nellysapta

nellysapta
kering berseri (rimbo pengadang-lebong-bengkulu 2014)

Rabu, 03 Agustus 2016

Mungkin Kelak

mungkin kelak 
suatu saat kita akan merindu 
pucukpucuk pelindung 
atas kepalakepala 
lengkap dengan kuda besi beragam gaya 

mungkin kelak 
sewaktuwaktu bisa saja kita rindu 
kelapkelip lelampu
yg sekian lama gemerlap
menyilaukan gelap

mungkin kelak
suatu ketika kita teringat
pernah ada jejeran terbitan
lembarlembar menyatu yang
lengkap dgn tetulisan

mungkin kelak
suatu waktu kita akan marah, mengamuk, tergugu
ingat biru di ujung kuku
'ah, seandainya bukan......'
ingin bertukar masa

mungkin kelak
ada masa, kita sesak oleh buncah
mozaik senja yg ber-jumpalitan tak karuan
yang pernah menoreh sesal,
menarikan rasa bangga,
menggores duka,
menampar riak dalam
hati
sedemikian rindu. serindu-rindunya.

mungkin kelak
seketika kita terkejut
'semua tak sama'



::pikiran layaknya parasut. ia akan berguna 'tika dibuka::

28 Juli 2012

Kamis, 14 Juli 2016

Berwisata ke Lombok? Sekalianlah ke Kampung Sasak 'SADE'

Salah satu efek samping dari perjalanan dinas adalah saya bisa sekalian berkunjung ke lokasi wisata di daerah yang sedang didatangi. Yaa...kalo kebetulan ada waktu dan kesempatan aja. Gak memaksakan juga sih... Misalnya ketika ditugaskan menemani peserta daerah (Festival Hortikultura 2015) untuk jalan-jalan ke daerah wisata di sekitaran lombok, Kampung Sasak 'SADE' menjadi salah satu tujuan dalam daftarnya. Jadilah saya ikut-ikutan hehehe...

Katanya, kalo ke NTB tapi belum ke kampung ini, rasanya belum lengkap. Emang apa bagusnya? Tergantung darimana kita mau menikmatinya *dibikin ribet dah bahasanya xD* Sebenarnya kampung ini ya kayak kawasan pemukiman biasa yang ditinggali oleh orang asli sasak. Sebelum ke sini, saya diceritakan bahwa warga kampung sangat menjaga orisinalitas kampungnya, mempertahankan beberapa kebiasaan dan adat yang ada... selebihnya... ya 'biasa saja'. Ketika saya berkunjung kesana, ya saya hanya membuktikan cerita tersebut. Benar! ^^

Namanya juga bukan wisata hura-hura, tetapi wisata sejarah. Tentu kita harus menilik keistimewaannya dari sisi tersebut juga. sebelumnya, ini dia beberapa dokumentasi yang sempat saya ambil. Oia, kampung ini terletak di Desa Rimbitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Prov. NTB. Kalo dari bandara, keluar trus ke arah kiri ;B sekitar 10 km. Yang sedang galau bisalah dari bandara lari-lari nyampe Kampung Sasak haa.... *biar energinya kesalur gituhh*

sambutan dari perwakilan warga kampung sasak

Kain tenun yang dijual di Kampung Sasak

Hampir setiap rumah di kampung sasak berjualan kerajinan khas lombok, semisal kain tenun, selendang tenun, gelang, sandal, atau gantungan kunci. Untuk kain, karena proses tenun yang lumayan memakan waktu dan memerlukan skill serta ketelitian yang baik, maka harganya cukup tinggi. Satu kain tenun ukuran 1x2 m persegi dihargai dengan 250-300rb. Kalo mau mencoba, bisa saja menawar. IMHO, jangan keterlaluan tapi yaa... 

Salah seorang wanita di Kampung Sasak sedang menenun kain

Jadi teringat ketika ke perkampungan Baduy di Banten... Umumnya wanita di Kampung Sasak juga diajari menenun. Kegiatan tersebut akan berguna untuk membantu menopang keuangan keluarga mereka. Alat tenun yang digunakan juga masih sederhana. *liatnya kayak gampang banget, pas nyobain...beuh..*

Ngobrol dikit sama nenek yang sedang memintal benang, ikutan nyobain juga ^^

Sebagian besar warga Kampung Sasak beragama Islam. Masjid kampungnya bagus lhoo.. Saya juga bertemu dengan anak-anak yang sedang belajar mengaji. Hiks, memori sewaktu kecil terkuak sudah...sayangnya waktu kecil saya bandel, belajar sih belajar tapi iseng ma temen jalan terus *aaaak





Foto-foto masjid di Kampung Sasak, sempat pose juga *teteup*

Ciri khas bangunan di Kampung Sasak adalah atap dan penataan ruangan. Atapnya terbuat dari jerami padi yang dikeringkan. Bentuknya khas, ntar deh, lihat aja foto terakhir hehe... Bentuk atap yang khas itu uga sering menjadi motif batik Lombok. 

Selain masjid, sepertinya lantai di rumah warga tetap beralaskan tanah. Tapi kinclong nian. Pssttt... Mereka ngepel bukan dengan air atau kelapa, tapi dengan kotoran sapi! Itu adalah salah satu kebiasaan dari duluuuuu... tapi rumahnya gak bau kotoran. Hmm... Saya gak nanya lebih jauh sih, jadi gak bisa cerita banyak tentang hal itu. Yang jelas, secara berkala mereka mengepel rumahnya dengan kotoran sapi.






Contoh isi rumah warga di Kampung Sasak

Hmm.. apalagi ya.. Ceritanya sampai situ aja... saya bagi beberapa pengalaman pandangan mata lagi deh yaa... 





Yang tersisa adalah, kita sering perlu mengambil hikmah dari pengalaman masalalu orang-orang terdahulu, hal-hal baik kita pertahankan, sedang yang buruk ayolah kita usahakan untuk ditinggalkan. Toh pembangunan itu kan menuju hidup yang lebih baik, bukan hanya untuk kita tapi juga generasi kita. Move on itu gampang-gampang susah tergantung bagaimana kita menghayati dan menguatkan diri untuk menjalankan rencana yang lebih benderang. Hei..hei.. ini ngapa jadi kemana-mana nyimpulinnya? haha..kebiasaan out box wkwk.

Nah, bagi yang suka wisata sejarah dan sudah berencana mau ke Lombok, bisa sekalian datang Kampung Sasak 'SADE' ini ya ^^

Gak sempat foto bareng, yahh..dapat yang rada maksa gini haha...

Selasa, 12 Juli 2016

[jumpakawan] Tria Abrianti


Itu, cewek berkerudung hitam di sebelah kanan saya (kerudung pink) adalah temen SMP, tetanggaan SD, sebut saja nama aslinya ia itu : Tria Abrianti :p

Senang sekali bisa berjumpa kembali setelah sekian lama, dari tahun 1999 saya pindah ke Bengkulu, sampai dengan 2015. Kebetulan banget pas saya sedang dinas ke Malang dalam rangka mengikuti kegiatan PEI (Perhimpunan Entomologi Indonesia) dan Tria sedang menjalani kuliah di Unbraw (doi dapat beasiswa sandwich Bappenas Unbraw-Jepang *selamat yaaa*). Akhirnya janjian ketemuan. Dan..pastinya ya foto-foto untuk mbukti hehehe...

Tria Abrianti. Inget banget. Itu maksudnya, anak ke-3 yang lahir pas ultah ABRI (5 Oktober) 85. Nama yang simpel dan unik lah *uhuy*. Anaknya lumayan pendiam *walau sebenarnya cerewet ---lah lah.. kok kontradiktif xD*, pinter, kreatif, kadang suka beda ndiri pemikirannya ma temen-temen yang lain, dan tulisan tangannya bagus banget haha... Dulu, jaman SMP tu lagi 'in' banget nulis pake pena yang diisi 'ink parker' itu loh... Nah Tria ini tulisannya asa ketikan dengan tulisan klasik gitu... *sayang gak ada foto sebagai bukti* Saya suka banget liatin dan niru-niru nulis kayak doi. Dasar ababil, dulu tulisan saya gak pernah konsisten. Ada tulisan bagus dikit, diikutin, haha... jadilah tulisan di buku saya macam-macam gaya. Sebagian besar sih, sukses lah ditiru *ini juga gak ada bukti foto hahaha*

Oke deh, Tria, semoga lancar dan berkah studinya, bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. See u next time dalam kesempatan dan tampilan kita yang semakin baik huahaha....

Pertama Kali Naik Kuda

Siapa yang pernah berkuda, tunjuk tangan hayooo....!
Saya dong udah pernah, baru-baru ini wkwk... telat banget yak xD
Kapan? Pas nemenin Zhafran soale doi gak berani sendiri hehe.. *modus asli ini mah, padahal emaknya juga kepengen*
Rasanya? Jangan ditanya. Asa mau jatoh aja dah...Ternyata begitu ya... Goyang-goyang asa oleng siap jatuh kapan aja *norak*

"Pak, ni kok miring gini goyangnya, asa mau jatuh ni saya" 
"Tenang aja bu, emang gitu rasanya tapi gak bakal jatuh kok, yang rileks bu..rileks aja.."
wkwk... ndeso tenan koe nell.. Anakmu aja nyantai malah ketagihan pengen lagi pengen lagi

Yang belum pernah merasakan naik kuda, sebaiknya mencoba walaupun itu cuma untuk sekali seumur hidup wkwk #eh
Ketawa aja dari tadi. Girang apa stress nell?


Naik kuda pertama kali di Taman Matahari Cisarua, Mei 2016


Nggak, seriusan. Asik kok, walau yaa...wajar kalo pertama kali rada deg-degan, gak nyaman, kaku, dll. Kalo saya pribadi jadi membayangkan, "Wuih itu keren banget ya yang bisa berkuda sambil ngelakuin hal lain misal sambil manah, sambil atraksi, dll... lha ini ngatur keseimbangan aja susah(-susah gampang) apalagi sambil memanah..wohhhh...kereeen ternyata yaaaa.. konsentrasinya dobel-dobel"

Umumnya, biaya naik kuda di tempat wisata adalah 25rb per sekali jalan. Coba bisa lebih murah ya..hehehe.... *biar bisa berkali-kali gituuuu*


Yaaa....udahan...lagi..lagi..lagi....

Apa Kabar ODOP?

one day one post?
apa kabar?
jawab : kabarku baik-baik saja, tertulis tapi tidak ter-post.
Alasan!!

#dahgittuaja
#haha

Minggu, 20 Maret 2016

Anak Main? Oke!

Huff, anak-anak emang punya macam-macam gaya dan kebiasaan. Mungkin itu juga menjadi bagian dari cetakannya. Ada anak yang aktif, hiperaktif, atau pasif. Duo bocah lanang di rumah, kalo main apapun, rasa-rasanya belum pernah bertahan lama atau betah gitu. Misalnya mobil-mobilan, udah dimainin bentar bukannya dimainin sewajarnya tapi malah dibongkar-bongkar. Klo beli mainan berukuran kecil lainnya pun sama: akan berakhir tragis *haha*. Gak diarahkan? Uwow, main diarahkan tu rasanya gimanaa gitu, kalo dibilangin bahwa ini mobil-mobilan, biasanya mainnya gini, bla bla, itu mah iya. Tapi, kelanjutannya gimana kalo dah dipegang mereka, saya biarin aja. Kecuali kalo udah mulai merusak, lempar-lempar atau sejenisnya. Baru mulut mulai ngoceh maning heheu....

Jalan lain, saya memutuskan membelikan mainan yang ukurannya lumayan besar bagi mereka. Mobil-mobilan yang bisa dinaiki, sepeda, atau mainan lain yang berukuran lumayan. Nah, yang ini emang lumayan awet, walau ada beberapa bagian mainan tersebut yang juga dibongkar, tapi masih bisa tetap berfungsi. Alhamdulillah.

Tapi tapi... pengen juga lah tetep ngasi mainan yang melatih sensorik motorik mereka. Entah itu playdough, pasir, beras, air, puzzle, dll. Oke, usahakan memang sekali pakai atau bisa beberapa kali, tergantung kondisi. Lebih enaknya, bikin sendiri. Tapi untuk eksplorasi sensorik tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk main di luar saja. Terserah mau main pasir, berenang, main air di ember, dll. Kalo puzzle, semuanya berakhir tidak sempurna alias pada ilang *wkwk* Ya sudahlah..nanti juga ada waktunya.

Dari bangun hingga tidur, adaaa aja kegiatannya. Duo TsaZha selalu aktif. Di dalam atau di luar rumah. Jadi, emang harus banyak sabar juga kalo rumah selalu berantakan! *halah hhahalesaaaann.. xD* Harus berebsar hati juga menghadapi keaktifan dan keberisikan mereka. Kalo lagi diem, malah kasian. “ni anak kenapa tumben diem” wkwk... Emang wajar ya, mereka masih ingin mengenal segala sesuatunya. Baguslah. Jadi teringat wejangan bahwa sebenarnya anak yang cerdas itu bukan yang semata pintar menjawab pertanyaan, tapi malah justru anak-anak yang banyak bertanya *tentang apapun* itu sangat baik untuk mendukung perkembangan pemikirannya. Okeh deh...

Ni ada foto Zhafran lagi main nyusun balok-balok. Emang sih, sebenarnnya permainan math block ini cocoknya untuk anak usia 5+ tapi saya emang sengaja kasih untuk mereka mengenal bentuk, warna, menyusun, dll. Alternatif murahnya bisa juga memanfaatkan barang apapun sebenarnya. Ini mah dasar emaknya aja sok-sok pengen ikutan beli mainan gituan >.<



Simpulannya, saya ingin membiarkan mereka memainkan apapun yang ingin mereka mainkan. Mengenal apa yang ingin mereka ketahui. Selama itu tidak berbahaya, tugas saya sebagai orang tua adalah memfasilitasi, mendampingi, dan mengarahkan jika perlu. Mainan tidak perlu mahal. Jika ada yang bisa kita buat alternatif sejenis, manfaatkan saja. 

Oke kiddos, let's play more! ^^

Kamis, 17 Maret 2016

Simpan Kafan

Sudah banyak cerita yang menyatakan bahwa orang-orang ‘dulu’ terbiasa menyiapkan kain kafan dan perlengkapan terkait yang dibutuhkan saat seseorang sudah meninggal. Kain kafan dan teman-temannya disimpan di suatu tempat, biasanya di lemari, agar bisa digunakan segera setelah mereka meninggal. Bagaimana dengan kita di era ini? Sudahkah kita menyiapkan kafan dkk. tersebut? Atau jangan-jangan malah gak kepikiran...
*
Kita tidak tau kapan kita akan meninggal. Sejauh ini, kita masih nyaman dengan kehidupan yang kita jalani. Walau mungkin, sering sesaat sebelum tidur malam, kita terpikir mengenai bagaimana seandainya kita tidak terbangun lagi, lantas berlanjut pada bayangan pasca kematian : bagaimana kita setelah meninggal, siksaan sepedih apa yang akan kita hadapi atau kebahagiaan seperti apa yang akan kita alami, apa yang akan terjadi di alam kubur dan selanjutnya? Ngeri? Kalo saya, iya. Bahkan jadi semakin susah tidur, saking takutnya.
**
Well, selain kafan dkk. tentu saja kita harus menyiapkan amal terbaik saat hidup. Masalahnya, kenyataan praktiknya tidak semudah itu. Kita ingin menjadi baik, tapi tidak sabar, tidak menambah ilmu yang dibutuhkan dan pada akhirnya memutuskan untuk berlaku tidak baik (tentu saja ini subjektif). Kita ingin masuk surga yang penuh dengan kenikmatan, tetapi mengabaikan persyaratan untuk memenuhinya.
***
Harga perlengkapan kafan standar sekitar 400 rb-an *lumayan juga kan*. Bisa lebih mahal atau murah, tergantung jenis kain dan perlengkapan tambahannya. Secara umum isinya adalah perlengkapan mulai dari mandi hingga menguburkan, yaitu kain panjang, gayung+sabun mandi+sarung tangan, kapas, kamper atau bubuk cendana, kain kafan (dewasa: lelaki biasanya 11 m, wanita 13 m – tergantung postur tubuh juga, itu ukuran standar): kain kafan ini bisa yang masih dalam lembaran atau sudah dipotong-potong sesuai pola yang dibutuhkan, tikar pandan. Handuk bisa menyiapkan sendiri atau request sekalian disiapkan.
****
Kita juga bisa kok. Tinggal beli, hehe... Simpan di lemari dan sampaikan ke keluarga bahwa kita menyimpan kafan kita di sana. Perkara akan dipakai atau tidak, terserah nanti. Yang jelas kita sudah menyiapkan.

Gimana?