nellysapta

nellysapta
kering berseri (rimbo pengadang-lebong-bengkulu 2014)

Senin, 15 Juni 2015

Temu Semu

Aku sedang
Berdialog dengannya
Mungkin tidak langsung dan bahkan
Mungkin dia tidak tahu bahwa
Aku sedang berdialog dengannya
Ya
Dialog dua hati
Komunikasi yang tanpa saling. Saling tau atau saling menyadari
Obrolan yang bisu
Tapi seolah seakan akan benar bertukarpikiran satu sama lain
Perbincangan yang tidak tepat juga jika dikatakan semu
Karena hai
Ini sungguh benar ada
Aku di sini
Dia entah dimana, tapi kutahu, dekat-dekat sini juga

Kuamati ia lewat tetulisannya
Kujenguk ia lewat tutur-tuturnya
Kutelisik ia lewat jaring jemaring sentuhan ujung indra
Kucari keberadaannya lewat karya
Kupanggil ia dengan cinta nan mesra

Kadang kami tak sengaja berselisih 
Tak sengaja berpapas
Kuyakin ia pun sadar 
Sebagaimana kusadar tapi kubiar

Setelah itu pun
Kami masih asik berdiskusi
Walau tak berhadapan
Walau tak bertatapan
Walau tak bersatumeja
Seakan benar
Benar-benar seakan akan
Sedang bersama

Sabtu, 13 Juni 2015

Rindu Pantai (Panjang)

Membayang di pelupuk mata
Hamparan luas pantai memanjang
Kuhirup udara pelan pelan
Kuresapi desahan angin yang membelai 
Damainya sampai ke hati
Alangkah menenangkan
Memandang jauh ke arah lautan
Betapa kecil diri
Maha Besar Allah yang mencipta sungguh sempurna

Jumat, 12 Juni 2015

Kesan dalam Bis Malam

Saya ingin menceritakan kenangan kejadian saat baru saja naik Marita jurusan Cianjur-Kampung Rambutan tadi malam. Seorang bapak di barisan tengah langsung berdiri untuk menawarkan tempat duduk untuk saya yang masuk dari pintu  belakang. Karena ternyata masih ada kursi kosong di bagian  paling belakang, saya menolak tawaran bapak tersebut dan tersenyum seraya mengucapkan terimakasih.

Dalam hati,"Wah.. Di zaman yang penuh egoisme seperti saat ini, ternyata masih ada (banyak juga kali..) yang dengan refleks dan lapang dada memberikan hak duduknya kepada orang lain yang sama sekali tidak dikenalnya." Saya terkesan dan bersyukur. Alhamdulillaah.. Bentangan harapan akan masyarakat yang lebih baik masih ada. Walau mungkin baranya tidak banyak, tetapi pada lingkup ruang dan waktu tertentu, rasanya lumayan cukup.
Hati saya kembali bermonolog,"Padahal beliau sudah tua. Juga tampak lelah dalam sekilas pandang. Malah beliau memang pantas mendapat bagian duduk daripada kamu, Nel. Berdiri di bis kecil ini di sepanjang jalan tol Ciawi-Rambutan mah masih kuatlah. Tadi kan di ruang pertemuan, duduk terus. Itung-itung ganti posisi he he.." Saya jadi memperhatikan bapak itu. Kebetulan sepertinya supir lupa memadamkan lampu dalam bis, jadi saya masih bisa mengamati. Ya sengaja gak sengaja juga sih, kan sesekali sambil ngetik ini catatan :b Masya Allah, mulut beliau komat kamit, dugaan saya sih beliau berdzikir.

Sampai  Citeureup, beliau turun. Habis cerita? He. Iya. Tapi hikmahnya masih terasa. Kembali, dalam kesempatan perjalanan kerja, saya mendapat banyak nasihat tak langsung dari orang-orang di sekitar saya, baik yang saya kenal maupun tidak.

Saya tidak bisa membalas kebaikan bapak itu saat ini. Kalo ditanya," "kira-kira masih ingat gak mukanya?" Pasti saya jawab,"Nggak :b" Saya yakin, Allah yang akan memberikan balasan kebaikan kepada beliau. Mungkin lewat orang lain, mungkin bukan tertuju pada beliau langsung -bisa jadi malah 'bertuah' pada keluarganya; anak atau istrinya- Wallahu a'lam.

Demikian juga halnya dengan kemudahan atau kebahagiaan yang kita rasakan saat ini. Bisa jadi ini bukan karena kita 'beruntung'. Siapa tahu ini berkah dari kebaikan orang tua kita. Atau karena amal-amal kecil yang kita anggap remeh  seperti memberi receh pada peminta-minta, berbagi makanan dengan teman yang lapar, dan sebagainya. He he. Yang jangan sampai dilupa pastinya, itu adalah karunia dari Allah. Jangan lupa bersyukur, mengucap Alhamdulillaah.

Keburukan, katanya menular. Sama juga dengan kebaikan. Ia menular. Itu salah satu sebab mengapa kita disarankan menjaga hubungan baik dengan teman yang sholih. Harapannya, kita tertular baik dan sholih. Baru melihat atau mendengar kabar kebaikan saja kita sudah turut senang. Apalagi jika benar-benar merasakan.
Saya jadi teringat film yang berjudul PAY IT FORWARD. Intinya, mengangkat kisah seorang anak yang mempunyai ide untuk menduplikasi kebaikan dengan cara mengajak masyarakat melakukan suatu gerakan : jika mendapat kebaikan dari seseorang, maka balaskan kebaikan tersebut dengan berbuat baik juga kepada orang lain. Ternyata ide itu berdampak besar. Misalnya, bullying yang marak terjadi di sekolah berkurang, kesenjangan hubungan sosial di lingkungannya beranjak menipis, dan sebagainya.


Saya pun bertekad, akan meneruskan kebaikan bapak tadi kepada orang lain yang saya temui. Semoga, itu tidak hanya bertahan instan :)


::kalo bisa tanpa judul, ini gak saya kasih judul deh.. 

Kamis, 11 Juni 2015

DUKA ANGELINE (?)

Hati siapa yang tidak turut berduka menyimak cerita kronologis mengenai kematian Angeline. Saya sendiri sebenarnya, awalnya tidak terlalu tertarik dengan berita yang sedang hangat dibicarakan itu. Tepatnya kemarin, saya melihat link berita mengenai Angeline. Itu pun masih belum terlalu tertarik untuk meng-klik. Sampai pada judul 'Angeline ditemukan terkubur di bawah kandang ayam rumahnya', saya akhirnya tergugah untuk membuka dan membaca isi berita pada link internet tersebut.

Sungguh mengenaskan, menyedihkan, menyeramkan, prihatin, dan perih membayangkan apa yang harus dihadapi Angeline semasa ia hidup. Yang menurut orang-orang sekitarnya dalam berita tersebut, Angeline sering diperlakukan kasar, tidak diberikan makanan dan dunia bermain yang layak bagi anak seusianya, di'pekerja'kan paksa untuk rutin memelihara ternak ibu angkatnya, dan sebagainya. Bocah delapan tahun itu -harusnya- masih patut mendapatkan belaian kasih sayang penuh dari orang tua dan anggota keluarga lainnya, walaupun bukan dalam hubungan sedarah-sekandung. Sambil menahan air mata, saya membayangkan masa sulit, tangis dan ketabahan Angeline kecil menikmati hidupnya. Ya Allah..

Setiba di rumah malam tadi, dalam tayangan berita di berbagai stasiun televisi, ternyata juga banyak yang membahas mengenai kasus Angeline. Saya ingat, saat saya bersama dua orang teman -entah kok tiba-tiba- membicarakan Angeline dan ketika seusai maghrib, seorang teman berkata,"Itu lho dua menteri sampai datang langsung ke rumahnya Angeline" dan saya menanggapi dengan,"Lebay banget..giliran kasus kayak gini.masa sampai dua menteri turun tangan langsung.. Pake kunjungan resmi? Kayak kita gak tau aja gimana ribetnya ngurus hal kayak gitu, mesti. Riweuh deh..". "Pencitraan juga kali", teman lainnya turut menanggapi. "Hm.. Padahal kan kasus kayak begitu dari dulu juga udah ada, dan mungkin banyak terjadi di luar daerah lain... Masalah anak-anak ditelantarkan, dianiaya, disiksa, dipaksa kerja, dilecehkan... Kenapa pas kasus Angeline langsung turun ke TKP. Setau sy Menteri Pemberdayaan Perempuan ya uang ke sana?", saya melanjutkan dengan emosi sambil bersungut-sungut. "iya, menteri itu, yang satunya lagi siapa ya Nel, duh lupa saya.. Menteri apa ya?" "Ya gak tau....."

Tanggapan itu, kemudian saya sesali. Setelah saya kemudian gugling dan membaca beberapa info terkait, memang terdapat isi berita yang menyatakan bahwa ada dua menteri yang sidak langsung ke rumah Angeline, ia.itu: menteri.pemberdayaan perempuan dan menteri badan kepegawaian negara. Tetapi....mereka langsung sidak itu karena memang kebetulan sedang ada kegiatan di Bali. Hiks...nyesel gueh..udah ngomong yang nggak-nggak tentang mereka. MAKANYA cari tau baik-baik suatu informasi sebelum emosi negatif terlanjur menguasai *tears*

Balik lagi ke kasus Angeline.. Ya, mungkin di luar sana memang ada banyak kasus serupa atau sejenis. Walau itu juga saya pribadi kan gak punya data valid *hammer* *hammer*. Yang mengherankan memang mengapa selalu ada saja? Ya kaliii.. Bumi ini luas. Penduduknya berada di lokasi yang berbeda. Tiap manusia diberikan potensi menjadi baik dan jahat. Sunnatullah-nya begitu. Kan udah tau, sepanjang ada terang, ada juga kegelapan. Jado, wajar saja kalau banyak kasus yang sama di wilayah yang berbeda. Belum lagi jika dikaitkan dengan pelaporan, penyelidikan, dan penanganan masalah dari pihak yang berwenang. Tidak semua kasus bisa ditangani atau bahkan tidak semua kasus diketahui. Kemampuan dan sumberdayanya terbatas. Untuk saat ini, itu sih mungkin salah dua alasannya.

Nah, dengan menyimak kasus Angeline ini, kita diingatkan akan beberapa hal, diantaranya:
1.       Pentingnya kasih sayang orang tua, keluarga dan masyarakat sekitar dalam perkembangan psikologi dan fisik anak. Angeline sering lesu dan tidak bersemangat saat berada di sekolah. Mungkin karena kelelahan karena pekerjaan rumah dan harus berjalan jauh dari rumah ke sekolahnya. Kalo dari foto-foto Angeline yang beredar di dunia maya, ia terlihat bahagia. Kita tidak tahu sejak kapan Angeline mendapat perlakuan tidak mengenakkan. Hasil otopsi juga sudah dirilis : bahwa Angeline mengalami kekerasan fisik diantaranya dijerat lehernya, dipukul kepalanya, disundut rokok dan dilecehkan. Geram dengan orang tua atau ‘orang sekitar terduga yang terlibat’ wajar saja. Tetapi, tidak baik juga jika kita ikut-ikutan menjudge mereka sebelum jelas putusan di pengadilan atau sebelum jelas semua masalahnya.

2.       Pentingnya hubungan bertetangga. Bukan hanya sekedar tau nama, tetapi juga berkenalan baik tentang sifat, sikap, kebiasaan, dan hal lainnya. Kita semua tahu bahwa hal tersebut jelas menjadi penting, karena bagaimanapun juga, tetangga adalah orang terdekat kita, secara jarak fisik paling tidak. Kemudian, hubungan yang baik antar tetangga juga akan membawa dampak positif diantaranya tidak segan menasihati. Kita paham tabiat tetangga kita, dan it menjadi paham untuk memilih kapan waktu yang tepat untuk memberi nasihat atau sekedar  menanyakan sesuatu hal yang penting. Tidak cuek saja melihat tetangganya bermasalah. Dalam kasus Angeline, dikabarkan bahwa tetangganya sering mendengar makian atau mendapati Angeline 'terluka'. Mungkin mereka pernah menegur, tapi mundur karena balik dimarahi yang ditegur. Atau mereka terhalang tembok dan pintu besar sehingga enggan respon dengan hal yang pribadi –urusan rumah tangga-

3.       Perlunya pembinaan sosial tentang kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat secara berkala. Rasa-rasanya kok memang sudah banyak kearifan lokal seperti rembug desa, pertemuan berkala di kelurahan, ngider ke tetangga, atau sejenisnya yang pudar, sukses dilibas budaya loe loe gue gue, individualis. Saya sendiri mungkin termasuk yang mulai tergerus menjadi individual (hiks!). Pagi kerja, sore pulang, sudah lelah kalo mau keliling-keliling. Paling, sembari sebentar menemani anak-anak bermain di luar rumah bertemu dan bertukar sapa dengan anak-anak lain atau ibu-ibu/bapak-bapak yang kebetulan lewat. Selang beberapa rumah memang ada basecamp ibu-ibu yang kebanyakan sih mengisi aktivitas dengan ber-go-sip. Kok tau? Yak arena beberapa kali ke sana ya memang begitu. Tambah capek deeeeh… Akhirnya lebih banyak di dalam rumah saja. Ada sih arisan RT, yang itu pun hanya diikuti segelintir ibu-ibu yang ya itu itu lagi. Sepengamatan saya, yang tidak pernah ikutan kegiatan RT, ya tidak ikut juga kegiatan apapun yang diadakan RT atau undangan personal dalam rangka semisal syukuran atau pengajian. Eh jadi curhat…’berarti kamu perlu dibina juga, Nel’ Tapi eh tapi sebenarnya gak alasan juga yaaa… pembinaan kan bisa beragam bentuknya. Tidak harus diadakan lingkup RT atau RW, tapi bisa lewat event yang diadakan suatu lembaga, melihat tayangan televise yang relevan, dan sebagainya. Hanya saja, rasanya akan berbeda sih… Di dalam keluarga sendiri, perlu jadwal internal yang ya diatur/disepakati sendiri oleh keluarga tersebut untuk mempererat dan menambah kecintaan antar anggota keluarga, misal dengan menggiatkan shalat berjama’ah (jika tidak memungkinkan di semua waktu, paling tidak di waktu yang semua anggota keluarga bisa berkumpul misalnya waktu maghrib/isya), tilawah bersama, membahas suatu masalah dan mencari solusi bersama dalam suasana santai, dan sebagainya. Anak-anak akan terbiasa diajak berdiskusi dan mengikuti alur untuk berpikir menyelesaikan masalah. Selain itu juga menyenangkan karena semua anggota keluarga terlibat.

Apa lagi hayo…

Duka Angeline adalah duka kita. Kita yang tidak merasakan langsung apa yang dialami Angeline saja, sudah demikian ngeri. Apalagi Angeline? Duka Angeline adalah juga duka anak-anak di luar sana yang juga mungkin ada yang merasakan kesedihan akan kepayahan dan ujian berat dalam hidupnya yang belum lama.

Banyak yang berpendapat bahwa seorang anak yang memiliki pengalaman buruk semasa kecil, akan berkembang menjadi anak yang tidak baik atau semacam itu. Tetapi, menurut saya, dalam usia belia mereka, masih ada kesempatan untuk menjadi baik, tergantung pada ketahanan, keteguhan, kemauan, dan kekuatan si anak sendiri. Ada juga kok, yang masa kecil kurang bahagia tetapi ketika dewasa menjadi orang yang baik, sukses, dan penyayang. Dia mampu melalui ujian dalam hidupnya dengan baik, tidak menuruti dan meneruskan energi negatif yang biasa dia rasakan,  dan sabar dalam menghadapi ujian selanjutnya.

Saya berharap, kasus Angeline ini dapat terkuak dengan terang, para orang tua beserta masyarakat umum dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini, dan anak-anak dapat menikmati masa mudanya dengan ceria.


Akhir yang gak nyambung….ya sudahlah..he he…


::semoga saya bisa menjadi orang tua yang tidak durhaka kepada anak-anak saya, menjadi istri yang ikhlas bagi suami saya, menjadi anak yang berbakti kepada orang tua saya. *sambil memeluk Tsaqif dan Zhafran*

Rabu, 10 Juni 2015

Hikmah dari Penjaja Jasa Payung

"Pak..pak..numpang ya..", permintaan segerombolan anak kecil yang sebelumnya melambai-lambaikan tangan untuk memberi kode kepada supir angkot jurusan kampung rambutan itu kemudian dijawab dengan anggukan dan senyum oleh sang supir. Naiklah mereka dengan riang. Untungnya dalam cuaca hujan begini, jumlah penumpang di angkot ini hanya sedikit -tiga orang, termasuk saya-, sehingga gerombolan anak kecil yang ternyata berjumlah 4 orang itu masih bisa masuk tanpa mengganggu kami. Dua dari mereka memang masuk, tetapi dua lainnya naik di pintu masuk dan berpegangan pada bagian atas pintu angkot saja. 

Hujan masih lebat. Tapi, sayang tidak lama kemudian (bahkan tidak sampai semenit!) hujan mereda. Lho? Sang supir kemudian berkata kepada anak-anak tadi -yang sudah basah kuyup walau membawa payung-,"Udah reda nih.. Pulang aja sana.. Aaa...telat nih datangnya.. Berhenti di sini aja ya biar gak kejauhan kalian jalan pulang." Dengan tetap saja gembira, empat anak yang semuanya lelaki itu mengangguk dan manut, lalu turun dari angkot. "Wah..telat ya kita.. Kapan-kapan lagi deh......" Sekilas saya dengar celotehan mereka. Hm.. Sedari tadi saya memang jadi memperhatikan mereka sambil tersenyum :)

Ya ya... Di terminal, perempatan, wilayah perkantoran, pasar tradisional, di lokasi yang ramai orang meneduh karena hujan, atau berbagai tempat yang ramai lainnya, kita sering menjumpai anak-anak maupun remaja yang menawarkan jasa payung. Sudah pernah memakai jasa mereka belum? Saya pernah, sekali. Seingat saya waktu itu di swalayan kemudian hujan lebat sedangkan sudah harus pulang. Karena jarak dari depan swalayan menuju angkutan umum cukup jauh, kebetulan ada anak lelaki yang menawarkan jasa payung, ditambah pula saya 'lagi baik' (hohoo....biasa aja kali..) maka saya mengiyakan. Selagi berjalan, saya tanya,"Berapa dek?". Dia menjawab sambil menggigil kedinginan,"Tiga ribu bu" (dek dan bu? what the....harusnya manggil kakak deeeek.. Wkwk..) Cukup wajarlah menurut saya. 

Dibanding dengan pengorbanan mereka menahan dingin dengan kondisi baju dan badan yang basah total. Siapa yang tau kalau setelah berusaha menawarkan jasa payung tadi, mereka kemudian terkena gejala flu, atau bahkan demam? Siapa yang tau kemudian bagaimana kondisi mereka setelah itu? 


Memang penjaja jasa payung itu mempunyai motivasi berbeda. Tapi, yang jelas, mereka senang dengan uamg bayarannya :) Mungkin saja mereka seperti itu karena alasan bermain sambil 'bekerja', memanfaatkan situasi, mendapatkan upah sambil menolong orang lain, atau alasan lainnya yang kita tidak tau -dan tidak perlu tau juga kali ya, yang penting tidak mengganggu dan kita juga tertolong, cmiiw-

Ketika masih kecil, imut, lucu, dan menggemaskan #cateet #halah #dezigh!, saya juga sangat suka bermain di luar rumah saat hujan: lari-larian, main bendungan, main tanah, main kincir air, atau sekedar mandi di bawah pancuran rumah. Sering sampai ujung jari-jari tangan saya berkerut karena kelamaan main air :b 
Asik sekali!

Hujan menciptakan momen bagi mereka, terutama anak-anak penawar jasa payung yang sepengamatan saya, tidak ada yang tidak senang dengan hujan, he he. Bagi mereka, hujan membawa 'berkah' tersendiri. Sambil meluapkan emosi muda mereka yang haus akan bermain, mereka seperti malah dibayar untuk menikmati itu. Mereka harus benar-benar memanfaatkan waktu saat hujan turun. Tidak jarang, juga membuat strategi agar -dengan waktu yang unpredictable kapan akan berhenti- jasa mereka bisa diterima. 

Disadari atau tidak, anak-anak dengan kisaran usia lima tahun sampai remaja itu juga berlatih dan diasah untuk berpolitik dalam menghadapi hidupnya di masa depan. Ya, berpolitik dalam artian mengatur strategi, menyusun rencana, dan menyiapkan langkah-langkah untuk mencapai tujuannya di tengah ketidakpastian dan tidak adanya jaminan akan rentang waktu yang diberikan. 

Adalah kita juga serupa mereka
Penjaja jasa payung saat hujan 
Kita sama harusnya
Dalam memanfaatkan kesempatan, mengisinya agar berguna lagi menggembirakan

Selasa, 09 Juni 2015

Klakson

Kijang satu kijang satu
Kode panggilan si kawan lama
Jangan ragu hai jangan ragu
Gunakan klakson pada saatnya
Maksudlah kita memberitahu
Agar sama tidak celaka

--

Saya termasuk penyuka klakson, maksudnya suka meng-klakson orang lain ketika mengendarai motor. Hehe. Saat hampir 'bersenggolan', saat pengendara lain menyerobot asal atau mendadak dari kiri, saat hendak mendahului, atau sekedar mengingatkan pengendara lain tentang posisi saya -bahwa saya ada d belakang mereka, hendak mendahului, dll- Bagi sebagian orang, itu biasa saja. Tapi, ternyata ada juga sebagian lain yang kurang menyukai aktivitas klakson mengklakson. Kenapa?

Kata mereka, itu mengganggu, gak sopan, keliatan gak sabaran, khawatir salah sangka sehingga memancing perselisihan/pertengkaran. Ya, tentu saja akan mengganggu kalo kita membunyikan klakson tanpa sebab yang jelas, panjang, sambil marah-marah pula. Deuh!

Bagi saya, klakson itu penting. Menggunakan klakson juga penting.  Saya malah tidak suka dengan pengendara yang ujug-ujug selonongboi mendahului, dari kiri pulak! Gimana kalo saya gak ngeh lantas langsung belok kiri atau karena tiba-tiba mendahului dengan kecepatan tinggi, saya kaget lantas hilang keseimbangan. Saya juga yang rugi! -_-'

Intinya sih, menurut saya, gunakanlah klakson sesuai sebab yang jelas menggugah kita untuk memencetnya. Jangan asal klakson dan jangan juga sampai tidak mau menggunakannya sama sekali. Tergantung situasi dan kondisi. Iya gak sih?

Dalam hubungan dengan sesama manusia, klakson ini bisa dianalogikan dengan 'teguran'. Semacam 'warning' atau bentuk perhatian orang lain terhadap kita. Kita perlu menegur atau ditegur orang jika melakukan penyelewengan. Entah itu dengan cara yang kasar atau halus. 

Kenyataannya, memang tidak semua orang mau ditegur. Tetapi, jika kita melakukannya dengan cara yang baik di saat yang tepat, in sya Allah tidak masalah. Kalaupun marah, mungkin saja itu hanya sesaat dan setelahnya malah membuat orang tersebut berpikir; atau marah lalu menutupi malunya dengan melawan; bisa jadi kan? Ah, anggap saja begitu :b

Jadi, jangan ragu untuk menggunakan klakson. Klakson baik-baik yaaa... ^.^

Senin, 08 Juni 2015

Pilih: Sesal Mengenang atau Mengenang Sesal

Tidak adakah dirimu 
Yang selalu membesarkan hatiku
Mengingatkan aku pada keindahan
Membuatku kagum dalam diam
Mencipta debardebar harapan
Mengenangkan masa kebersamaan 

Tidak adakah dirimu
Yang nyata adanya
Yang benar tanpa cela (owh!)
Yang tersenyum penuh arti senantiasa
Yang membuatku mencinta
Yang memaksa keluar bulir-bulir haru
Yang mendesakku untuk menyunggingkan garis bibir termanis 

Sungguh,
Aku rindu akan dirimu
Sangat rindu
Rindu sekali 

Namun, apa daya
Saat ini yang mampu kulakukan hanya
Menatap lamat
Mengintip sesekali
Menyimak perjalanan
Menyesal? 

Andai tiada andai
Andai tak ada tidak ada
Andai kita bisa bersama 

::ditulis dengan kerinduan yang sangat menyesakkan, hingga ia menjelmakata-kata. Inilah. -


---Apa yang bisa ditangkap dari bait-bait puisi di atas?
Sebenarnya, itu ditulis saat saya memposisikan diri sebagai  seorang kawan yang mengalami kegalauan akan perasaannya. Saya tidak tahu persis apa yang sedang dialaminya. Beliau sedang teringat masa lalu sebelum menikah dan –entah karena suatu sebab- saat ini dia sedang ingin saja mengenang masa saat dia menyukai seseorang yang menurutnya sangat baik dan sempurna (di matanya). Yang saya tangkap, ada semacam benih-benih penyesalan. Mengapa dia harus mengalami pernikahan yang –ternyata- banyak tersandung masalah, sering terjadi cekcok dengan pasangan maupun keluarganya, belum merasa bisa klop dengan pasangan, dan lain-lain. 

Huff, gimana ya...Poin no body’s perfect, adalah suatu keniscayaan yang harus disadari penuh oleh dua manusia yang akan bersatu dalam pernikahan, apalagi jika pernikahan itu tidak melalui proses perkenalan yang panjang, lama, dan detil. eh gak juga ding, yang proses perkenalan pra nikahnya panjang-lama-detil, juga harus menyadari :p Kenapa? Ya karena tidak ada manusia yang sempurna, betul? 

Kenangan akan masa lalu dan perhatian kita akan perkembangan teman-teman yang mungkin kita anggap lebih beruntung dari kita, akan membuat kita merasa ‘salah jalan’ / ‘salah pilih’ / ‘salah apalah apalah’, jika kita tidak bersyukur. Kuncinya adalah saling menerima dan saling memperbaiki. 

Tanpa saling, memang akan terasa berat. Jika saat ini kita belum menemukan pola komunikasi yang pas, teruslah mencari cara agar komunikasi kita dengan pasangan dan keluarga bisa menghasilkan solusi dan meminimkan salah paham. Jika saat ini kita masih berat melepaskan kebiasaan lama yang memberatkan pasangan atau membuatnya tidak suka, teruslah berusaha untuk memperbaiki. Jika saat ini masih sering berantem karena urusan sepele, teruslah mencoba untuk meredam emosi, menenangkan diri, berpikir jernih, dan memilih sikap terbaik agar tidak saling melukai. dan seterusnya, masih banyak yang bisa dijalani bersama, dievaluasi bersama. In sya Allah, akan selalu ada jalan keluar. KECUALI, jika kita masih terus menjebakkan diri dalam angan masa lalu dan penyesalan melulu. 

Memperlakukan kenangan dengan baik, bukankah itu seharusnya menguatkan? Memotivasi?Misalnya saja, kenangan akan masa kecil yang penuh keterbatasan, sering kesulitan ketika memenuhi keinginan, sering diganggu, atau katakanlah masa suram lain, maka seharusnya menjadi alasan kuat untuk terus berjuang memperbaiki keadaan, menjadi tidak minder karena memang harus menghadapi pilihan pahit –mau tidak mau-, atau menjadi penyayang kepada yang senasib. Tapi, akan berbeda jika kemudian memilih untuk malah berbuat jahat, membalas yang dulu pernah mengganggu, atau ikut-ikutan menyulitkan orang lain agar ikut berpengalaman merasakan kepedihannya dulu. Eh, gak pas ya contohnya, he he...

Okelah, atau contoh lainnya, kenangan akan orang yang baik, dampak positifnya untuk saat ini adalah mendorong kita untuk menjadi ikutan baik. Mengenang kawan yang baik hati, suka menolong, rajin berkarya, dan lain-lain, seharusnya kan mendorong kita untuk ikutan menjadi baik hati, suka menolong , rajin berkarya, dan lain-lain. Sebagaimana seorang atheis yang pernah bertanya, ‘mengapa muslim harus berdzikir, memuliakan Tuhannya, bukankah Tuhannya sudah mulia?’ Secara psikologis, manusia akan mengikuti yang di’puja’nya, yang di’mulia’kannya. Walaupun mungkin dalam kenyataannya belum menyamai atau masih ‘malas-malasan’. 


Kenang-kenang
Jika itu berguna
Jangan mengenang
Jika itu memanjangkan angan saja 

Kenyataan saat ini bersama siapa
Itulah kondisi terbaik yang harus kita syukuri dengan lapang dada
Manusia memang banyak ingin dan tempatnya alpa
Oleh karenanya, saling genggam tangan dan beriring meniti bahtera