesempatan menjadi kepala sekolah di desa tersebut, walaupun harus merangkap mengurusi semua hal, termasuk bersih-bersih.

foto dari sini

Mengharukan. Tetapi tidak melulu sedih.
Film yang disutradarai Adrian Kwang ini menyajikan nuansa kekeluargaan yang seharusnya memang diciptakan dalam kehidupa sekolah. Bagaimana membina hubungan guru dengan murid, serta sekolah dengan keluarga murid juga sangat terasa. Secara tidak langsung, film ini juga memberikan kritik sosial akan keberadaan sekolah umumnya saat ini yang kurang membangun komunikasi dengan keluarga atau keluarga yang membebankan harapan terlalu berat bagi anak. Padahal, itu juga termasuk bagian dari pendidikan. Apalagi bagi pendidikan di usia dini.

Anak-anak yang semula murung, lambat laun berubah ceria. Sebenarnya juga mereka bukan anak yang bodoh, melainkan memang memerlukan fasilitator yang bisa tulus melihat dan memberikan peluang belajar yang luas kepada mereka. Hung dan Tung juga berempati dengan keluarga siswanya. Hung tidak lelah meyakinkan keluarga anak didiknya bahwa pendidikan itu penting dan dapat menjadi jalan bagi mereka untuk keluar dari kemiskinan.

foto dari sini

Sayangnya, perjalanan hanya 1 jam kurang, jadi saya tidak bisa menyelesaikan menonton film ini dalam 1 kali perjalanan udara. Hehe.. Kapan-kapan disambung lagi deh *nontonnya* Saya yakin, jalan ceritanya tetap bagus dan jauh dari pesan terselubung negatif. *semoga*

foto dari sini


Selasa, 18 Agustus 2015

www.tokotsazha.com

Ceritanya, saya dan hunbun sedang semangat memulai berdagang secara online. Sebenarnya sudah sejak lama kami juga berdagang secara offline. Hasilnya lumayan lah untuk tambahan. 

Sejak bergabung dengan teman-teman yang berdagang dengan serius, kemudian mengikuti grup marketing online, kami semakin bersemangat untuk bergerak di dunia dagang. Teringat petuah,"berdagang adalah salah satu pintu masuk rezeki"

Kami belajar dari nol. Nyesel juga dulu nggak serius mempelajari desain dan pengelolaan website. Ternyata, di lingkup perdagangan online, kedua hal tersebut.sangat penting. Sangat menunjang keberhasilan dan keapikan, he he...

Kami mencoba membuat website *biar kesannya serius gitu haa*, mencoba membuat fanpage facebook, mengaktifkan akun instagram (yang terkenal cukup signifikan memperluas jangkauan iklan ke calon konsumen), mendaftar menjadi bagian seller di toko-toko online besar, dan sebagainya. Belum terlalu ditekuni nih, jadi masih memanfaatkan waktu 'sisa' atau sampingan. Katakanlah begitu, padahal alasan doank xixi...

www.tokotsazha.com
Itu nama toko online kami. Diksinya sulit ya? Juga berpotensi besar untuk salah dengar, salah sebut, atau salah ketik. Tidak apalah. Antimainstream. Semoga lama-lama dikenal :b
Lagipula, pemilihan nama kan adalah hasil keputusan dan menjadi tanggungjawab kami sendiri #hee
Pengennya ini toko bisa menjual banyak barang yang bermanfaat bagi konsumen. 

Kami mulakan dengan mengisi website tersebut dengan produk Al Qolam, yang concern pada produk edukasi berbasis pendekatan keluarga qur'ani. Tagline-nya: Al Qolam, solusi fasih membaca Al Qur'an. 




tampilan home www.tokotsazha.com

Alhamdulillah..
Walau masih belum banyak order dan belum rajin promosi, sudah memberikan hasil yang lumayan. Kami berdagang online, juga sembari belajar dari teman-teman lain yang sudah lebih dulu survive dalam usaha ini. 

Oia, tadi pagi dapat artikel motivasi bisnis #ceilee dari teman yang suaminya sudah 'sukses' menjalankan bisnis online di bukalapak. 

Ini artikelnya:
3 Kebiasaan yang sering dilakukan Top Seller

Pernah saya ditanya salah satu audience dalam sebuah seminar online shop. "Mas, saya sudah coba jualan online tapi ko kaya putus nyambung ya? pembelinya nyambung trus putus, saya belum bisa jualan online kalau penjualan dikit gini, ga asik jualan online". Saya tanya balik "apa yang sudah mba lakukan?" Ia menjawab "bikin web, fb page, upload barang, udah". Saya jawab saja "itu karena pola pikir mba putus nyambung!".

Pengamatan yang saya lakukan terhadap 100 penjual online dengan penjualan terbanyak atau Top Seller di Bukalapak.com (karena saya hanya punya data lengkap di sini :D) menunjukkan hal demikian. Saya kira penjual2 top di fb, bbm, whatsapp juga memiliki pola yang sama. Sebagian besar mereka sangat responsif, mereka rajin online, mereka siap sedia, siap nyambung dengan pembeli, mereka juga tidak kenal kata putus, kapanpun dimanapun pagi siang malam hari, baik sebelum dan sesudah terjadinya pembelian pertama.

Ada perbedaan besar antara penjual dengan sedikit penjualan dengan para 100 Top Seller tersebut dari segi kebiasaan. Ada kebiasaan2 kecil yang sering dilakukan Top Seller yang tidak dilakukan seller lain. Berikut ini saya share beberapa diantaranya :

1. MENJAWAB PERTANYAAN SEGERA
Bahkan dalam hitungan detik. Tidak hanya cepat tapi juga dengan jawaban yang tepat dan friendly. Kalau coba kita pikirkan, ada benarnya juga kenapa menyegerakan menjawab pertanyaan ini sangat penting. Coba kita bayangkan menjadi pembeli online, umumnya pembeli online adalah mereka yang sibuk dan ga punya banyak waktu, itulah kenapa mereka males ke toko offline. Karena ga banyak waktu, mereka pasti akan memilih siapa yang cepat menjawab pertanyaan mereka. Pembeli umumnya (di bukalapak khususnya) memilih 3, 4 atau lebih barang sejenis, lantas mereka bertanya dulu, stoknya available ga ke semua seller tersebut. Wajar, merek ingin tau mana yang available. Karena waktu mereka ga banyak, yang paling cepatlah yang mereka beli. Walaupun itu lebih mahal. Sementara yang lebih murah menjawab 1x24 jam kemudian, sudah basi! Sang pembeli sudah mendapat barang esoknya.

2. CEPAT MENGIRIM BARANG
Tidak hanya cepat menjawab, guna "nyambung terus" dengan pembeli, mereka umumnya juga menyegerakan pengiriman. Dan tak lupa memberitahukan nomor resi. Usaha untuk "nyambung terus" ini yang umumnya Top Seller tersebut lakukan. Efeknya, customer puas dan senang.

3. MEMBERI LEBIH --> +1
Kebiasaan kecil yang sering sekali dilakukan oleh TOP SELLER dan memiliki impact besar adalah menyelipkan sesuatu di dalam box pesanan. Tidak perlu menyelipkan yang mahal, apapun bisa Anda selipkan selama bermanfaat bagi customer. Barang yang sudah lama ga moving juga boleh. Tujuannya, menancapkan BRAND sang seller dalam benak customer. Customer tentu pernah belanja di tempat lain, tapi yang lain belum tentu menyelipkan sesuatu kan? :)

Dunia online memang memiliki pasar yang besar, jutaan orang berbelanja setiap tahunnya. Ratusan ribu seller online memperebutkannya. Hanya yang "nyambung terus" yang bisa menancapkan reputasi Anda ke dalam pikiran mereka. Berbekas dan selamanya.

Achmad Zaky (CEO Bukalapak)

(gambar tampilan website bukalapak)

Hehe.. Jauh ya. Yayaya.. Ge pe pe. Gpp. Bertahap ya tokotsazha. Sabar, semangat, dan terus memperbaiki diri. Semoga tetap bisa berusaha dengan niat dan cara yang baik. Berusaha karena Allah. Mohon do'anya ya gaes. Bismillaah :)

Pssttt....
Yang mau jenguk website kami, www.tokotsazha.com boleh banget ya. Apalagi kalo mau order. Boleh bangeeeet :)) Langsung aja ke sini.