“Ilfeel sama si A, gayanya kayak bener aj. Padahal cuma omdo!“
“Ah, si B mah cuma bisa ngomong, kelakuan ma omongan beda!”
“Si C tu pinter banget nasihatin orang lain. Ngasi taushiyah ini itu, tapi kayaknya dia gak ngamalin yang dia nasihatin tuh.... Dia aja masih ini itu eeehh mbilangin kita ini itu.... bla bla bla”
“Ah, si B mah cuma bisa ngomong, kelakuan ma omongan beda!”
“Si C tu pinter banget nasihatin orang lain. Ngasi taushiyah ini itu, tapi kayaknya dia gak ngamalin yang dia nasihatin tuh.... Dia aja masih ini itu eeehh mbilangin kita ini itu.... bla bla bla”
“Gak usah ngingetin orang
deh kalo ‘ndirinya aj belum bener. Huh!”
“Tuh, kemakan omongan
sendiri kan...”
*
-Enak bener yak
marah-marah :B
+Bukan marah, Sebel!
Kesel!
-Iye. Keliatan kok dari
tanda seru kamu. Banyak amat. Tiap abis ngomong, pake tanda seruuu..xixi
*
Yayaya, mungkin kita
termasuk yang suka/pernah sebel sama temen atau seseorang yang jago banget
nasihatin orang lain, ceramah, nge-sms atau nyampein taushiyah atau sejenisnya,tapi dirasa-rasa menurut kita belum ‘sempurna’
alias tercela omongannya karena tampilannya yang tidak sesuai dengan apa yang
ia sampaikan. Manusiawi. Tapi kurang bijak juga jika kita lantas menjadi orang
yang jago ngedumel, jago men-judge,
jago menghakimi beliau (temen atau seseorang tadi, red).
Sebagai manusia,
tempatnya salah dan lupa, dimana kesalahan dan kelupaan itu sering datang
berulang, MENGINGATKAN atau DIINGATKAN tentang kesalahan atau kelupaan tersebut
adalah sesuatu yang baik. Meniadakan maksud terselubung di balik nasihat
tersebut, seharusnya kita berbahagia karena ada yang bersedia cuma-cuma
mengingatkan kita. Lepas dari yang mengingatkan itu adalah orang baik atau
tidak (menurut kita), tetap saja, nasihat itu layak kita apresiasi.
**
Saya teringat sebuah
peringatan yang satu ini:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu
mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah
bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Terjemah Q.S. Ash Shaff [61] : 2-3)
Berikut ini, saya
mengutip dari [AA GYM, Makna Nasihat dalam Ramadhan bersama MQ]:
Cobalah kita pahami benar makna ayat
tersebut. Adanya ayat ini tidak berarti timbulnya larangan untuk saling
menasihati, tetapi Allah sangat mencela perbuatan seseorang yang tidak
melakukan sesuatu yang ia nasihatkan pada orang lain. Dia mengajak orang lain
untuk tawadhu atau rendah hati, tetapi pada kenyataannya dia sendiri berlaku
sombong. Adalah
kemurkaan Allah baginya karena kesombongannya dan dia tidaklah berdosa karena
nasihat-nasihat yang dia sampaikan pada orang lain. Dia akan
mendapat murka Allah karena dia mengajak tawadhu, sementara dia sendiri
sombong; dia mengajak untuk bersedekah sedangkan dia sendiri seorang bakhil;
dia mengajak untuk berlapang dada dalam menghadapi segala masalah, sedangkan
dia sendiri mudah naik darah dan meluapkan amarah, dan sebagainya. Intinya,
orang yang menasihatkan sesuatu pada orang lain sedang dirinya tidak
mengerjakannya maka tidaklah berdosa atas nasihatnya.
Nasihat yang baik yang boleh kita sampaikan
adalah nasihat yang benar, mengandung muatan positif dan tentunya penuh makna
dan manfaat bagi semua orang yaitu mengajak pada kebajikan dan menjauhi
kemungkaran dan melarang untuk mengerjakan kebajikan. Sebagai catatan, apapun yang kita
sampaikan jika itu benar, alangkah baiknya jika cara menyampaikan pun benar.
***
Nah,clear semua. Ya?
Idealnya memang kebaikan
yang kita sampaikan itu sebanding dengan tindakan kita yang baik. Tapi, jangan
sampai dengan alasan “Saya aja belum bener, ngapain ngingetin orang lain”, kita
menjadi orang yang pelit menasihati. Ada sesuatu yang jelas-jelas salah, kita
diamkan saja. Kita tidak tahu kapan seseorang itu meresapkan nasihat yang kita
berikan. Mungkin ketika sehabis dinasihati, akan marah, kesal, atau reaksi
negatif lain. Siapa yang tahu, sewaktu-waktu di masa depan, ia teringat nasihat
kita dan berubah pikiran menjadi lebih baik.
****
Ada beberapa hal yang
mungkin kritis untuk kita cermati, diantaranya:
-
waktu
menasihati à perhatikan waktu
yang tepat untuk kita menasihati seseorang.
-
frekuensi
menasihati à nasihat yang
terlalu sering, mungkin dapat membosankan atau tidak membekas. *tapi, saya
sendiri sih hayu-hayu aja keseringan juga. saya ikut beberapa sms centre yang
membagikan sms taushiyah gratis harian. Alhamdulillaah tidak bosan J*
-
isi nasihat àsebaiknya tidak ngasal, tulus, dan solutif.
lagi-lagi mungkin ini subjektif sekali: versi kita banget. lebih oke lagi kalo
kita yang menasihati juga tidak menutup telinga juga jika nasihat kita nanti
dikoreksi. berbesar hati.
-
media
menasihati à mungkin tidak
melulu harus via kita langsung. bisa lewat teman yang lain, surat, sms, suatu
kegiatan, dan sebagainya. kreatif aja *halah*
-
.....
(direnungi lagi apa lagi titik kritis dalam menasihati)
*****
Dalam menasihati atau
memberi peringatan, satu hal yang penting lainnya adalah SALING. Tidak melulu
menerima atau sebaliknya, tidak melulu memberi.
Semoga Allah memampukan kita untuk saling
menyampaikan nasihat, minimal pada diri sendiri. Wallahu a’lam.
Udah ah. Yuk, praktikin ;D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar