nellysapta

nellysapta
kering berseri (rimbo pengadang-lebong-bengkulu 2014)

Senin, 22 Juni 2015

Ummi Abi?

Dah baca lama dan pernah share juga di akun facebook saya. Saya ke suami manggil 'sayang' atau 'mas'. Tapi dari awal sepakat untuk menetapkan panggilan ke ortu untuk anak2 kita adalah 'ummi abi' walau saat ini, sedang trend panggilan 'ayah bunda' 'mami papi' 'mimi pipi' 'mima pipa' 'mammy daddy' dll. Alasannya, pengen berasa dekat dengan bahasa arab dan agar terasa lebih 'islami' #nyengir (walau bahasa arab lainnya, bisanya cm seputar ikhwan akhwat 'afwan syukron tafadhol jazakallaah...) -_- (harus nangis apa ketawa tuh)

Entahlah ya... Bukan ahli bahasa arab juga, imho, jika suatu panggilan dah jadi kebiasaan umum masyarakat, dalam pengertian yg ditangkap artinya adalah ayah saja atau ibu saja, gak jadi masalah... Semacam menjadi kata serapan gitu kali jadinya, Hehe #hammer
Tapi, bagi yang paham, mungkin sangat mengganggu. 

Oia sy copaskan link utuhnya: http://m.eramuslim.com/nikah/panggilan-ayah-dan-bunda.htm

Karena menurut saya, jika dibaca secara utuh, sebenarnya masalah ptanyaan tersebut adalah mengenai panggilan dengan arti 'ayah atau ibu' 'mama atau papa' 'umi atau abi' kepada masing2 pasangan. Ini sih mgkn fatal ya, bahkan  dg dalih agar 'ng-arab' atau islami, harusnya dengerin itu nasihat yg paham bahasa arab hehe... (mau manggil dg panggilan khas aja msng2 pasangan... masalahnya adalah: anak-anak ntar ikutan manggil (misal) ibu atau ayahnya dg 'yang' jg haha ---pengalaman pribadi-) Jadi, memang ini kan jg proses pengenalan subjek kpd anak2. Saya sih sampe situ aj. Tapi, artikel tersebut sangat bermanfaat untuk menambah wawasan bagi kita semua. Pada akhir tulisan pun, disarankan untuk : jika ingin belajar membiasakan bahasa arab, mengapa tidak memulainya dengan memperbaiki panggilan 'ummi abi' tersebut kepada pasangan?'

Gantilah dengan umma atau ummu. Aba atau abu. Lihat konteksnya. 

Jika anak-anak memanggil ortunya dengan ummi abi, malah secara 'rasa bahasa', arti dan sapaan, imho, lebih halus dg ummi abi yaitu 'ibuku....' 'ayahku.....' wallahu a'lam ^^

Bisa dianalogkan gak ya... Yang ini --- penulisan in sya Allah, insya Allah, in sha Allah, insha Allah, Allah-nya gk pake kapital, jg bnyk yg mempermasalahkan... Tapi, pas ngomong ma yang 'biasa' aja, ya biasa aja tanggapannya. Padahal secara transliterasi (bagi yg paham), katanyaa.... itu beda banget artinya. 

Btw, kalo bunda gitu saya malah asa........... ah sudahlah... hehe

Rencana Otodidak Belajar Jahit

Ya. Saya pengen banget bisa menjahit pakaian sendiri ataupun pakaian suami dan anak-anak. 

Awalnya karena alasana yang simpel saja: banyak bahan pakaian yang menganggur di rumah (baik itu yang berasal dari hadiah teman, bagian dari kantor, atau beli sendiri) dan harga pakaian anak kecil laki-laki yang minim desain plus mahal. Padahal hanya misal kemeja kecil saja, berapa sih ukuran anak 3-4 tahun?, kok mahal banget! Nyampe kisaran 70-150ribuan. Uwow banget deh... Selain itu, asik juga kalo bisa berkreasi dan membuat pakaian sendiri. Keren kali yaaa...haha.. Walau belum tau deh hasilnya ntar gimana...acakadutkah atau memang layak pakai xD

Oia... harga kerudung akhir-akhir ini juga sangat mahal *bagi saya*. Misal untuk ukuran segi empat biasa, bisa mencapai di atas 50 rb, bahkan lebih dari 100rb. Padahal kan itu gak pake model apa-apa, cuma petak gitu aja trus dineci atau dikasih hiasan  dikit lah... Apakah karena harga kainnya? ongkos jahitnya? biaya bordirnya? biaya jasa marketingnya? Apapun alasannya, uwow banget deh..mihil..hiks.. Dulu *di kampus* dengan bahan dan model yang sama, cuma 13 ribu he he... Pindah lagi sono ke kampus ipb dramaga, Nel.. beli sepuasnya ha ha...Etapi jangan salah.. ternyata ketika beberapa waktu lalu sempat ke kawasan Bara IPB Dramaga, harga kerudung segi empat yang saya maksud tadi juga udah mahaaal euy. Hiufff...


Keinginan untuk bisa menjahit sendiri sudah cukup lama dan kiat menguat. Pernah, saya membeli mesin jahit portable mini, dengan harapan bisa berlatih sendiri dan menjahit beberapa kain bekas atau sekedar renovasi celana atau rok yang rusak. Tapi sayang, mesin jahit itu tidak bertahan lama.. rusak..mungkin karena saya juga tidak terlalu paham teknis penggunaannya atau memang ketahanan mesinjahit itu yang kurang oke, hehe... Alamat seterusnya itu mesin jahit menganggur saja di lemari T_T"


Saya baca-baca dan tanya-tanya, ternyata bisa kok belajar jahit sendiri. Otodidak. 
Ada temen yang belajar dengan membongkar bajunya kemudian membuat pola sendiri, lalu dicoba dijahit. Menurutnya, lama-kelamaan kita bisa mengembangkan desain sesuai keinginan kita. Dan sarannya: jika membeli mesin jahit, "yang bagus sekalian..biar bisa dipake terus.. jangan yang mini itu.. cepat rusak dan gak puas juga makenya".. Hooo... pentung pala dhewe... emang strategi saya salah ternyata xD


Tapi...ternyata saya pribadi belum kebayang tuh kayak gimana..haha.. dodol memang.. 
Akhirnya banyak download video berkaitan dengan 'belajar menjahit untuk pemula', 'sewing for begginer' dll. dan mengikuti grup online yang berkaitan dengan kegiatan menjahit atau hobiis crafting. Teteeep memang: tanpa praktik, nonton saja itu tidak bergunaaaaa...lalalala... *praktik..praktik..tiktiktitik titik!*

Beberapa link tulisan atau video yang  bisa dijadikan referensi misalnya:
www.danamadeit.com --> menonton Mrs. Dana menjahit, kayaknya mudah dan menyenangkan hohoo..semakin semangat! :) 
www.sewingforbeginner.com
http://www.craftbymood.com/memulai-belajar-menjahit/
http://tetikomiasih-daramuda.blogspot.com/2011/12/tips-menjahit-untuk-pemula-tanpa-kursus.html
http://so-sew-easy.com/my-sewing-tutorials/


Kegiatan lainnya adalah mencari tempat kursus yang memungkinkan untuk diikuti alias akses mudah dan waktu belajar bisa menyesuaikan dengan jadwal kerja #tsaaahhh 
Tanya-tanya, kata temen kantor,"Tuh di simpang dekat kantor kita ada: Juliana" Alamak...padahal dilewatin terus tapi karena terlalu serius liat jalan doank mungkin terlewat dari perhatian saya wkwk.. *ngeles banget ini mah* kucluk kucluk memberanikan diri pergi ke sana dan bertanya. Untuk kursus tingkat dasar, 3 juta. Kalo sampai tingkat mahir, 6 juta. Itu pun harus lunas di awal. Wah wah... lumayan juga ya.. Trus, di dekat rumah juga ada, tapi bukan lembaga terkenal seperti Juliana, hanya kursus rumahan: lebih mahal, yaitu 4 juta. Itupun hanya dasar. Yah.... Masih bimbang, tapi info sudah di tangan. Tinggal ntar kalo memang oke lahir batin (baca: dananya terbudget dan jadwal bisa.....) in sya Allah. Eh atau..hm... otodidak ajalah! ehehehe...


Selanjutnya, cari info mesin jahit. Yang bagus, terjangkau, bisa dipakai dari pemula hingga profesional. Banyak yang menyarankan merk Janome karena terkenal tangguh. Tapi ada juga yang hanya menyarankan Singer atau Juki saja sudah cukup oke kok. Lagipula, tergantung model dan perawatan pemakai juga. Oia, saya juga pernah menemukan penjual mesin jahit yang sedang mengadakan bazar di Hyperm*rt Pondok Gede, Bekasi: untuk pemula beliau menyarankan Brother atau Butterfly. Lah ;ah.. makin mbingungi aja hahaha... *ketawa aja deh*
Kalo yang dipake Mrs. Dana, merk Babylock..gugling: whoaaa...mahal juga -_-' Iya sih baguuuuss...inget dompet juga woi..


Di fb, pernah konsul dengan Dokter Mesin Jahit. Sarannya: Janome. Hati saya pun mengarah ke Janome. Mulai searching model. Singkat cerita jatuh ke Janome 2222 atau 7210. Tapiii...belum dapat acc pak suami karena mesin jahit mini portable tadi masih dianggurin. Katanya khawatir nanti mesin jahit baru akan bernasib sama. Ah pak, ayolaaaah..kan ntar bisa jadi saya malah bisa jual baju bikinan sendiri.
Kacau. Khayalannya semakin tinggi! xD

PR nambah : meyakinkan suami agar setuju kami membeli mesin jahit!

Baiklah, semoga keinginan saya yang ini bisa terwujud. Tunggu tanggal praktiknya!


Jumat, 19 Juni 2015

Tanggap Hijrah

 19 juni 2015, 2 ramadhan 1436 h
Sore.
Jelang berbuka, terburu-buru keluar hotel Grand Cempaka Cipayung karena memang tidak ikut bagian berbuka di sana. Plus lupa bawa bekal, air putih. Untung ada mobil bos yang bisa ditumpangi sembari pulang.

Semakin mepet waktu berbuka, dan benar saja...akhirnya kami berbuka dengan permen. Disepakati menuju Sate Pak Kadir 6 yang berlokasi searah jalan pulang dan rasanya cukup enak menurut pengalaman. Ternyata bersebelahan dengan Sop Duren Lodaya. Deuh..goyah ni mau kemana.
Hehe.. Udah..sate aja.

Sembari memesan teh manis hangat dan 5 tusuk sate kambing + nasi hangat, saya sholat maghrib. Sebelumnya, saat menulis pesanan..kami melihat tayangan televisi. Tampak Teuku Wisnu sedang diwawancarai Dedi Corbuzier. Sedang acara Hitam Putih rupanya. Ada sedikit perbincangan menarik...

"Itu Teuku Wisnu? Kok berubah gitu ya? Aneh ih ngedadak gitu. Amit-amit. Celana cingkrang pula.. Kenapa bisa begitu ya?" seorang menanggapi gambar TW. Saya tergerak untuk membalasi,"Proses menuju begitu juga mungkin tidak mendadak bu, tidak serta merta berubah. Dia mungkin sudah belajar dan mempertimbangkan semuanya..." Di dakam hati saya melanjutkan,"Lagipula, apa salahnya dengan celana cingkrang? -_-"

"Iya ya.. Sayang banget ya..."
Lho, apanya yang sayang banget siiih... Geregetan. Tapi saya males nanggepin lagi. Percuma.

Balik ke tayangan, TW masih diwawancara DC. Saya yang hari ini sudah mendapat dua kabar/kejadian gak enak jadi menduga yang nggak-nggak #astaghfirullaah
--Pagi tadi, newsfeed ramai dengan video kesaksian murtadnya Lukman Sardi. Siang tadi, diomelin seorang Hindu yang tidak kebagian jatah makan siang lalu bilang,”Kita kehabisan nih… Gak kebagian… Panitia gimana ya? Kami kan bukan muslim, jadi tidak puasa. Kalo kayak gini, kita keluar aja. Lainkali gak diundang juga gapapa…” Maaf bu, salah sasaran ngomel-ngomel ke kami -_-‘

"Ini mau ngetes atau ngambil kesempatan untuk meremehkan artis yang sudah berhijrah ingin lebih baik dan taat pada Tuhannya apa ya...Duh.. Semoga lisan dan jawaban artis narasumber ini gak menimbulkan multitafsir atau membuat orang makin semangat nyerang balik..." (padahal sih ya, penerimaan penonton siapa juga yang bisa tau atau mengatur..)

Ya sudah.. Shalat aja dulu. Mumpung sepi dan gak ada laki-laki di mushola dalam warung sate itu.

Selesai shalat, artis yang duduk bersama DC bertambah. Ada David Chalik disana. Juga Nycta Gina sebagai host pendamping. Mereka melanjutkan obrolan. Kali ini, TW dan DC ditanya tentang hijab. DC menyatakan bahwa harusnya wanita yang berhijab mempunyai kelakuan yang baik karena pakaiannya sudah baik. TW menjawab manusia berubah lebih baik itu butuh proses. Awalnya mungkin beranjak dari pakaian. Kemudian David Chalik menanggapi.. Sayangnya saya sudah tidak terlalu mengikuti karena sedang asyik menyantap 5 tusuk sate kambing kecap bertabur potongan cabe rawit yang sukses bikin saya huh hah huh hah kepedesan. Ilang fokus deh, he he..

Intinya adalah, saya hanya menyayangkan tanggapan teman-teman saya tadi. Padahal TW secara harfiah memang terlihat lebih baik. Dengan janggut lebat dan celana cingkrangnya, tadi beliau sempat menyatakan memang sudah memilah pekerjaan atau tokoh dalam sinetron yang akan dilakoninya. Bukankah itu proses yang perlu diapresiasi? Stereotipe yang takut dengan muslim dengan tampilan begitu, sudah tidak cocok bagi masyarakat perkotaan yang mengaku modern dan terbuka. It’s so yesterday.

Tapi, memang demikianlah sepertinya yang banyak berkembang dalam masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim ini. Malah tanggapan negatif atas usaha seseorang untuk benar-benar menerapkan aturan Islam justru datang dari sesame muslim. Saya ingat juga pernyataan TW dan David Chalik yang menyatakan bahwa, ketika seseorang memutuskan untuk masuk dalam suatu agama, baik itu dari muslim ke non muslim atau sebaliknya, maka seseorang itu harus siap dengan konsekuensi yang ada dalam agama barunya tersebut. Seseorang yang sedang hijrah menjadi lebih baik dalam menjalankan syari’at Islam, juga sedang belajar untuk menjadi muslim yang baik dengan berusaha konsisten akan mempraktikkan ajaran dalam Islam. Betul kan ya…

Kita semua tentu berharap, TW dapat istiqomah dan lebih baik. Begitu pula dengan teman-teman lain yang terlihat 'berubah'. Sudahi komen tidak perlu, dukung usahanya; setidaknya dalam untaian do’a kita. Juga, mungkin kita sendirilah yang perlu mengubah sudut pandang dan turut mempelajari agama Islam itu sendiri, agar tidak merasa aneh atau janggal dengan hal-hal yang sebenarnya memang baik. Cmiiw.


Ingat Setahun Zhafran



Baby Z!
Setahun sudah kebersamaan kita, ya? ^^
Terimakasih sudah menjadi anak yang sangat menyenangkan.
Terimakasih sudah mengobati kekhawatiran jelang lahirmu ke dunia.
Terimakasih sudah mengajarkan kembali makna kepasrahan dan perjuangan 
seorang ibu.
Terimakasih sudah mau bekerjasama.

9 Oktober setahun lalu,
Teringat, masih asik main dengan mamasmu, Tsaqif. Juga sedang bersiap pamit untuk dinas ke Bogor keesokan harinya. Masih sempat momotoran dengan mas Tsaqif di seputaran kaja-pasar ciracas, untuk sekedar meluluskan permintaan mamasmu 'jayan jayan'.

Waktu bergilir berjalan. Sore, maghrib, malam. Ummi memang sedang susah tidur dan esok harinya akan bertugas ke Bogor #teteup . Tengah malam, kau mulai memainkan gelombang cinta. Sambil memandangi dua lelaki yang sedang lelap, Ummi nanya, "Dedek dah mau keluar ya? Hati-hati ya..awas jangan nabrak-nabrak...." :B  

Mulai deh kita praktik relaksasi dzikr. Terimakasih ke tante Astri Hapsari yang dah ngingetin perihal tsb. Oia, belajar dari pengalaman melahirkan mamasmu, Umi memperbaiki teknik pernapasan sehingga 'lebih nyaman'. Tapi, tetap saja, yg namanya kontraksi itu tetep 'nikmat', hehe...

Sekitar pukul 2 pagi, gelombang cintamu semakin cepat. Lalu, Umi mulai membangunkan Abi untuk menemani periksa ke bidan di dekat rumah kita. Ditemani si putih, kita menuju ke tempat bidan. Gerbang 'forbiddenmenghalangi. Akhirnya jalan kaki. Tok tok tok... Bu bidan menyambut dengan baik, walau jelas mereka (3 orang) masih mengantuk :) Ow ternyata sudah bukaan 4. "Besok pagi sekitar jam 7 balik lg aja bu, ini sih masih lama." 

Sekembalinya ke rumah, dedek masih bersemangat. Jadilah kita lanjutkan bercengkrama. Waw, sepertinya dedek semakin cepat mau bertemu kami. Sehingga setelah menunaikan shalat subuh, kita capcus ke bidan lagi. Alhamdulillah kali ini pagar kompleks sudah terbuka :b

Bukaan 7. Oke, waktu bertemu sepertinya sudah dekat! Ingat tidak, waktu itu, Ummi-Abi-dedek masih asik saja ngobrol :) Sekarang ditambah dengan bidan. Jadilah menunggu dedek keluar tuh, kita lanjutkan ngobrol. Dedek pinter...sholih.... Ummi gak sabar nunggu bukaan sempurna dan sudah siap-siap bertemu dedek. Sampai nanya terus ke 3 bidannya,"Emang harus bukaan 10 ya baru bisa dikeluarin?" xixi.. Miring ke kiri dan cukup dengan 2-3 kali 'push', dedek lahir ke dunia. Alhamdulillaah! Welcome baby Z :*

Senangnyaaa... Tangisanmu begitu keras memenuhi ruangan sekitar 3x4 meter persegi itu. Segera setelah kau lahir, bidan sigap membersihkan rahim Ummi. Dan kau, diangkat mendekati Ummi (belum dibersihkan) dan kita lanjut Inisiasi Menyusui Dini. Melihat lekat wajahmu, memeluk tubuh kecilmu adalah sebuah kesyukuran tersendiri karena Ummi tidak perlu mendapat perlakuan induksi yang menyakitkan. Tepatnya menyarukan rasa sakit melahirkan yang sebenarnya. Proses kelahiranmu saat ini, benar-benar bisa Ummi nikmati dan ikuti sepenuh hati. Tanpa kekhawatiran lebay. 

Kenapa lebay? Karena Ummi 'sedikit' trauma akan sakit saat melahirkan. Betapa tidak, saat kelahiran pertama itu, Ummi mungkin belum menyiapkan bekal yang cukup dan memang selalu terbayang kengerian akan bertemu dokter (penyakit lama : takut dokter hadeeh..) Ummi harus mengalami induksi 3 kali (2 kali pil, 1 kali infus) dengan kondisi yang memprihatinkan hehe... *tuh kan lebay* Ingat banget dulu sebagian tubuh Ummi sempat ba-al, mati rasa dan suami tersayang -Eko Fitrianto- ;b tampak begitu khawatir dan berair mata demi melihat istrinya seperti mau........ ah sudahlah... Pengalaman itu benar-benar membekas dan Ummi memang berazzam ingin memperbaiki ilmu dan teknis melahirkan agar pada pengalaman selanjutnya, bisa merasakan lahiran dengan lebih enjoy dan tanpa trauma. Bersyukur Allah berikan kesempatan itu, saat melahirkanmu, putra kedua :))

Beberapa saat setelah IMD kami diberitahu bahwa kau lahir dengan berat 3 kg dan panjang 49cm, beda sedikit dengan kakakmu -Tsaqif- yang lahir 3,1 kg dan panjang 52cm. Tidak apa. Itu bagus. Periksa organ tubuh oke. Ummi terus mengucap syukur.

Bidan Iis, (koordinator) bidan yag menangani kelahiranmu ternyata menerapkan 'lotus birth' yaitu penundaan pemotongan tali pusar. Memang dalam praktiknya, hal ini masih mengandung kontroversi. Karena sebelumnya Ummi sudah banyak baca dan cukup setuju, Ummi membolehkan lotus birth untukmu. Tetapi, kami tidak menunda hingga pusarmu copot sendiri. Hanya 10 jam saja : dari 06:00 s.d. 16:00, sesaat sebelum kita pulang ke rumah.



Huff...
Muhammad Zhafran Adaby, semoga kau menjadi anak yang beruntung dan berakhlak baik. Beruntung karena bisa menjalani hari-hari kehidupanmu lebih baik dari waktu ke waktu. Menjadi anak yang sholih dan sehat. Allaahumma aamiin.

Barokallaah atas setahun usiamu, nak :*

~
Tulisan itu harusnya diposting pada setahun usia Zhafran. Sayang emaknya 
lupa, hehe..



Saat ini hampir jelang 2 tahun kebersamaan kita. Masya Allah... Makin banyak polahnya. Yang khas adalah tangisnya : khas sinetron, berirama ha ha... Tidak seperti mas Tsaqif yang mudah dibujuk kalo menangis, Zhafran lebih kekeuh. Bicara sampe sekarang masih babling seputaran 'yaaa' 'maaa' 'naaa' dengan beragam nada. Lebih suka ndorong-ndorong mobilan daripada dinaikin, xixi... Suka air very much! *main air maksudnya...-_-* itu sih, anak kecil pada suka kaliiii..hehe... Trus, apalagi yaa... Sudah bisa ikut gerakan dan ngerecokin ortunya sholat, tapi bagian sujud selalu saja khas: tengkurep he he.. Kalo lagi main kadang suka nyanyi-nyanyi sendiri gak jelas gitu, pas ketauan: nyengir xD Kadang kompak, lebih sering berantem sama mamasnya, tapi Zhafran lebih kuat psikisnya alias gak takut kalo ditakut-takutin mamas atau anak kecil seumuran, dia akan tetap bertahan malah dengan cool-nya, malah yang nggangguin yang nangis ha ha... Oia.. Zhafran lebih lama bisa lancar berjalan ketimbang Tsaqif, tetapi sebenarnya tanda mulai berjalan sama, hanya melancarkannya saja butuh waktu lama: Z baru lancar dan pede jalan sendiri ketika menginjak usia 15 bulan. Gpp ya dek... Jalani prosesmu sendiri :)

Zhafran akan dipanggil 'abang' aja. Untuk jaga-jaga kalo ntar punya adik lagi #halah #apasihhhh


Ide Permainan Anak (1)

Bergabung dengan grup sosial beranggotakan ibu-ibu memang mengasyikkan. Banyak hal yang bisa didiskusikan atau dibagikan. Misalnya pengalaman hamil, melahirkan, mengasuh anak, menangani anak ketika sakit, dan sebagainya. Atau berbagi resep masakan, tips perawatan wajah / tubuh, bahkan berjualan :)


Salah satu yang pernah saya dapatkan adalah ide permainan anaknya. Nih..saya copaskan :-D

Ide permainan bagi bayi & anak sesuai umur.. Silakan disimpan di notes/email bagi yg tertarik.. Takutnya tenggelam di tengah badai chat grup ini, hehe..

Ide permainan utk bayi: 
http://www.funathomewithkids.com/2013/09/the-ultimate-list-of-baby-play-ideas.html?m=1

Utk anak 1-2 tahun: http://www.learning4kids.net/category/1-2years/#

2-3 tahun: http://www.learning4kids.net/category/2-3years/

3-4 tahun: http://www.learning4kids.net/category/3-4years/

4-5 tahun: http://www.learning4kids.net/category/4-5years/

5 tahun ke atas: http://www.learning4kids.net/category/over-5-years/


Itu di atas cuma sedikit sih..hehe.. Berhubung saya sudah beberapa hari belum setor tulisan, jadi dibagi yang ada aja deh :b 
Lain kali disambung.... Caooooo...

Senin, 15 Juni 2015

Temu Semu

Aku sedang
Berdialog dengannya
Mungkin tidak langsung dan bahkan
Mungkin dia tidak tahu bahwa
Aku sedang berdialog dengannya
Ya
Dialog dua hati
Komunikasi yang tanpa saling. Saling tau atau saling menyadari
Obrolan yang bisu
Tapi seolah seakan akan benar bertukarpikiran satu sama lain
Perbincangan yang tidak tepat juga jika dikatakan semu
Karena hai
Ini sungguh benar ada
Aku di sini
Dia entah dimana, tapi kutahu, dekat-dekat sini juga

Kuamati ia lewat tetulisannya
Kujenguk ia lewat tutur-tuturnya
Kutelisik ia lewat jaring jemaring sentuhan ujung indra
Kucari keberadaannya lewat karya
Kupanggil ia dengan cinta nan mesra

Kadang kami tak sengaja berselisih 
Tak sengaja berpapas
Kuyakin ia pun sadar 
Sebagaimana kusadar tapi kubiar

Setelah itu pun
Kami masih asik berdiskusi
Walau tak berhadapan
Walau tak bertatapan
Walau tak bersatumeja
Seakan benar
Benar-benar seakan akan
Sedang bersama

Sabtu, 13 Juni 2015

Rindu Pantai (Panjang)

Membayang di pelupuk mata
Hamparan luas pantai memanjang
Kuhirup udara pelan pelan
Kuresapi desahan angin yang membelai 
Damainya sampai ke hati
Alangkah menenangkan
Memandang jauh ke arah lautan
Betapa kecil diri
Maha Besar Allah yang mencipta sungguh sempurna