nellysapta

nellysapta
kering berseri (rimbo pengadang-lebong-bengkulu 2014)

Selasa, 12 Juli 2016

[jumpakawan] Tria Abrianti


Itu, cewek berkerudung hitam di sebelah kanan saya (kerudung pink) adalah temen SMP, tetanggaan SD, sebut saja nama aslinya ia itu : Tria Abrianti :p

Senang sekali bisa berjumpa kembali setelah sekian lama, dari tahun 1999 saya pindah ke Bengkulu, sampai dengan 2015. Kebetulan banget pas saya sedang dinas ke Malang dalam rangka mengikuti kegiatan PEI (Perhimpunan Entomologi Indonesia) dan Tria sedang menjalani kuliah di Unbraw (doi dapat beasiswa sandwich Bappenas Unbraw-Jepang *selamat yaaa*). Akhirnya janjian ketemuan. Dan..pastinya ya foto-foto untuk mbukti hehehe...

Tria Abrianti. Inget banget. Itu maksudnya, anak ke-3 yang lahir pas ultah ABRI (5 Oktober) 85. Nama yang simpel dan unik lah *uhuy*. Anaknya lumayan pendiam *walau sebenarnya cerewet ---lah lah.. kok kontradiktif xD*, pinter, kreatif, kadang suka beda ndiri pemikirannya ma temen-temen yang lain, dan tulisan tangannya bagus banget haha... Dulu, jaman SMP tu lagi 'in' banget nulis pake pena yang diisi 'ink parker' itu loh... Nah Tria ini tulisannya asa ketikan dengan tulisan klasik gitu... *sayang gak ada foto sebagai bukti* Saya suka banget liatin dan niru-niru nulis kayak doi. Dasar ababil, dulu tulisan saya gak pernah konsisten. Ada tulisan bagus dikit, diikutin, haha... jadilah tulisan di buku saya macam-macam gaya. Sebagian besar sih, sukses lah ditiru *ini juga gak ada bukti foto hahaha*

Oke deh, Tria, semoga lancar dan berkah studinya, bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. See u next time dalam kesempatan dan tampilan kita yang semakin baik huahaha....

Pertama Kali Naik Kuda

Siapa yang pernah berkuda, tunjuk tangan hayooo....!
Saya dong udah pernah, baru-baru ini wkwk... telat banget yak xD
Kapan? Pas nemenin Zhafran soale doi gak berani sendiri hehe.. *modus asli ini mah, padahal emaknya juga kepengen*
Rasanya? Jangan ditanya. Asa mau jatoh aja dah...Ternyata begitu ya... Goyang-goyang asa oleng siap jatuh kapan aja *norak*

"Pak, ni kok miring gini goyangnya, asa mau jatuh ni saya" 
"Tenang aja bu, emang gitu rasanya tapi gak bakal jatuh kok, yang rileks bu..rileks aja.."
wkwk... ndeso tenan koe nell.. Anakmu aja nyantai malah ketagihan pengen lagi pengen lagi

Yang belum pernah merasakan naik kuda, sebaiknya mencoba walaupun itu cuma untuk sekali seumur hidup wkwk #eh
Ketawa aja dari tadi. Girang apa stress nell?


Naik kuda pertama kali di Taman Matahari Cisarua, Mei 2016


Nggak, seriusan. Asik kok, walau yaa...wajar kalo pertama kali rada deg-degan, gak nyaman, kaku, dll. Kalo saya pribadi jadi membayangkan, "Wuih itu keren banget ya yang bisa berkuda sambil ngelakuin hal lain misal sambil manah, sambil atraksi, dll... lha ini ngatur keseimbangan aja susah(-susah gampang) apalagi sambil memanah..wohhhh...kereeen ternyata yaaaa.. konsentrasinya dobel-dobel"

Umumnya, biaya naik kuda di tempat wisata adalah 25rb per sekali jalan. Coba bisa lebih murah ya..hehehe.... *biar bisa berkali-kali gituuuu*


Yaaa....udahan...lagi..lagi..lagi....

Apa Kabar ODOP?

one day one post?
apa kabar?
jawab : kabarku baik-baik saja, tertulis tapi tidak ter-post.
Alasan!!

#dahgittuaja
#haha

Minggu, 20 Maret 2016

Anak Main? Oke!

Huff, anak-anak emang punya macam-macam gaya dan kebiasaan. Mungkin itu juga menjadi bagian dari cetakannya. Ada anak yang aktif, hiperaktif, atau pasif. Duo bocah lanang di rumah, kalo main apapun, rasa-rasanya belum pernah bertahan lama atau betah gitu. Misalnya mobil-mobilan, udah dimainin bentar bukannya dimainin sewajarnya tapi malah dibongkar-bongkar. Klo beli mainan berukuran kecil lainnya pun sama: akan berakhir tragis *haha*. Gak diarahkan? Uwow, main diarahkan tu rasanya gimanaa gitu, kalo dibilangin bahwa ini mobil-mobilan, biasanya mainnya gini, bla bla, itu mah iya. Tapi, kelanjutannya gimana kalo dah dipegang mereka, saya biarin aja. Kecuali kalo udah mulai merusak, lempar-lempar atau sejenisnya. Baru mulut mulai ngoceh maning heheu....

Jalan lain, saya memutuskan membelikan mainan yang ukurannya lumayan besar bagi mereka. Mobil-mobilan yang bisa dinaiki, sepeda, atau mainan lain yang berukuran lumayan. Nah, yang ini emang lumayan awet, walau ada beberapa bagian mainan tersebut yang juga dibongkar, tapi masih bisa tetap berfungsi. Alhamdulillah.

Tapi tapi... pengen juga lah tetep ngasi mainan yang melatih sensorik motorik mereka. Entah itu playdough, pasir, beras, air, puzzle, dll. Oke, usahakan memang sekali pakai atau bisa beberapa kali, tergantung kondisi. Lebih enaknya, bikin sendiri. Tapi untuk eksplorasi sensorik tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk main di luar saja. Terserah mau main pasir, berenang, main air di ember, dll. Kalo puzzle, semuanya berakhir tidak sempurna alias pada ilang *wkwk* Ya sudahlah..nanti juga ada waktunya.

Dari bangun hingga tidur, adaaa aja kegiatannya. Duo TsaZha selalu aktif. Di dalam atau di luar rumah. Jadi, emang harus banyak sabar juga kalo rumah selalu berantakan! *halah hhahalesaaaann.. xD* Harus berebsar hati juga menghadapi keaktifan dan keberisikan mereka. Kalo lagi diem, malah kasian. “ni anak kenapa tumben diem” wkwk... Emang wajar ya, mereka masih ingin mengenal segala sesuatunya. Baguslah. Jadi teringat wejangan bahwa sebenarnya anak yang cerdas itu bukan yang semata pintar menjawab pertanyaan, tapi malah justru anak-anak yang banyak bertanya *tentang apapun* itu sangat baik untuk mendukung perkembangan pemikirannya. Okeh deh...

Ni ada foto Zhafran lagi main nyusun balok-balok. Emang sih, sebenarnnya permainan math block ini cocoknya untuk anak usia 5+ tapi saya emang sengaja kasih untuk mereka mengenal bentuk, warna, menyusun, dll. Alternatif murahnya bisa juga memanfaatkan barang apapun sebenarnya. Ini mah dasar emaknya aja sok-sok pengen ikutan beli mainan gituan >.<



Simpulannya, saya ingin membiarkan mereka memainkan apapun yang ingin mereka mainkan. Mengenal apa yang ingin mereka ketahui. Selama itu tidak berbahaya, tugas saya sebagai orang tua adalah memfasilitasi, mendampingi, dan mengarahkan jika perlu. Mainan tidak perlu mahal. Jika ada yang bisa kita buat alternatif sejenis, manfaatkan saja. 

Oke kiddos, let's play more! ^^

Kamis, 17 Maret 2016

Simpan Kafan

Sudah banyak cerita yang menyatakan bahwa orang-orang ‘dulu’ terbiasa menyiapkan kain kafan dan perlengkapan terkait yang dibutuhkan saat seseorang sudah meninggal. Kain kafan dan teman-temannya disimpan di suatu tempat, biasanya di lemari, agar bisa digunakan segera setelah mereka meninggal. Bagaimana dengan kita di era ini? Sudahkah kita menyiapkan kafan dkk. tersebut? Atau jangan-jangan malah gak kepikiran...
*
Kita tidak tau kapan kita akan meninggal. Sejauh ini, kita masih nyaman dengan kehidupan yang kita jalani. Walau mungkin, sering sesaat sebelum tidur malam, kita terpikir mengenai bagaimana seandainya kita tidak terbangun lagi, lantas berlanjut pada bayangan pasca kematian : bagaimana kita setelah meninggal, siksaan sepedih apa yang akan kita hadapi atau kebahagiaan seperti apa yang akan kita alami, apa yang akan terjadi di alam kubur dan selanjutnya? Ngeri? Kalo saya, iya. Bahkan jadi semakin susah tidur, saking takutnya.
**
Well, selain kafan dkk. tentu saja kita harus menyiapkan amal terbaik saat hidup. Masalahnya, kenyataan praktiknya tidak semudah itu. Kita ingin menjadi baik, tapi tidak sabar, tidak menambah ilmu yang dibutuhkan dan pada akhirnya memutuskan untuk berlaku tidak baik (tentu saja ini subjektif). Kita ingin masuk surga yang penuh dengan kenikmatan, tetapi mengabaikan persyaratan untuk memenuhinya.
***
Harga perlengkapan kafan standar sekitar 400 rb-an *lumayan juga kan*. Bisa lebih mahal atau murah, tergantung jenis kain dan perlengkapan tambahannya. Secara umum isinya adalah perlengkapan mulai dari mandi hingga menguburkan, yaitu kain panjang, gayung+sabun mandi+sarung tangan, kapas, kamper atau bubuk cendana, kain kafan (dewasa: lelaki biasanya 11 m, wanita 13 m – tergantung postur tubuh juga, itu ukuran standar): kain kafan ini bisa yang masih dalam lembaran atau sudah dipotong-potong sesuai pola yang dibutuhkan, tikar pandan. Handuk bisa menyiapkan sendiri atau request sekalian disiapkan.
****
Kita juga bisa kok. Tinggal beli, hehe... Simpan di lemari dan sampaikan ke keluarga bahwa kita menyimpan kafan kita di sana. Perkara akan dipakai atau tidak, terserah nanti. Yang jelas kita sudah menyiapkan.

Gimana?

Senin, 07 Desember 2015

sekedarenung

perjalanan yang tidak berjeda
lagi-lagi-lagi
meninggalkan kesayangan
berpisah sejenak
untuk bertemu kembali setelah usai menyelesaikan urusan
yang sebenarnya mudah
tapi ternyata labirin

pagi buta atau jelang malam
disambangi
mau saja

penatnya tuh di sini
:tengkuk

bahagianya tuh ada saja
kesalnya juga ada : tapi tidak perlu dirisaukan panjangpanjang
ceritanya lebar
jadi tau beberapa hal
tidak banyak
karena sebagian besar hanya keluh

manusia manusia...
syukurnya jangan dihentikan
senyumnya jangan dihilangkan
hikmahnya jangan dicampakkan
kerjanya jangan malasmalasan

kelam
puing. nguing.
berpadu riuh
tapi merupa irama yang asa teduh

-argojati 17:15/19:58-

Kamis, 19 November 2015

Keberanian, memang milik kalian, Palestina!

Ya Allah,
Betapa kami sangat terlena kehidupan dunia. Terlena kehidupan sementara di dunia, tepat di tempat kami berpijak saat ini, di bumi bagian Indonesia. Negeri yang konon katanya kaya raya, berlimpah sumber daya alam, penuh orang-orang ramah, punya banyak daerah wisata, dan...sudah bebas dari perang.

Oh ya?
Apakah kita tidak menyadari, bahwa justru saat ini kita sedang berhadapan dengan lawan perang yang sesungguhnya. Diri kita sendiri! Perang dengan pemikiran kita yang mudah terbawa giringan berita. Perang dengan kemalasan diri kita sendiri untuk tidak lalai belajar, belajar mengenai bekal akhirat dan dunia. Perang melawan rasa takut kita sendiri untuk keluar dari ruang nyaman. Perang melawan perasaan ingin melupakan rasa sakit dan penderitaan yang tidak ingin kita rasakan sebagaimana orang lain -atau katakanlah orang-orang yang bangsanya sedang ditimpa bencana perang fisik-. Ngeri? Ngeri bukan?

Saat ini, saudara-saudara muslim maupun masyarakat umum di Palestina, Syiria, Irak, Bangladesh, Burma, Rohingya, sudah jelas kita ketahui sedang disiksa penjajahnya. Belum lagi saudara kita yang lain dimanapun berada, yang juga mengalami kondisi menyedihkan: kelaparan, kegalauan ekonomi, ditelantarkan, kepayahan, dan sebagainya. Oke, tidak jauh-jauh...bagaimana dengan tetangga kita? Sudahkah kita senang kenyang, tapi mengabaikan tetangga yang kelaparan, kerepotan?

Saya,
Tertegun melihat orasi anak perempuan ini.

Tidak ada nada gentar dalam kalimatnya. Hanya satu: yakin. Begitu percaya diri. 

Jika seusia belia itu saja bisa mengerti kondisi bangsanya saat ini, bagaimana dengan kita yang sudah lebih dulu dilahirkan? Yang sudah dibentangkan banyak kesempatan untuk mencari tau dan membantu. Gentar. Ya gentar, tidak seperti mereka. Apa perlu kita langsung ke Palestina untuk merasakan diperangi, baru benar yakin tentang berita Palestina?

Itu baru satu kondisi. Jika mau, banyak video lain. Dan tentu saja itu bukan settingan. 

Ya Allah,
Sesungguhnya kamilah yang patut mengasihani diri kami sendiri. Atas semua ketidakacuhan pada saudara sesama muslim yang sedang disiksa dikepung sedemikian hingga dihadapkan pada kesedihan yang bertubi-tubi. Keimanan mereka sungguh teruji. Berbeda dengan kami, yang baru tidak dibayar semestinya saja sudah mencak-mencak merasa mendapat upah yang tidak layak padahal sudah bekerja dengan sangat baik (padahal itu uga penilaian subjektif). 

Sesungguhnya kamilah yang patut berbahagia dapat belajar dengan nyaman. Dapat mengaji dengan sepuasnya : guru ada, akses informasi mudah, alat pendukung ada, lingkungan segar dan sebagainya. Tapi nyatanya, justru kami yang kalah jauh dari mereka yang sedang dalam masa sulit. Kami sungguh benar-benar terlena. 

Palestina, keberanian memang milik kalian.



Duhai Allah, semoga muslim dimanapun berada, yang terpaksa harus merasakan dampak dikucilkan, diremehkan, dilecehkan atau sejenisnya, bisa bersabar atas semua yang terjadi dan tetap bisa menjaga akhlaknya. Hanya pada-Mu lah kami berdo'a dan memohon ampun. Engkaulah sebaik-baik penjaga dan penentu segalanya.