nellysapta

nellysapta
kering berseri (rimbo pengadang-lebong-bengkulu 2014)

Minggu, 09 September 2012

Nasihatin dan Dinasihatin


Ilfeel sama si A, gayanya kayak bener aj. Padahal cuma omdo!“
“Ah, si B mah cuma bisa ngomong, kelakuan ma omongan beda!”
“Si C tu pinter banget nasihatin orang lain. Ngasi taushiyah ini itu, tapi kayaknya dia gak ngamalin yang dia nasihatin tuh.... Dia aja masih ini itu eeehh mbilangin kita ini itu.... bla bla bla”
“Gak usah ngingetin orang deh kalo ‘ndirinya aj belum bener. Huh!”
“Tuh, kemakan omongan sendiri kan...”
*
-Enak bener yak marah-marah :B
+Bukan marah, Sebel! Kesel!
-Iye. Keliatan kok dari tanda seru kamu. Banyak amat. Tiap abis ngomong, pake tanda seruuu..xixi
*
Yayaya, mungkin kita termasuk yang suka/pernah sebel sama temen atau seseorang yang jago banget nasihatin orang lain, ceramah, nge-sms atau nyampein taushiyah atau sejenisnya,tapi dirasa-rasa menurut kita belum ‘sempurna’ alias tercela omongannya karena tampilannya yang tidak sesuai dengan apa yang ia sampaikan. Manusiawi. Tapi kurang bijak juga jika kita lantas menjadi orang yang jago ngedumel, jago men-judge, jago menghakimi beliau (temen atau seseorang tadi, red).
Sebagai manusia, tempatnya salah dan lupa, dimana kesalahan dan kelupaan itu sering datang berulang, MENGINGATKAN atau DIINGATKAN tentang kesalahan atau kelupaan tersebut adalah sesuatu yang baik. Meniadakan maksud terselubung di balik nasihat tersebut, seharusnya kita berbahagia karena ada yang bersedia cuma-cuma mengingatkan kita. Lepas dari yang mengingatkan itu adalah orang baik atau tidak (menurut kita), tetap saja, nasihat itu layak kita apresiasi.
**
Saya teringat sebuah peringatan yang satu ini:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Terjemah Q.S. Ash Shaff [61] : 2-3)
Berikut ini, saya mengutip dari [AA GYM, Makna Nasihat dalam Ramadhan bersama MQ]:
Cobalah kita pahami benar makna ayat tersebut. Adanya ayat ini tidak berarti timbulnya larangan untuk saling menasihati, tetapi Allah sangat mencela perbuatan seseorang yang tidak melakukan sesuatu yang ia nasihatkan pada orang lain. Dia mengajak orang lain untuk tawadhu atau rendah hati, tetapi pada kenyataannya dia sendiri berlaku sombong. Adalah kemurkaan Allah baginya karena kesombongannya dan dia tidaklah berdosa karena nasihat-nasihat yang dia sampaikan pada orang lain. Dia akan mendapat murka Allah karena dia mengajak tawadhu, sementara dia sendiri sombong; dia mengajak untuk bersedekah sedangkan dia sendiri seorang bakhil; dia mengajak untuk berlapang dada dalam menghadapi segala masalah, sedangkan dia sendiri mudah naik darah dan meluapkan amarah, dan sebagainya. Intinya, orang yang menasihatkan sesuatu pada orang lain sedang dirinya tidak mengerjakannya maka tidaklah berdosa atas nasihatnya.
Nasihat yang baik yang boleh kita sampaikan adalah nasihat yang benar, mengandung muatan positif dan tentunya penuh makna dan manfaat bagi semua orang yaitu mengajak pada kebajikan dan menjauhi kemungkaran dan melarang untuk mengerjakan kebajikan. Sebagai catatan, apapun yang kita sampaikan jika itu benar, alangkah baiknya jika cara menyampaikan pun benar.
***
Nah,clear semua. Ya?
Idealnya memang kebaikan yang kita sampaikan itu sebanding dengan tindakan kita yang baik. Tapi, jangan sampai dengan alasan “Saya aja belum bener, ngapain ngingetin orang lain”, kita menjadi orang yang pelit menasihati. Ada sesuatu yang jelas-jelas salah, kita diamkan saja. Kita tidak tahu kapan seseorang itu meresapkan nasihat yang kita berikan. Mungkin ketika sehabis dinasihati, akan marah, kesal, atau reaksi negatif lain. Siapa yang tahu, sewaktu-waktu di masa depan, ia teringat nasihat kita dan berubah pikiran menjadi lebih baik.
****
Ada beberapa hal yang mungkin kritis untuk kita cermati, diantaranya:
-          waktu menasihati à perhatikan waktu yang tepat untuk kita menasihati seseorang.
-          frekuensi menasihati à nasihat yang terlalu sering, mungkin dapat membosankan atau tidak membekas. *tapi, saya sendiri sih hayu-hayu aja keseringan juga. saya ikut beberapa sms centre yang membagikan sms taushiyah gratis harian. Alhamdulillaah tidak bosan J*
-          isi nasihat àsebaiknya tidak ngasal, tulus, dan solutif. lagi-lagi mungkin ini subjektif sekali: versi kita banget. lebih oke lagi kalo kita yang menasihati juga tidak menutup telinga juga jika nasihat kita nanti dikoreksi. berbesar hati.
-          media menasihati à mungkin tidak melulu harus via kita langsung. bisa lewat teman yang lain, surat, sms, suatu kegiatan, dan sebagainya. kreatif aja *halah*
-          ..... (direnungi lagi apa lagi titik kritis dalam menasihati)
*****
Dalam menasihati atau memberi peringatan, satu hal yang penting lainnya adalah SALING. Tidak melulu menerima atau sebaliknya, tidak melulu memberi.
Semoga Allah memampukan kita untuk saling menyampaikan nasihat, minimal pada diri sendiri. Wallahu a’lam. 

Udah ah. Yuk, praktikin ;D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar