Hiburan itu adalah dengan menertawakan diri sendiri. Semua pengalaman memberi bekas tersendiri. Tidak ada salahnya dituliskan kembali dan menjadi sejarah untuk sewaktu-waktu ditilik lagi. Menjadi istri, ibu, dan anak adalah sebuah anugerah dari Allah yang Maha Pemurah. Tulis tulis tulis!
nellysapta
kering berseri (rimbo pengadang-lebong-bengkulu 2014)
Minggu, 20 Maret 2016
Anak Main? Oke!
Kamis, 17 Maret 2016
Simpan Kafan
Senin, 07 Desember 2015
sekedarenung
perjalanan yang tidak berjeda
lagi-lagi-lagi
meninggalkan kesayangan
berpisah sejenak
untuk bertemu kembali setelah usai menyelesaikan urusan
yang sebenarnya mudah
tapi ternyata labirin
pagi buta atau jelang malam
disambangi
mau saja
penatnya tuh di sini
:tengkuk
bahagianya tuh ada saja
kesalnya juga ada : tapi tidak perlu dirisaukan panjangpanjang
ceritanya lebar
jadi tau beberapa hal
tidak banyak
karena sebagian besar hanya keluh
manusia manusia...
syukurnya jangan dihentikan
senyumnya jangan dihilangkan
hikmahnya jangan dicampakkan
kerjanya jangan malasmalasan
kelam
puing. nguing.
berpadu riuh
tapi merupa irama yang asa teduh
-argojati 17:15/19:58-
Kamis, 19 November 2015
Keberanian, memang milik kalian, Palestina!
Betapa kami sangat terlena kehidupan dunia. Terlena kehidupan sementara di dunia, tepat di tempat kami berpijak saat ini, di bumi bagian Indonesia. Negeri yang konon katanya kaya raya, berlimpah sumber daya alam, penuh orang-orang ramah, punya banyak daerah wisata, dan...sudah bebas dari perang.
Oh ya?
Apakah kita tidak menyadari, bahwa justru saat ini kita sedang berhadapan dengan lawan perang yang sesungguhnya. Diri kita sendiri! Perang dengan pemikiran kita yang mudah terbawa giringan berita. Perang dengan kemalasan diri kita sendiri untuk tidak lalai belajar, belajar mengenai bekal akhirat dan dunia. Perang melawan rasa takut kita sendiri untuk keluar dari ruang nyaman. Perang melawan perasaan ingin melupakan rasa sakit dan penderitaan yang tidak ingin kita rasakan sebagaimana orang lain -atau katakanlah orang-orang yang bangsanya sedang ditimpa bencana perang fisik-. Ngeri? Ngeri bukan?
Saat ini, saudara-saudara muslim maupun masyarakat umum di Palestina, Syiria, Irak, Bangladesh, Burma, Rohingya, sudah jelas kita ketahui sedang disiksa penjajahnya. Belum lagi saudara kita yang lain dimanapun berada, yang juga mengalami kondisi menyedihkan: kelaparan, kegalauan ekonomi, ditelantarkan, kepayahan, dan sebagainya. Oke, tidak jauh-jauh...bagaimana dengan tetangga kita? Sudahkah kita senang kenyang, tapi mengabaikan tetangga yang kelaparan, kerepotan?
Saya,
Tertegun melihat orasi anak perempuan ini.
Tidak ada nada gentar dalam kalimatnya. Hanya satu: yakin. Begitu percaya diri.
Jika seusia belia itu saja bisa mengerti kondisi bangsanya saat ini, bagaimana dengan kita yang sudah lebih dulu dilahirkan? Yang sudah dibentangkan banyak kesempatan untuk mencari tau dan membantu. Gentar. Ya gentar, tidak seperti mereka. Apa perlu kita langsung ke Palestina untuk merasakan diperangi, baru benar yakin tentang berita Palestina?
Itu baru satu kondisi. Jika mau, banyak video lain. Dan tentu saja itu bukan settingan.
Ya Allah,
Sesungguhnya kamilah yang patut mengasihani diri kami sendiri. Atas semua ketidakacuhan pada saudara sesama muslim yang sedang disiksa dikepung sedemikian hingga dihadapkan pada kesedihan yang bertubi-tubi. Keimanan mereka sungguh teruji. Berbeda dengan kami, yang baru tidak dibayar semestinya saja sudah mencak-mencak merasa mendapat upah yang tidak layak padahal sudah bekerja dengan sangat baik (padahal itu uga penilaian subjektif).
Sesungguhnya kamilah yang patut berbahagia dapat belajar dengan nyaman. Dapat mengaji dengan sepuasnya : guru ada, akses informasi mudah, alat pendukung ada, lingkungan segar dan sebagainya. Tapi nyatanya, justru kami yang kalah jauh dari mereka yang sedang dalam masa sulit. Kami sungguh benar-benar terlena.
Palestina, keberanian memang milik kalian.
Duhai Allah, semoga muslim dimanapun berada, yang terpaksa harus merasakan dampak dikucilkan, diremehkan, dilecehkan atau sejenisnya, bisa bersabar atas semua yang terjadi dan tetap bisa menjaga akhlaknya. Hanya pada-Mu lah kami berdo'a dan memohon ampun. Engkaulah sebaik-baik penjaga dan penentu segalanya.
Minggu, 18 Oktober 2015
Menang Tak Jadi Mulia, Kalah Tak Jadi Hina
Kita berbaik sangka, mereka semua, baik pemain utama dan kru beserta penonton dkk yang muslim, tidak meninggalkan kewajiban shalat lima waktu. Semoga mereka tetap dimudahkan menjalankan kewajiban itu dan tidak terlena dengan keriangan permainan. Jika saat ramai-ramai itu justru menjadikan pembenaran 'tidak shalat lima waktu', itulah sejatinya definisi hina sebenarnya.
Jumat, 16 Oktober 2015
[InfoLomba] LOMBA CIPTA CERPEN DAN PUISI FESTIVAL SASTRA ISLAM NASIONAL 2015
[meneruskan informasi]
Sebagai salah satu rangkaian Festival Sastra Islam Nasional (FSIN) 2015, Forum Lingkar Pena menyelenggarakan Lomba Cipta Cerpen dan Puisi dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:
Syarat:
1. Peserta adalah warga negara Indonesia dan memiliki kartu identitas (KTP/KTM/SIM/Kartu Pelajar atau Pasport Indonesia).
2. Peserta hanya boleh mengirimkan satu karya cerpen atau puisi dengan ketentuan:
a. Tema: Bebas (tidak menyinggung unsur SARA).
b. Peserta mengirim naskah melalui email dengan subyek LOMBA CERPEN/ PUISI FSIN 2015 ke: flp.fsin2015@gmail.com dengan dilampiri dua file. Satu file berisi cerpen atau puisi yang dilombakan (tanpa mencantumkan nama penulis dalam tulisan cerpen atau puisi) dan satu file formulir peserta*. Serta hasil scan kartu identitas dan foto diri yang jelas.
c. Cerpen atau puisi yang dilombakan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya, baik di media cetak maupun portal dan blog pribadi.
d. Cerpen atau puisi tidak sedang diikutkan dalam perlombaan yang sama.
e. Cerpen atau puisi adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan sebagian atau seluruhnya.
f. Cerpen atau puisi diketik dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, pada kertas A4 dengan spasi 1,5 margin 3 cm dari atas, 4 cm dari kiri, 3 cm dari bawah, 3 cm dari kanan, dengan jumlah minimal 5 halaman dan maksimal 10 halaman (cerpen), maksimal 1 halaman (puisi) .
3. Batas akhir pengiriman naskah adalah tanggal 30 November 2015 pukul 23.59 WITA.
Hadiah:
Cerpen terbaik 1 akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 3.000.000,- + sertifikat + paket buku
Cerpen terbaik 2 akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 2.000.000,- + sertifikat + paket buku
Cerpen terbaik 3 akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 1.000.000,- + sertifikat + paket buku
Puisi terbaik 1 akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 3.000.000,- + sertifikat + paket buku
Puisi terbaik 2 akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 2.000.000,- + sertifikat + paket buku
Puisi terbaik 3 akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp. 1.000.000,- + sertifikat + paket buku
Pengumuman:
Pemenang lomba penulisan cerpen akan diumumkan pada 12 Desember 2015 atau pada saat penutupan Festival Sastra Islam Nasional 2015 di Makassar dan www.festivalsastraislamnasional.com
*Formulir bisa didownload di website http://festivalsastraislamnasional.com/lomba-cipta-cerpen-dan-puisi-fsin-2015/
Narahubung:
SMS/WA: 0852 4040 6631 (Ismi)
Sumber :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=907932602634068&substory_index=0&id=505921112835221
Rabu, 14 Oktober 2015
Terima dan Jaga Fitrah Anak
Pada syukuran di rumah baru rekan lingkaran cinta saya di KDW, kami berkesempatan mendengarkan pemaparan salah satu praktisi konseling anak dan remaja. Ibu Neneng namanya. Dalam usia yang masih tergolong muda dan produktif, 35 tahun, pengalaman beliau dalam menangani anak dan remaja sudah cukup luas. Walaupun mungkin kiprahnya tidak terlalu dikenal atau menjadi selebritis parenting di dunia maya.
Salah satu hal yang beliau sampaikan adalah mengenai fitrah anak.
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah sholallaahu 'alaihi wasallam telah bersabda:
مَا مِنْ مَوُلُودٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟
“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian?melihat darinya buntung (pada telinga?)
Bagaimana menurut kita, apakah yang disebut fitrah itu?
Sebagian besar kita mungkin menyatakan bahwa fitrah itu selayaknya : kertas putih. Anak yang baru lahir itu masih suci bagai kertas putih. Benar tidak?
Padahal manusia yang baru dilahirkan pun, sudah membawa bekal dari Allah. Bekal pengetahuan dan potensi dalam dirinya. Bagaimana kita menjelaskan, mengenai anak menangis ketika bar dilahirkan? Atau bagaimana si anak mengetahui cara menyusu? Bagaimana anak bisa merasa tidak nyaman? Bukankah hal itu menunjukkan bahwa mereka sebenarnya sudah dibekali pengetahuan dasar awal untuk hidup? Lantas mengapa banyak yang sepakat dengan pernyataan anak itu bagai kertas putih?
Yang bisa diibaratkan kertas putih itu adalah robot. Dia memang dari awal tidak tau apa-apa, dan siap diprogram sesuai kemauan programernya. Lha anak? Ternyata mereka kan punya kecenderungan, punya kesukaan, punya kebebasan untuk memilih yang ia sukai, dan sebagainya.
Fitrah anak, jika suatu waktu, ia merasa jengkel akan sesuatu hal atau kejadian yang dialaminya. Sikap kita sebagai orang tua yang pastinya lebih dulu lahir ke dunia ini adalah...menerimanya. Menerima kekesalan mereka dan membiarkan mereka sejenak melampiaskan kekesalannya. Sebaiknya, jangan langsung di-cut, diarahkan ke lain hal sesuai kemauan kita atau kepada sesuatu yang kita anggap benar. Biarkan dulu mereka mengeluarkan unegnya. Tentu kita temani juga dengan sikap °ya, kami sedang mendengarkanmu°.
Seringkali yang terjadi adalah, orang tua tidak membiarkan anak-anak untk melepas energi negatif yang sedang terjadi dalam dirinya. Sering, para orang tua memotong emosi mereka dan mulai banyak mrenasihati, seolah hal itu adalah solusi jitu untuk mengatasi masalah. Padahal, belum tau benar apa duduk masalahnya. Anak-anak mungkin saja menurut opada nasihat orang tuanya, tetapi jiwanya masih tetap kelam dan tidak mengerti akan sikap yang tepat jika kelak dihadapkan kembali pada masalah yang sama. Jiwanya tetap rapuh.
Alangkah baiknya, jika anak sudah mengeluarkan resah yang ia rasakan, barulah kita jaga fitrahnya. Fitrah kebaikan. Jangan lupa untuk mengusap mereka, anak-anak itu. Ketika emosi mereka mereda, barulah kita gali akar masalah sebenarnya. Kita posisikan diri sebagai fasilitator yang bukan menentukan jawaban. Tapi, 'mengejar' anak dengan pertanyaan retoris. Karena adakalanya, sering malah, anak-aak hanya perlu diarahkan pada solusi.
Tulisan ini masih abstrak sekali. Mungkin kita (saya) bisa langsung praktik ^^
Hal terpenting pula adalah, kita memang harus stok sabar dan tahan emosi sekuat mungkin. Pembentukan karakter dan akhlak yang baik itu bukan perkara mudah tidak juga sulit, bukan sebentar tapi bisa jadi juga tidak perlu lama-lama. Kita perlu terus mengembangkan metode yang pas, dengan pendekatan psikologi yang tepat; sesuai sasaran.
Ingat, bahwa anak telah membawa fitrah kebaikan dalam dirinya. Potensi baik atau buruk, itu harus tetap kita arahkan kepada akhlak mulia melalui pembiasaan sehari-haru, sejak dini. Sedini mungkin.
