nellysapta

nellysapta
kering berseri (rimbo pengadang-lebong-bengkulu 2014)

Jumat, 19 Juni 2015

Tanggap Hijrah

 19 juni 2015, 2 ramadhan 1436 h
Sore.
Jelang berbuka, terburu-buru keluar hotel Grand Cempaka Cipayung karena memang tidak ikut bagian berbuka di sana. Plus lupa bawa bekal, air putih. Untung ada mobil bos yang bisa ditumpangi sembari pulang.

Semakin mepet waktu berbuka, dan benar saja...akhirnya kami berbuka dengan permen. Disepakati menuju Sate Pak Kadir 6 yang berlokasi searah jalan pulang dan rasanya cukup enak menurut pengalaman. Ternyata bersebelahan dengan Sop Duren Lodaya. Deuh..goyah ni mau kemana.
Hehe.. Udah..sate aja.

Sembari memesan teh manis hangat dan 5 tusuk sate kambing + nasi hangat, saya sholat maghrib. Sebelumnya, saat menulis pesanan..kami melihat tayangan televisi. Tampak Teuku Wisnu sedang diwawancarai Dedi Corbuzier. Sedang acara Hitam Putih rupanya. Ada sedikit perbincangan menarik...

"Itu Teuku Wisnu? Kok berubah gitu ya? Aneh ih ngedadak gitu. Amit-amit. Celana cingkrang pula.. Kenapa bisa begitu ya?" seorang menanggapi gambar TW. Saya tergerak untuk membalasi,"Proses menuju begitu juga mungkin tidak mendadak bu, tidak serta merta berubah. Dia mungkin sudah belajar dan mempertimbangkan semuanya..." Di dakam hati saya melanjutkan,"Lagipula, apa salahnya dengan celana cingkrang? -_-"

"Iya ya.. Sayang banget ya..."
Lho, apanya yang sayang banget siiih... Geregetan. Tapi saya males nanggepin lagi. Percuma.

Balik ke tayangan, TW masih diwawancara DC. Saya yang hari ini sudah mendapat dua kabar/kejadian gak enak jadi menduga yang nggak-nggak #astaghfirullaah
--Pagi tadi, newsfeed ramai dengan video kesaksian murtadnya Lukman Sardi. Siang tadi, diomelin seorang Hindu yang tidak kebagian jatah makan siang lalu bilang,”Kita kehabisan nih… Gak kebagian… Panitia gimana ya? Kami kan bukan muslim, jadi tidak puasa. Kalo kayak gini, kita keluar aja. Lainkali gak diundang juga gapapa…” Maaf bu, salah sasaran ngomel-ngomel ke kami -_-‘

"Ini mau ngetes atau ngambil kesempatan untuk meremehkan artis yang sudah berhijrah ingin lebih baik dan taat pada Tuhannya apa ya...Duh.. Semoga lisan dan jawaban artis narasumber ini gak menimbulkan multitafsir atau membuat orang makin semangat nyerang balik..." (padahal sih ya, penerimaan penonton siapa juga yang bisa tau atau mengatur..)

Ya sudah.. Shalat aja dulu. Mumpung sepi dan gak ada laki-laki di mushola dalam warung sate itu.

Selesai shalat, artis yang duduk bersama DC bertambah. Ada David Chalik disana. Juga Nycta Gina sebagai host pendamping. Mereka melanjutkan obrolan. Kali ini, TW dan DC ditanya tentang hijab. DC menyatakan bahwa harusnya wanita yang berhijab mempunyai kelakuan yang baik karena pakaiannya sudah baik. TW menjawab manusia berubah lebih baik itu butuh proses. Awalnya mungkin beranjak dari pakaian. Kemudian David Chalik menanggapi.. Sayangnya saya sudah tidak terlalu mengikuti karena sedang asyik menyantap 5 tusuk sate kambing kecap bertabur potongan cabe rawit yang sukses bikin saya huh hah huh hah kepedesan. Ilang fokus deh, he he..

Intinya adalah, saya hanya menyayangkan tanggapan teman-teman saya tadi. Padahal TW secara harfiah memang terlihat lebih baik. Dengan janggut lebat dan celana cingkrangnya, tadi beliau sempat menyatakan memang sudah memilah pekerjaan atau tokoh dalam sinetron yang akan dilakoninya. Bukankah itu proses yang perlu diapresiasi? Stereotipe yang takut dengan muslim dengan tampilan begitu, sudah tidak cocok bagi masyarakat perkotaan yang mengaku modern dan terbuka. It’s so yesterday.

Tapi, memang demikianlah sepertinya yang banyak berkembang dalam masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim ini. Malah tanggapan negatif atas usaha seseorang untuk benar-benar menerapkan aturan Islam justru datang dari sesame muslim. Saya ingat juga pernyataan TW dan David Chalik yang menyatakan bahwa, ketika seseorang memutuskan untuk masuk dalam suatu agama, baik itu dari muslim ke non muslim atau sebaliknya, maka seseorang itu harus siap dengan konsekuensi yang ada dalam agama barunya tersebut. Seseorang yang sedang hijrah menjadi lebih baik dalam menjalankan syari’at Islam, juga sedang belajar untuk menjadi muslim yang baik dengan berusaha konsisten akan mempraktikkan ajaran dalam Islam. Betul kan ya…

Kita semua tentu berharap, TW dapat istiqomah dan lebih baik. Begitu pula dengan teman-teman lain yang terlihat 'berubah'. Sudahi komen tidak perlu, dukung usahanya; setidaknya dalam untaian do’a kita. Juga, mungkin kita sendirilah yang perlu mengubah sudut pandang dan turut mempelajari agama Islam itu sendiri, agar tidak merasa aneh atau janggal dengan hal-hal yang sebenarnya memang baik. Cmiiw.


Ingat Setahun Zhafran



Baby Z!
Setahun sudah kebersamaan kita, ya? ^^
Terimakasih sudah menjadi anak yang sangat menyenangkan.
Terimakasih sudah mengobati kekhawatiran jelang lahirmu ke dunia.
Terimakasih sudah mengajarkan kembali makna kepasrahan dan perjuangan 
seorang ibu.
Terimakasih sudah mau bekerjasama.

9 Oktober setahun lalu,
Teringat, masih asik main dengan mamasmu, Tsaqif. Juga sedang bersiap pamit untuk dinas ke Bogor keesokan harinya. Masih sempat momotoran dengan mas Tsaqif di seputaran kaja-pasar ciracas, untuk sekedar meluluskan permintaan mamasmu 'jayan jayan'.

Waktu bergilir berjalan. Sore, maghrib, malam. Ummi memang sedang susah tidur dan esok harinya akan bertugas ke Bogor #teteup . Tengah malam, kau mulai memainkan gelombang cinta. Sambil memandangi dua lelaki yang sedang lelap, Ummi nanya, "Dedek dah mau keluar ya? Hati-hati ya..awas jangan nabrak-nabrak...." :B  

Mulai deh kita praktik relaksasi dzikr. Terimakasih ke tante Astri Hapsari yang dah ngingetin perihal tsb. Oia, belajar dari pengalaman melahirkan mamasmu, Umi memperbaiki teknik pernapasan sehingga 'lebih nyaman'. Tapi, tetap saja, yg namanya kontraksi itu tetep 'nikmat', hehe...

Sekitar pukul 2 pagi, gelombang cintamu semakin cepat. Lalu, Umi mulai membangunkan Abi untuk menemani periksa ke bidan di dekat rumah kita. Ditemani si putih, kita menuju ke tempat bidan. Gerbang 'forbiddenmenghalangi. Akhirnya jalan kaki. Tok tok tok... Bu bidan menyambut dengan baik, walau jelas mereka (3 orang) masih mengantuk :) Ow ternyata sudah bukaan 4. "Besok pagi sekitar jam 7 balik lg aja bu, ini sih masih lama." 

Sekembalinya ke rumah, dedek masih bersemangat. Jadilah kita lanjutkan bercengkrama. Waw, sepertinya dedek semakin cepat mau bertemu kami. Sehingga setelah menunaikan shalat subuh, kita capcus ke bidan lagi. Alhamdulillah kali ini pagar kompleks sudah terbuka :b

Bukaan 7. Oke, waktu bertemu sepertinya sudah dekat! Ingat tidak, waktu itu, Ummi-Abi-dedek masih asik saja ngobrol :) Sekarang ditambah dengan bidan. Jadilah menunggu dedek keluar tuh, kita lanjutkan ngobrol. Dedek pinter...sholih.... Ummi gak sabar nunggu bukaan sempurna dan sudah siap-siap bertemu dedek. Sampai nanya terus ke 3 bidannya,"Emang harus bukaan 10 ya baru bisa dikeluarin?" xixi.. Miring ke kiri dan cukup dengan 2-3 kali 'push', dedek lahir ke dunia. Alhamdulillaah! Welcome baby Z :*

Senangnyaaa... Tangisanmu begitu keras memenuhi ruangan sekitar 3x4 meter persegi itu. Segera setelah kau lahir, bidan sigap membersihkan rahim Ummi. Dan kau, diangkat mendekati Ummi (belum dibersihkan) dan kita lanjut Inisiasi Menyusui Dini. Melihat lekat wajahmu, memeluk tubuh kecilmu adalah sebuah kesyukuran tersendiri karena Ummi tidak perlu mendapat perlakuan induksi yang menyakitkan. Tepatnya menyarukan rasa sakit melahirkan yang sebenarnya. Proses kelahiranmu saat ini, benar-benar bisa Ummi nikmati dan ikuti sepenuh hati. Tanpa kekhawatiran lebay. 

Kenapa lebay? Karena Ummi 'sedikit' trauma akan sakit saat melahirkan. Betapa tidak, saat kelahiran pertama itu, Ummi mungkin belum menyiapkan bekal yang cukup dan memang selalu terbayang kengerian akan bertemu dokter (penyakit lama : takut dokter hadeeh..) Ummi harus mengalami induksi 3 kali (2 kali pil, 1 kali infus) dengan kondisi yang memprihatinkan hehe... *tuh kan lebay* Ingat banget dulu sebagian tubuh Ummi sempat ba-al, mati rasa dan suami tersayang -Eko Fitrianto- ;b tampak begitu khawatir dan berair mata demi melihat istrinya seperti mau........ ah sudahlah... Pengalaman itu benar-benar membekas dan Ummi memang berazzam ingin memperbaiki ilmu dan teknis melahirkan agar pada pengalaman selanjutnya, bisa merasakan lahiran dengan lebih enjoy dan tanpa trauma. Bersyukur Allah berikan kesempatan itu, saat melahirkanmu, putra kedua :))

Beberapa saat setelah IMD kami diberitahu bahwa kau lahir dengan berat 3 kg dan panjang 49cm, beda sedikit dengan kakakmu -Tsaqif- yang lahir 3,1 kg dan panjang 52cm. Tidak apa. Itu bagus. Periksa organ tubuh oke. Ummi terus mengucap syukur.

Bidan Iis, (koordinator) bidan yag menangani kelahiranmu ternyata menerapkan 'lotus birth' yaitu penundaan pemotongan tali pusar. Memang dalam praktiknya, hal ini masih mengandung kontroversi. Karena sebelumnya Ummi sudah banyak baca dan cukup setuju, Ummi membolehkan lotus birth untukmu. Tetapi, kami tidak menunda hingga pusarmu copot sendiri. Hanya 10 jam saja : dari 06:00 s.d. 16:00, sesaat sebelum kita pulang ke rumah.



Huff...
Muhammad Zhafran Adaby, semoga kau menjadi anak yang beruntung dan berakhlak baik. Beruntung karena bisa menjalani hari-hari kehidupanmu lebih baik dari waktu ke waktu. Menjadi anak yang sholih dan sehat. Allaahumma aamiin.

Barokallaah atas setahun usiamu, nak :*

~
Tulisan itu harusnya diposting pada setahun usia Zhafran. Sayang emaknya 
lupa, hehe..



Saat ini hampir jelang 2 tahun kebersamaan kita. Masya Allah... Makin banyak polahnya. Yang khas adalah tangisnya : khas sinetron, berirama ha ha... Tidak seperti mas Tsaqif yang mudah dibujuk kalo menangis, Zhafran lebih kekeuh. Bicara sampe sekarang masih babling seputaran 'yaaa' 'maaa' 'naaa' dengan beragam nada. Lebih suka ndorong-ndorong mobilan daripada dinaikin, xixi... Suka air very much! *main air maksudnya...-_-* itu sih, anak kecil pada suka kaliiii..hehe... Trus, apalagi yaa... Sudah bisa ikut gerakan dan ngerecokin ortunya sholat, tapi bagian sujud selalu saja khas: tengkurep he he.. Kalo lagi main kadang suka nyanyi-nyanyi sendiri gak jelas gitu, pas ketauan: nyengir xD Kadang kompak, lebih sering berantem sama mamasnya, tapi Zhafran lebih kuat psikisnya alias gak takut kalo ditakut-takutin mamas atau anak kecil seumuran, dia akan tetap bertahan malah dengan cool-nya, malah yang nggangguin yang nangis ha ha... Oia.. Zhafran lebih lama bisa lancar berjalan ketimbang Tsaqif, tetapi sebenarnya tanda mulai berjalan sama, hanya melancarkannya saja butuh waktu lama: Z baru lancar dan pede jalan sendiri ketika menginjak usia 15 bulan. Gpp ya dek... Jalani prosesmu sendiri :)

Zhafran akan dipanggil 'abang' aja. Untuk jaga-jaga kalo ntar punya adik lagi #halah #apasihhhh


Ide Permainan Anak (1)

Bergabung dengan grup sosial beranggotakan ibu-ibu memang mengasyikkan. Banyak hal yang bisa didiskusikan atau dibagikan. Misalnya pengalaman hamil, melahirkan, mengasuh anak, menangani anak ketika sakit, dan sebagainya. Atau berbagi resep masakan, tips perawatan wajah / tubuh, bahkan berjualan :)


Salah satu yang pernah saya dapatkan adalah ide permainan anaknya. Nih..saya copaskan :-D

Ide permainan bagi bayi & anak sesuai umur.. Silakan disimpan di notes/email bagi yg tertarik.. Takutnya tenggelam di tengah badai chat grup ini, hehe..

Ide permainan utk bayi: 
http://www.funathomewithkids.com/2013/09/the-ultimate-list-of-baby-play-ideas.html?m=1

Utk anak 1-2 tahun: http://www.learning4kids.net/category/1-2years/#

2-3 tahun: http://www.learning4kids.net/category/2-3years/

3-4 tahun: http://www.learning4kids.net/category/3-4years/

4-5 tahun: http://www.learning4kids.net/category/4-5years/

5 tahun ke atas: http://www.learning4kids.net/category/over-5-years/


Itu di atas cuma sedikit sih..hehe.. Berhubung saya sudah beberapa hari belum setor tulisan, jadi dibagi yang ada aja deh :b 
Lain kali disambung.... Caooooo...

Senin, 15 Juni 2015

Temu Semu

Aku sedang
Berdialog dengannya
Mungkin tidak langsung dan bahkan
Mungkin dia tidak tahu bahwa
Aku sedang berdialog dengannya
Ya
Dialog dua hati
Komunikasi yang tanpa saling. Saling tau atau saling menyadari
Obrolan yang bisu
Tapi seolah seakan akan benar bertukarpikiran satu sama lain
Perbincangan yang tidak tepat juga jika dikatakan semu
Karena hai
Ini sungguh benar ada
Aku di sini
Dia entah dimana, tapi kutahu, dekat-dekat sini juga

Kuamati ia lewat tetulisannya
Kujenguk ia lewat tutur-tuturnya
Kutelisik ia lewat jaring jemaring sentuhan ujung indra
Kucari keberadaannya lewat karya
Kupanggil ia dengan cinta nan mesra

Kadang kami tak sengaja berselisih 
Tak sengaja berpapas
Kuyakin ia pun sadar 
Sebagaimana kusadar tapi kubiar

Setelah itu pun
Kami masih asik berdiskusi
Walau tak berhadapan
Walau tak bertatapan
Walau tak bersatumeja
Seakan benar
Benar-benar seakan akan
Sedang bersama

Sabtu, 13 Juni 2015

Rindu Pantai (Panjang)

Membayang di pelupuk mata
Hamparan luas pantai memanjang
Kuhirup udara pelan pelan
Kuresapi desahan angin yang membelai 
Damainya sampai ke hati
Alangkah menenangkan
Memandang jauh ke arah lautan
Betapa kecil diri
Maha Besar Allah yang mencipta sungguh sempurna

Jumat, 12 Juni 2015

Kesan dalam Bis Malam

Saya ingin menceritakan kenangan kejadian saat baru saja naik Marita jurusan Cianjur-Kampung Rambutan tadi malam. Seorang bapak di barisan tengah langsung berdiri untuk menawarkan tempat duduk untuk saya yang masuk dari pintu  belakang. Karena ternyata masih ada kursi kosong di bagian  paling belakang, saya menolak tawaran bapak tersebut dan tersenyum seraya mengucapkan terimakasih.

Dalam hati,"Wah.. Di zaman yang penuh egoisme seperti saat ini, ternyata masih ada (banyak juga kali..) yang dengan refleks dan lapang dada memberikan hak duduknya kepada orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya." Saya terkesan dan bersyukur. Alhamdulillaah.. Bentangan harapan akan masyarakat yang lebih baik masih ada. Walau mungkin baranya tidak banyak, tetapi pada lingkup ruang dan waktu tertentu, rasanya lumayan cukup.
Hati saya kembali bermonolog,"Padahal beliau sudah tua. Juga tampak lelah dalam sekilas pandang. Malah beliau memang pantas mendapat bagian duduk daripada kamu, Nel. Berdiri di bis kecil ini di sepanjang jalan tol Ciawi-Rambutan mah masih kuatlah. Tadi kan di ruang pertemuan, duduk terus. Itung-itung ganti posisi he he.." Saya jadi memperhatikan bapak itu. Kebetulan sepertinya supir lupa memadamkan lampu dalam bis, jadi saya masih bisa mengamati. Ya sengaja gak sengaja juga sih, kan sesekali sambil ngetik ini catatan :b Masya Allah, mulut beliau komat kamit, dugaan saya sih beliau berdzikir.

Sampai  Citeureup, beliau turun. Habis cerita? He. Iya. Tapi hikmahnya masih terasa. Kembali, dalam kesempatan perjalanan kerja, saya mendapat banyak nasihat tak langsung dari orang-orang di sekitar saya, baik yang saya kenal maupun tidak.

Saya tidak bisa membalas kebaikan bapak itu saat ini. Kalo ditanya," "kira-kira masih ingat gak mukanya?" Pasti saya jawab,"Nggak :b" Saya yakin, Allah yang akan memberikan balasan kebaikan kepada beliau. Mungkin lewat orang lain, mungkin bukan tertuju pada beliau langsung -bisa jadi malah 'bertuah' pada keluarganya; anak atau istrinya- Wallahu a'lam.

Demikian juga halnya dengan kemudahan atau kebahagiaan yang kita rasakan saat ini. Bisa jadi ini bukan karena kita 'beruntung'. Siapa tahu ini berkah dari kebaikan orang tua kita. Atau karena amal-amal kecil yang kita anggap remeh  seperti memberi receh pada peminta-minta, berbagi makanan dengan teman yang lapar, dan sebagainya. He he. Yang jangan sampai dilupa pastinya, itu adalah karunia dari Allah. Jangan lupa bersyukur, mengucap Alhamdulillaah.

Keburukan, katanya menular. Sama juga dengan kebaikan. Ia menular. Itu salah satu sebab mengapa kita disarankan menjaga hubungan baik dengan teman yang sholih. Harapannya, kita tertular baik dan sholih. Baru melihat atau mendengar kabar kebaikan saja kita sudah turut senang. Apalagi jika benar-benar merasakan.
Saya jadi teringat film yang berjudul PAY IT FORWARD. Intinya, mengangkat kisah seorang anak yang mempunyai ide untuk menduplikasi kebaikan dengan cara mengajak masyarakat melakukan suatu gerakan : jika mendapat kebaikan dari seseorang, maka balaskan kebaikan tersebut dengan berbuat baik juga kepada orang lain. Ternyata ide itu berdampak besar. Misalnya, bullying yang marak terjadi di sekolah berkurang, kesenjangan hubungan sosial di lingkungannya beranjak menipis, dan sebagainya.


Saya pun bertekad, akan meneruskan kebaikan bapak tadi kepada orang lain yang saya temui. Semoga, itu tidak hanya bertahan instan :)


::kalo bisa tanpa judul, ini gak saya kasih judul deh.. 

Kamis, 11 Juni 2015

DUKA ANGELINE (?)

Hati siapa yang tidak turut berduka menyimak cerita kronologis mengenai kematian Angeline. Saya sendiri sebenarnya, awalnya tidak terlalu tertarik dengan berita yang sedang hangat dibicarakan itu. Tepatnya kemarin, saya melihat link berita mengenai Angeline. Itu pun masih belum terlalu tertarik untuk meng-klik. Sampai pada judul 'Angeline ditemukan terkubur di bawah kandang ayam rumahnya', saya akhirnya tergugah untuk membuka dan membaca isi berita pada link internet tersebut.

Sungguh mengenaskan, menyedihkan, menyeramkan, prihatin, dan perih membayangkan apa yang harus dihadapi Angeline semasa ia hidup. Yang menurut orang-orang sekitarnya dalam berita tersebut, Angeline sering diperlakukan kasar, tidak diberikan makanan dan dunia bermain yang layak bagi anak seusianya, di'pekerja'kan paksa untuk rutin memelihara ternak ibu angkatnya, dan sebagainya. Bocah delapan tahun itu -harusnya- masih patut mendapatkan belaian kasih sayang penuh dari orang tua dan anggota keluarga lainnya, walaupun bukan dalam hubungan sedarah-sekandung. Sambil menahan air mata, saya membayangkan masa sulit, tangis dan ketabahan Angeline kecil menikmati hidupnya. Ya Allah..

Setiba di rumah malam tadi, dalam tayangan berita di berbagai stasiun televisi, ternyata juga banyak yang membahas mengenai kasus Angeline. Saya ingat, saat saya bersama dua orang teman -entah kok tiba-tiba- membicarakan Angeline dan ketika seusai maghrib, seorang teman berkata,"Itu lho dua menteri sampai datang langsung ke rumahnya Angeline" dan saya menanggapi dengan,"Lebay banget..giliran kasus kayak gini.masa sampai dua menteri turun tangan langsung.. Pake kunjungan resmi? Kayak kita gak tau aja gimana ribetnya ngurus hal kayak gitu, mesti. Riweuh deh..". "Pencitraan juga kali", teman lainnya turut menanggapi. "Hm.. Padahal kan kasus kayak begitu dari dulu juga udah ada, dan mungkin banyak terjadi di luar daerah lain... Masalah anak-anak ditelantarkan, dianiaya, disiksa, dipaksa kerja, dilecehkan... Kenapa pas kasus Angeline langsung turun ke TKP. Setau sy Menteri Pemberdayaan Perempuan ya uang ke sana?", saya melanjutkan dengan emosi sambil bersungut-sungut. "iya, menteri itu, yang satunya lagi siapa ya Nel, duh lupa saya.. Menteri apa ya?" "Ya gak tau....."

Tanggapan itu, kemudian saya sesali. Setelah saya kemudian gugling dan membaca beberapa info terkait, memang terdapat isi berita yang menyatakan bahwa ada dua menteri yang sidak langsung ke rumah Angeline, ia.itu: menteri.pemberdayaan perempuan dan menteri badan kepegawaian negara. Tetapi....mereka langsung sidak itu karena memang kebetulan sedang ada kegiatan di Bali. Hiks...nyesel gueh..udah ngomong yang nggak-nggak tentang mereka. MAKANYA cari tau baik-baik suatu informasi sebelum emosi negatif terlanjur menguasai *tears*

Balik lagi ke kasus Angeline.. Ya, mungkin di luar sana memang ada banyak kasus serupa atau sejenis. Walau itu juga saya pribadi kan gak punya data valid *hammer* *hammer*. Yang mengherankan memang mengapa selalu ada saja? Ya kaliii.. Bumi ini luas. Penduduknya berada di lokasi yang berbeda. Tiap manusia diberikan potensi menjadi baik dan jahat. Sunnatullah-nya begitu. Kan udah tau, sepanjang ada terang, ada juga kegelapan. Jado, wajar saja kalau banyak kasus yang sama di wilayah yang berbeda. Belum lagi jika dikaitkan dengan pelaporan, penyelidikan, dan penanganan masalah dari pihak yang berwenang. Tidak semua kasus bisa ditangani atau bahkan tidak semua kasus diketahui. Kemampuan dan sumberdayanya terbatas. Untuk saat ini, itu sih mungkin salah dua alasannya.

Nah, dengan menyimak kasus Angeline ini, kita diingatkan akan beberapa hal, diantaranya:
1.       Pentingnya kasih sayang orang tua, keluarga dan masyarakat sekitar dalam perkembangan psikologi dan fisik anak. Angeline sering lesu dan tidak bersemangat saat berada di sekolah. Mungkin karena kelelahan karena pekerjaan rumah dan harus berjalan jauh dari rumah ke sekolahnya. Kalo dari foto-foto Angeline yang beredar di dunia maya, ia terlihat bahagia. Kita tidak tahu sejak kapan Angeline mendapat perlakuan tidak mengenakkan. Hasil otopsi juga sudah dirilis : bahwa Angeline mengalami kekerasan fisik diantaranya dijerat lehernya, dipukul kepalanya, disundut rokok dan dilecehkan. Geram dengan orang tua atau ‘orang sekitar terduga yang terlibat’ wajar saja. Tetapi, tidak baik juga jika kita ikut-ikutan menjudge mereka sebelum jelas putusan di pengadilan atau sebelum jelas semua masalahnya.

2.       Pentingnya hubungan bertetangga. Bukan hanya sekedar tau nama, tetapi juga berkenalan baik tentang sifat, sikap, kebiasaan, dan hal lainnya. Kita semua tahu bahwa hal tersebut jelas menjadi penting, karena bagaimanapun juga, tetangga adalah orang terdekat kita, secara jarak fisik paling tidak. Kemudian, hubungan yang baik antar tetangga juga akan membawa dampak positif diantaranya tidak segan menasihati. Kita paham tabiat tetangga kita, dan it menjadi paham untuk memilih kapan waktu yang tepat untuk memberi nasihat atau sekedar  menanyakan sesuatu hal yang penting. Tidak cuek saja melihat tetangganya bermasalah. Dalam kasus Angeline, dikabarkan bahwa tetangganya sering mendengar makian atau mendapati Angeline 'terluka'. Mungkin mereka pernah menegur, tapi mundur karena balik dimarahi yang ditegur. Atau mereka terhalang tembok dan pintu besar sehingga enggan respon dengan hal yang pribadi –urusan rumah tangga-

3.       Perlunya pembinaan sosial tentang kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat secara berkala. Rasa-rasanya kok memang sudah banyak kearifan lokal seperti rembug desa, pertemuan berkala di kelurahan, ngider ke tetangga, atau sejenisnya yang pudar, sukses dilibas budaya loe loe gue gue, individualis. Saya sendiri mungkin termasuk yang mulai tergerus menjadi individual (hiks!). Pagi kerja, sore pulang, sudah lelah kalo mau keliling-keliling. Paling, sembari sebentar menemani anak-anak bermain di luar rumah bertemu dan bertukar sapa dengan anak-anak lain atau ibu-ibu/bapak-bapak yang kebetulan lewat. Selang beberapa rumah memang ada basecamp ibu-ibu yang kebanyakan sih mengisi aktivitas dengan ber-go-sip. Kok tau? Yak arena beberapa kali ke sana ya memang begitu. Tambah capek deeeeh… Akhirnya lebih banyak di dalam rumah saja. Ada sih arisan RT, yang itu pun hanya diikuti segelintir ibu-ibu yang ya itu itu lagi. Sepengamatan saya, yang tidak pernah ikutan kegiatan RT, ya tidak ikut juga kegiatan apapun yang diadakan RT atau undangan personal dalam rangka semisal syukuran atau pengajian. Eh jadi curhat…’berarti kamu perlu dibina juga, Nel’ Tapi eh tapi sebenarnya gak alasan juga yaaa… pembinaan kan bisa beragam bentuknya. Tidak harus diadakan lingkup RT atau RW, tapi bisa lewat event yang diadakan suatu lembaga, melihat tayangan televise yang relevan, dan sebagainya. Hanya saja, rasanya akan berbeda sih… Di dalam keluarga sendiri, perlu jadwal internal yang ya diatur/disepakati sendiri oleh keluarga tersebut untuk mempererat dan menambah kecintaan antar anggota keluarga, misal dengan menggiatkan shalat berjama’ah (jika tidak memungkinkan di semua waktu, paling tidak di waktu yang semua anggota keluarga bisa berkumpul misalnya waktu maghrib/isya), tilawah bersama, membahas suatu masalah dan mencari solusi bersama dalam suasana santai, dan sebagainya. Anak-anak akan terbiasa diajak berdiskusi dan mengikuti alur untuk berpikir menyelesaikan masalah. Selain itu juga menyenangkan karena semua anggota keluarga terlibat.

Apa lagi hayo…

Duka Angeline adalah duka kita. Kita yang tidak merasakan langsung apa yang dialami Angeline saja, sudah demikian ngeri. Apalagi Angeline? Duka Angeline adalah juga duka anak-anak di luar sana yang juga mungkin ada yang merasakan kesedihan akan kepayahan dan ujian berat dalam hidupnya yang belum lama.

Banyak yang berpendapat bahwa seorang anak yang memiliki pengalaman buruk semasa kecil, akan berkembang menjadi anak yang tidak baik atau semacam itu. Tetapi, menurut saya, dalam usia belia mereka, masih ada kesempatan untuk menjadi baik, tergantung pada ketahanan, keteguhan, kemauan, dan kekuatan si anak sendiri. Ada juga kok, yang masa kecil kurang bahagia tetapi ketika dewasa menjadi orang yang baik, sukses, dan penyayang. Dia mampu melalui ujian dalam hidupnya dengan baik, tidak menuruti dan meneruskan energi negatif yang biasa dia rasakan,  dan sabar dalam menghadapi ujian selanjutnya.

Saya berharap, kasus Angeline ini dapat terkuak dengan terang, para orang tua beserta masyarakat umum dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini, dan anak-anak dapat menikmati masa mudanya dengan ceria.


Akhir yang gak nyambung….ya sudahlah..he he…


::semoga saya bisa menjadi orang tua yang tidak durhaka kepada anak-anak saya, menjadi istri yang ikhlas bagi suami saya, menjadi anak yang berbakti kepada orang tua saya. *sambil memeluk Tsaqif dan Zhafran*